TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #20

20. CALON SUAMI

Beila menatap langit malam lewat jendela kamarnya. Tatapannya menyiratan kegelisahan yang mendalam. Ingatannya selalu tertuju pada ucapan Mama Nita tadi di depan dapur. Tentang pilihan yang mengejutkannya. Apakah ia memilih Royan atau memilih keamanan Pulau Parantua. Pilihan yang amat sulit itu mengguncang pertahanan hatinya. Ia tak pernah dihadapkan dengan pilihan sesulit ini sebelumnya. Ia mencintai Royan, tetapi juga menyayangi pulau tempat ia memulai hidup hingga sedewasa ini. Lalu, pulau ini tempat keluarganya tinggal beserta dengan ratusan orang lainnya.

"Royan ... mengapa kamu memberikan pilihan yang sekejam ini padaku. Apa yang harus aku pilih. Aku benar-benar sangat mencintaimu, tapi aku juga ingin mempertahankan pulau ini."

Beila berjalan lambat menuju kasurnya, lalu duduk di permukaan lembut kasur itu. Ia raba kasur itu dengan penuh perasaan. Apa yang ada di kamarnya ini bentuk kasih sayang ibunya terhadapnya. Semua barang yang ada di kamarnya adalah barang terbaik yang diberikan ibunya.

"Apakah aku bisa melawan cinta ini? Apakah aku bisa mengalahkan rasa sayangku pada Royan dan memilih pulau ini? Apakah mungkin?"

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Beila langsung menghampiri pintu yang baru saja dibuka oleh ibunya. Beila berusaha mengulas senyuman yang tulus, kala ibunya memandangi dirinya.

"Makanan sudah siap. Ikutlah makan malam bersama, Beila."

"Baik, Ibu. Aku akan ikut makan malam," sahut Beila seraya berjalan keluar kamar. Ia mengikuti langkah ibunya dari belakang sambil kembali berpikir soal pilihan itu. Jika ia memilih Royan, maka apakah ibunya akan selamat dan baik-baik saja?

Di ruang makan sudah ada Beinor dan Beisam. Mereka dihadapkan dengan berbagai hidangan yang sangat menggugah selera. Beila tersenyum senang melihatnya. Sudah jarang ia melihat hidangan sebanyak ini menemani acara makan malam mereka.

"Ibu, makanannya banyak sekali. Sepertinya ini adalah semua menu masakan yang pernah aku coba. Dalam rangka apa, Ibu?" tanya Beila begitu duduk di kursinya.

Juharia tersenyum, ia menunjuk ke arah belakang Beila. Gadis itu pun menoleh ke belakang. Tampak seorang pria dengan perawakan tinggi, sedikit tua, dan penuh dengan jambang dan kumis berjalan ke arahnya.

"Dia adalah pria terkaya di benua Afrika, Beila. Hendro Frankin adalah calon suamimu," ungkap Juharia membuat jantung Beila bagai disambar petir.

Beila masih saja tercengang, matanya yang berkaca-kaca tak berkedip sedikitpun. Pria berkulit sawo matang itu mendatangi meja makan dan duduk di sampingnya. Senyumannya yang lebar menampakkan deretan gigi putih yang tampak besar. Juharia sangat ramah sekali hingga bersedia mengambilkannya makan.

"Tuan Hendro, katakan apa yang Anda inginkan. Saya akan mengambilkannya untuk Anda," ucap Juhaira.

"Aku ingin Beila yang mengambilkannya untukku. Dia harus menjadi istri yang siaga dan melayani suaminya dengan baik. Sangat peka tanpa disuruh," ucap Hendro tersenyum pada Beila.

Beila menahan geram di hatinya melihat wajah menyebalkan pria di sampingnya. Dari perkataannya tadi Beila yang cerdas sudah bisa menggambarkan sifat pria itu. Beila yakin jika Hendro tipe pria yang menjajah istrinya sendiri. Tampang pria itu juga terlihat sangat tempramental. Ini adalah salah satu kemampuan istimewa Beila. Dapat menilai seseorang dengan penampilan dan sikap pertemuan pertama dengan seseorang.

Beila menoleh pada ibunya. Dengan sekuat tenaga ia menahan air mata itu agar tidak tumpah. "Ibu. Boleh aku berbicara secara pribadi dengan Ibu di kamarku?"

"Ibu akan menyetujuinya setelah makan malam ini, Beila. Sekarang, kamu lakukan perintah Hendro. Dia memerintahmu untuk melayaninya, Beila."

Lihat selengkapnya