TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #18

18. PENYEBARAN MISI

Fatma mendatangi orang-orang yang ia percaya untuk ia tawari bekerja sama. Orang-orang itu memiliki kehendak yang sama yakni melarikan diri dari Pulau Parantua. Fatma juga menceritakan tentang Yudan yang masih hidup di pulau ini. Mendengar hal tersebut, teman-teman Yudan di Suku Walunggung sangat marah. Mereka pun setuju dengan mantap ingin melakukan apapun tugas dari Fatma. 

Fatma yang memakai pakaian khas Suku Walunggung bergegas pergi dari wilayah tersebut. Fatma naik ke atas rumah pohon tempat Beila mengganti pakaian. Begitu ia turun, dirinya sudah memakai pakaian khas Laringking. Buru-buru Fatma kembali ke wilayah Paran untuk menemui Royan yang menunggu di ujung pantai.

"Gimana, Mbak?"

Fatma duduk di samping Royan dengan tampang yang terlihat lebih bahagia. "Ada beberapa orang dari Suku Walunggung yang sepakat untuk membantu kita. Juga di Suku Laringking. Kamu tinggal berikan mereka tugas."

Royan mengeluarkan beberapa lembar kertas dari saku bajunya. "Saya sudah buat daftar tugas buat mereka, Mbak. Saya juga membagi titik keberadaan mereka saat hari pelaksanaan. Cuma saya meraba-raba saja soal denah Walunggung. Jadi Mbak tolong koreksi ya kalau salah."

Fatma menerima kertas itu dari tangan Royan. "Baik. Nanti saya koreksi jika ada salah. Kamu urus saja rangkaian misi kamu di wilayah Laringking. Biar saya yang mengurus wilayah Walunggung. Kita berpisah sekarang, ya."

"Oke, Mbak. Saya mau duduk sebentar di sini sambil nyari inspirasi soal ide yang lain. Saya berpikir harus ada plan alternatif jikalau terjadi sesuatu yang tak terduga nantinya," kata Royan.

"Baiklah. Saya pergi dulu," ucap Fatma berpamitan.

Tinggalah Royan sendirian menatap hamparan laut di depannya. Lalu beralih menatap pulau yang sekarang ia pijak. Semua bayangan tentang pertama kali ia menginjakkan kaki di pulau ini, melakukan ritual penyambutan, menjadi guru, hingga bertemu dengan Beila. Royan mengingat kenangan segar itu dengan perasaan yang bercampur aduk.

"Hari ini pulau Parantua mungkin berjalan seperti biasanya. Tapi esok atau esoknya lagi mungkin pulau ini hanyalah tinggal nama, bahkan menjadi sejarah baru tentang pulau terpencil yang sangat fenomenal. Mungkin juga tempat ini akan menjadi tempat wisata di kemudian hari. Gue nggak peduli itu. Gue cuma ingin menjadikan kisah cinta gue dan Beila menjadi sorotan yang indah jikalau nanti menjadi bagian dari sejarah Parantua," monolog Royan.

Di sisi lain, Fatma sedang menuju perbatasan antara Suku Walunggung dan Suku Laringking, membawa sebakul tanaman obat. Ini adalah sebuah rutinitas tiap bulannya Suku Laringking melakukan barter pada Suku Walunggung. Sebagai gantinya, Suku Walunggung akan memberikan sebotol madu yang katanya sangat baik untuk imunisasi anak-anak.

Kedatangan Fatma ke perbatasan itu tak membuat mereka bereaksi apa-apa, walau Fatma melangkah masuk ke wilayah Walunggung. Para penjaga perbatasan pun tak menolak kehadiran Fatma, sebab hal tersebut memang suka diberikan izin oleh kepala suku masing-masing. Biasanya Fatma akan mengantar tanaman obat itu ke tempat pengawas harian suku tersebut. Berupa sebuah kantor kecil yang setiap harinya menerima laporan dari pada warga Walunggung. Nantinya semua yang tertampung di kantor itu, akan disalurkan langung je istana. Termasuk tanaman obat yang dibawa oleh Fatma.

Lihat selengkapnya