Fatma mempersilakan Royan masuk ke sebuah ruang bawah tanah berada di ujung wilayah Paran. Hanya dengan masuk ke dalam hutan sedikit saja, tempat rahasia itu dapat ditemukan. Hanya saja Fatma begitu pintar menyembunyikannya penutup berbahan kayu yang dilapisi tanah dan dedaunan yang kering. Persis seperti tanah di sekelilingnya.
"Ini tempat apa, Mbak? Bisa masuk ke sana? Aman nggak nih?" tanya Royan beruntun. Sedikit parno karena melihat ruangan gelap di bawah sana.
"Ini ruang rahasia yang pernah dibuat oleh Yudan dan teman-temannya yang terdahulu. Ruang bawah tanah ini sangat panjang hingga bisa menembus daerah Walunggung. Ketika keluar dari jalur bawah tanah ini, kamu akan keluar di tengah hutan Walunggung. Tepatnya di dalam sebuah gua dangkal. Sejak dulu sudah banyak yang ingin melarikan diri dari pulau ini, sampai membuat ruang bawah tanah untuk menyusun rencana yang aman. Tapi sayangnya tak ada yang berhasil. Beruntungnya, tempat ini masih aman dari pengetahuan kepala suku atau petinggi istana. Jadi bisa kita gunakan untuk tempat rapat kita," tutur Fatma menjelaskan. Matanya sesekali menelisik sekitar memastikan semuanya tetap aman.
"Oh gitu ya, Mbak. Oke deh saya masuk sekarang," sahut Royan mengangguk paham.
Fatma memberikan sentar pada Royan, membuat pria itu berdecak kagum.
"Gunakan ini sebagai penerangan," ucapnya.
"Wih, Mbak punya sentar?"
"Saya ambil dari istana Laringking. Masuklah cepat, Royan. Satu per satu orang-orang Laringking juga akan saya arahkan ke sini. Dan di daerah Walunggung, ada Arul yang memandu mereka masuk ke ruang bawah tanah ini juga. Kita akan berkumpul di satu titik yang kamu tentukan. Makanya kamu saya suruh masuk terlebih dahulu," tutur Fatma.
"Siap, Mbak. Saya masuk sekarang," ujar Royan seraya menuruni tangga kayu yang ada di bawah sana.
Fatma menutup ruangan itu dengan penutupnya, lalu merapikan tanah agar tak terlihat begitu jelas. Setelahnya, Fatma segera pergi dari sana untuk menemui beberapa orang Laringking yang sudah resmi bergabung dengan misi mereka.
Royan menapaki lantai ruang bawah tanah itu. Ia menyalakan sentar yang diberikan oleh Fatma, seketika ruang bawah tanah yang berbentuk memanjang dan tak begitu luas itu terpampang. Setiap satu meter, di atasnya terdapat ventilasi udara yang terbuat dari pipa. Hingga membuat sirkulasi udara di dalam ruangan itu tak pengap sama sekali.
"Ya ampun ... nggak nyangka gue bisa masuk ke ruangan begini. Ini sih kayak jalur tentara yang mau perang," gumam Royan.
Langkahnya berhenti di tempat yang lebih luas dan strategis untuk dijadikan tempat diskusi. Royan mengambil dua atas duduk yang tak begitu lebar di sekitar sana. Mungkin bekas orang terdahulu yang beristirahat di sana.