TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #16

16. KETAHUAN

Beila berjalan santai menuju kamarnya. Bibirnya tak henti-hentinya mengulas senyuman karena habis bersama Royan. Entah mengapa dunianya terasa jauh lebih indah ketika ia bersama dengan Royan. Padahal mereka hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol dan duduk berdampingan saja. Tapi setiap detiknya terasa lebih berharga dan menyenangkan. Apapun yang ia dan Royan lakukan dan bicarakan akan tersemat selalu di hati dan pikirannya.

"Beila, dari mana saja kamu?"

Beila membulatkan matanya terkejut. Ia langsung berbalik badan, mendapati sosok ibunya dengan raut wajah yang serius dan tatapan yang tajam. Beila memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum, kendati jantungnya berdebar tak karuan.

"A-aku habis mengawasi pekerja di tempat penyulingan air, Bu. Aku juga berkunjung ke tempat pembuatan kain," sahut Beila.

"Kamu berani berbohong pada ibumu?" tanya Juharia dengan tatapan menghunus.

Beila merasakan lidahnya sangat kelu untuk menjawab pertanyaan ibunya. Tiba-tiba kakaknya, Beinor, datang membawa segumpalan kain dan menghempaskannya di lantai. Melihat kain itu membuat Beila nyaris jatuh di lantai saking lemasnya kakinya. Kain yang kakaknya hempaskan itu adalah baju khas Suku Laringking yang baru saja ia pakai tadi untuk menemui Royan. Daripada kakaknya bisa mendapatkan baju itu?

"KAMU MEMAKAI PAKAIAN LARINGKING, BEILA!" teriak Juharia murka.

Beila langsung berlutut di hadapan ibunya sambil menangis. Kedua tangannya saling meremas gelisah. Ia bingung harus merespons ucapan ibunya seperti apa. Apa alasannya memakai pakaian itu dan apa yang ia lakukan setelahnya? Beila tak dapat mengatakan hal sebenarnya pada mereka.

"Pengawal pribadi Beila mengatakan bahwa Beila tak ingin ditemani dan menurut informasi orang sekitar yang melihatnya, Beila mengganti pakaiannya di rumah pohon. Parahnya lagi, Beila ke Wilayah Paran untuk menemui seorang pria Suku Laringking, Ibu," tutur Beinor dengan sangat tegas.

"APA?!" pekik Juharia. Wanita itu langsung berjongkok di hadapan putrinya, lalu mengangkat dagu Beila dengan kasar. Sontak saja membuat Beila menatap tatapan tajam penuh kemurkaan sang ibu. "Sekarang kamu jawab pertanyaan Ibu, Beila. Mengapa kau melakukan ini semua dan apa hubunganmu dengan pria Laringking itu!"

Beila menangis sesegukan menatap ibunya. Ia tak ingin menjawab dengan jujur, tapi tatapan ibunya bagai hendak mencongkel hatinya untuk mengetahui semuanya. Beila tak punya pilihan lagi. Mungkin jujur lebih baik daripada berbohong yang hanya akan membuat Royan dipanggil ke Walunggung.

"A-aku ... aku jat-jatuh cinta dengan pria Laringking. A-aku aku hanya ... aku hanya duduk berdua dengannya di pinggir pantai dan berbincang s-seru. Itu saja, Bu. Kami tak melakukan apapun yang--"

PLAK!

Lihat selengkapnya