Benar kata Fatma, jika sudah memasuki ruangan Surganya Laringking, seketika keinginan yang lain sudah tak ada. Misinya untuk menghancurkan pulau ini pun menjadi segan untuk dilakukan. Saat ini Royan duduk di sebuah kursi mewah bagai singasana. Ia berhadapan dengan Barantungga dengan puluhan sajian menarik di meja. Di sekitar mereka ada dayang-dayang cantik yang mengipasi dengan kipas dari bulu angsa putih yang indah.
"Ini akan menjadi tempat yang bebas kamu kunjungi jika sudah mengabdi dengan baik selama satu tahun di pulau ini, Royan. Kamu akan mengingat berbagai masakan dan jajalan yang ada di tempat tinggalmu dulu. Inilah yang dinamakan Surganya Laringking. Lihat ke sekeliling, semuanya bisa kau nikmati dengan puas setelah pembicaraan kita hari ini. Kamu lihat ruangan dengan pintu terbuat dari kaca merah muda itu?"
Royan mengikuti arah tunjuk Barantungga pada sebuah ruangan dengan kaca merah muda sebagai penutupnya. Royan pun menganggukan kepalanya. Kemudian, Barantungga melanjutkan, "Di sana ada sekumpulan wanita yang bebas kanu pilih untuk dinikahi. Mereka adalah wanita pilihan di Suku Laringking."
Royan menoleh dengan tatapan tak percaya pada Barantungga. "Ada banyak wanita pilihan di sana? Mereka bukan ... pela—"
"Bukan! Di sini tak ada wanita seperti itu di sini. Wanita benar-benar dihormati, Royan. Di dalam sana hanyalah sekumpulan wanita cantik yang memang bersedia untuk dinikahkan dengan siapapun. Kau penasaran dengan mereka? Aku akan menunjukkannya," ujar Barantungga.
Barantungga menoleh pada pengawal pribadinya. Tanpa berkata apapun pengawal pribadi Barantungga langsung berjalan menuju pintu ruangan itu. Begitu sampai di sana, pegawal pribadi tersebut membukakan pintu ruangan lebar-lebar. Royan yang sedari tadi menatap dengan saksama, perlahan melebarkan tatapannya pada wanita-wanita yang keluar dari ruangan itu. Para wanita yang cantik, berkulit putih, dan perawakan yang bagus keluar dari ruangan itu. Pakaian mereka memang cukup tertutup, tetapi pemilihan pakaian benar-benar cantik hingga begitu menarik mata yang memandangnya.
"Astaghfirullah," ucap Royan langsung memalingkan wajahnya. Barantungga sontak mengeryit bingung, mengapa Royan malah memalingkan wajahnya?
"Ada apa, Royan? Apakah tak ada satupun wanita yang kamu inginkan di antara mereka?"
Royan menggeleng. "Saya hanya mencintai B—" Buru-buru ia mengantup rapat bibirnya yang nyaris kelepasan menyebut nama gadis Suku Walunggung tersebut. "Saya hanya mencintai diri saya sendiri. Belum punya niatan nikah, Pak," tandasnya sambil tersenyum canggung.
Barantungga mengangguk. Ia menggerakan tangannya, tanda memerintah para wanita itu kembali masuk ke dalam ruangan. Pengawal pribadi Barantungga pun kembali mempersilakan wanita itu masuk dan menutup pintunya dengan rapat.
"Sebutkan apa yang kau inginkan, Royan. Aku akan mencoba mengabulkannya. Apa saja yang ingin kamu nikmati, kamu akan mendapatkannya di sini," titah Barantungga.