Beila menatap ke arah luar dari balik jendela yang terpagar kawat besi yang berbentuk bunga. Binar matanya redup, bibirnya melengkung ke bawah, rambutnya sedikit berantakan tak terurus. Hati yang merindu, kini rapuh nyaris tak dapat tersentuh. Begitu mudah air mata itu mengalir, membasahi pipi yang bulat, dan jatuh dari dagunya yang simetris. Setiap mengingat wajah tampan Royan membuat bara rindu itu semakin besar di hatinya. Ia menatap kedua telapak tangannya yang putih. Kedua tangan itu pernah diganggam oleh Royan di pinggir pantai, lalu pria itu mengecupnya.
'Jika cintaku berwujud, maka Pulau Parantua hanya serpihannya saja. Jika cintaku bisa dicicipi, maka rasanya akan kau ingat selama ribuan tahun.'
Seolah-olah kata-kata itu baru saja ia dengar. Beila tersenyum lebar sambil memegangi letak jantungnya yang berdebar.
"Bahkan dengan mengingatnya saja, membuat jantungku amat berdebar. Seperti debur ombak bersatu dengan badai. Keadaan hatiku tak dapat terkendali. Aku akan mencintainya, lalu mencintainya lagi. Tak ada cela untuk membenci, tak ada waktu untuk melupakan. Aku akan mencintanya dan mencintainya lagi."
Beila tiba-tiba melihat seorang anak kecil yang ada di bawah sana sedang melambaikan tangan padanya. Anak kecil itu bernama Yari—anak dari pengawal kepala suku Walunggung.
"Apa yang kamu lakukan di bawah, Yari?!" tanya Beila dengan cukup nyaring.
Yari menunjukkan senyuman lebarnya. "Ayo bermain denganku, Kak!"
Beila menggeleng dengan bibir yang cemberut. Ia kecewa menolak ajakan bermain anak kecil itu. Yari adalah anak yang lucu. Ia sangat bahagia bisa bermain dengannya. Tampak dari atas, Beila melihat anak kecil itu merajuk, menangis, dan berlari entah ke mana. Membuat hatinya semakin sedih saja.
Beila berjalan menuju kasurnya. Ia duduk di sana dengan murung. Sudah beberapa hari ia terkurung di dalam kamarnya sendiri. Keluar hanya untuk makan dan mandi. Tak ada waktu untuk menikmati alam luar seperti biasanya. Ini benar-benar hukuman yang nyaris membuat Beila frustrasi. Namun, tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang. Beila mendongkak antusias, mendapati sang ibu berdiri di depan kamarnya. Buru-buru Beila menghampirinya dengan senang.
"Ibu, apakah hukumanku sudah selesai?"
"Belum, Beila. Jangan berharap hukumanmu akan selesai cepat. Ibu membuka pintu kamarmu hanya untuk mengizinkan kamu bermain di halaman istana bersama Yari."
Beila tersenyum girang. Walau hanya di depan istana, setidaknya ia bisa melihat awan lebih bebas. "Benar itu, Ibu? Aku boleh keluar?"
"Jika kamu berani kabur, maka hukumanmu akan Ibu tambah. Tidak dikurung di dalam kamar, melainkan di ruangan bawah tanah istana ini," tegas Juhaira.
Beila terhenyak, membulatkan matanya dengan mulut sedikit terbuka. Ancaman ibunya benar-benar membuat bulu kuduknya merinding. Gelengan kepalanya mempertegas bahwa ia tak setuju berada di bawah sana.
"Ya sudah. Keluarlah. Bermain dengan Yari hingga sore. Kamu harus masuk kembali ke kamar ketika sore tiba. Ingat ini, Beila. Jangan melewati batasmu. Kamu tidak boleh kabur dari istana."
"Baik, Ibu. Aku tidak akan kabur dari istana. Aku berjanji tidak akan melakukannya," kata Beila dengan sopan.