Seperti biasa, usai selesia mengajar Royan meninggalkan wilayah Laringking menuju wilayah Paran untuk bertemu dengan Beila. Sambil berjalan-jalan di pinggir pantai, Royan menatap bunga yang ingin ia berikan pada gadis itu. Membayangkan wajah bahagia Beila yang polos membuat hati Royan sudah berbunga-bunga. Dirinya tak sabar ingin segera berjumpa. Namun, yang datang tak sesuai dengan harapannya. Dua orang pria beserta dengan pengawalnya menghampiri Royan dengan tampang serius. Jika dilihat dari pakaiannya, mereka berasal dari suku Walunggung yang memiliki kedudukan tinggi seperti Beila.
"Kamu yang bernama Royan?"
Royan mengangguk begitu mendapatkan pertanyaan dari pria tinggi besar dengan jambang tipis menghiasi wajahnya. Dialah Beinor.
"Benar, Mas. Saya Royan. Ada apa ya, Mas?"
Beinor dan Beisam mengernyitkan keningnya mendengar cara bicara Royan. Mereka yang sering keluar masuk ke benua Asia pun menyadari bahwa Royan adalah orang baru dari benua besar itu.
"Kamu orang baru di Laringking rupanya, tapi sudah berani mendekati adikku Beila?"
Royan melebarkan kedua matanya mendengar pertanyaan itu. Royan tak menyangka ia sedang berhadapan dengan kakaknya Beila. Ia benar-benar menyesak tidak kabur sebelum ditanya.
"S-saya ... saya cuma berteman dengan Beila. Waktu itu Beila menyelamatkan saya yang hanyut dibawa arus air dari Laringking ke Walunggung. Makanya kami—"
"Apapun alasan kalian bertemu, tak bisa menampik bahwa kalian sudah melanggar aturan kedua suku! Suku Laringking dan Suku Walunggung tak boleh menjalin hubungan asmara apapun bahkan hanya sebatas teman. Gara-gara keberadaanmu, adikku menjadi gadis yang pembangkang dan berani membohongi keluarganya. Gara-gara kehadiran dirimu juga Beila sekarang dikurung oleh ibu kami, kepala suku. Jadi sebelum keributan terjadi, sebaiknya kau berhenti mengganggu adik kami!" tegas Beinor dengan tatapan tajamnya.