TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #22

22. SURGANYA LARINGKING

Rapat panjang yang dilakukan oleh Royan, Fatma, dan anggota misi telah berakhir. Satu per satu dari mereka keluar dari pintu masuk ke jalan bawah tanah itu. Terakhir yang keluar adalah Royan dan Fatma. Mereka jalan santai berdua menuju istana Laringking sambil kembali bercengkrama. Tentunya bukan pentang misi pemberontakan, tetapi tentang hal lain yang juga tak kalah menarik.

"Btw, Mbak. Ceritain dong pertama kali Mbak Fatma ketemu sama Mas Yudan. Kok bisa sih cinta beda suku gini, Mbak? Kalau saya kan cerita awalnya tuh pas hanyut dari aliran sungai Laringking ke Walunggung. Kali aja Mbak sekalian mau nostalgia gitu," tanya Royan tersenyum menggoda wanita dewasa di sampingnya.

Fatma langsung bersemu pipinya. Cinta yang sempat terhenti selama bertahun-tahun itu ternyata belum padam. Bahkan mungkin tak pernah padam. Rasa cinta Fatma pada Yudan sangat terlihat begitu jelas di mata Royan. Membuatnya ingin segera mendengarkan cerita cinta itu dari Fatma langsung.

"Awal pertemuan kami itu di Wilayah Paran. Saya sedang menemani putri dari Barantungga yang namanya Narina Ratungga. Dia waktu itu berusia sembilan tahun. Kami berjalan-jalan di sepanjang Wilayah Paran, hingga tiba-tiba—hmmmff"

Royan terkekeh melihat Fatma yang tiba-tiba hendak meloloskan tawanya, tetapi ditahan sekuat tenaga.

"Kenapa sih, Mbak? Kok ketawa? Tiba-tiba kenapa?"

"Tiba-tiba Mas Yudan terpeleset bawa ember ikan," sahut Fafma. Pecahlah tawanya bersama dengan Royan. Royan tertawa lepas tanpa canggung sama sekali.

"Serius, Mbak? Terus abis itu gimana? Malu banget dong ya Mas Yudan. Ya kan di depan gebetan sendiri malah atraksi gitu. Mana sambil bawa ikan."

"Iya jelas malu dia. Narina yang takut ikan langsung berlari ke arah pengawal pribadinya. Jadi tinggal saya yang di sana. Kasihan juga lihat Mas Yudan kelimpungan menangkap ikan. Apalagi posisinya deket sama pantai, Yan. Jadi saya akhirnya putuskan untuk menbantunya. Dari sana mungkin, cinta kami mulai tumbuh. Sejak insiden itu, Mas Yudan seringkali melihat ke arah saya yang sedang memberikan minum untuk nelayan Suku Laringking. Ya seperti orang yang sedang kasmaran, Royan. Kami juga melakukan hal yang sama. Saling curi pandang, perlahan me dekat, lalu mengobrol singkat. Singkat-singkat akhirnya menjadi lebih padat, sampai akhirnya membuat janji untuk bertemu. Kami sudah bukan remaja lagi, tetapi cinta kami sangat menyenangkan dan bermakna. Tapi sayangnya keinginan Mas Yudan begitu tinggi. Dia ingin kabur dari pulau ini untuk melaporkan tentang pulau Parantua pada pihak angkatan laut dan kepolisian. Agar dia bisa menjemput saya dan kami akan bahagia setelah pulang ke benua kami."

Fatma memelankan langkahnya hingga berhenti sepenuhnya. Royan menoleh padanya, juga ikut menghentikan la langkahnya. "Tapi takdir tak mengizinkan kisah cinta kami tanpa rintangan, Royan. Bahkan ini lebih dari sekadar rintangan. Hati saya rasanya semakin lemah dan redup, nyaris tak bisa merasakan cinta lagi. Saya kehilangan Mas Yudan. Kapalnya dikabarkan ketahuan oleh kepala suku dan ditenggelamkan ke dasar lautan," pungkas Fatma sambil menggelengkan kepalanya untuk menahan isak tangis."Tapi sekarang ada harapan kecil untuk cinta kami. Pemberontakan ini harus berjalan lancar, Royan. Ini kesempatan kita—kamu, Beila, Mas Yudan, dan Saya sendiri untuk memperjuangkan cinta yang benar-benar membutuhkan tempat yang aman. Agar cinta itu bisa mewujudkan suatu kebahagiaan. Bukan kesengsaraan yang berkepanjangan. Saya siap mempertaruhkan segalanya untuk misi kita. Saya mohon sama kamu, jangan goyah sedikitpun. Mungkin malam ini kamu akan dipanggil oleh kepala suku Laringking. Dia akan menyampaikan sesuatu yang mungkin membuat pertahanan kamu goyah," tandas Fatma.

Royan mengeryit bingung. "Barantungga mau ngobrol sama saya, Mbak? Kok Mbak tau?"

Lihat selengkapnya