Beila masih terjaga di tengah malam. Tubuhnya memang sudah tertimbun oleh selimut yang tebal, tetapi matanya masih terbuka. Keputusannya sudah kelewat matang, Beila benar-benar akan mengambil keputusan yang telah ia pikirkan secara halus-halus seharian ini. Perlahan, tangannya menyibak selimut. Turun dari kasur untuk duduk di kursi depan meja belajar. Di ambilnya buku diary dan sebuah pena. Segenap hatinya telah rela dengan keputusan ini. Perlahan ujung pena itu menggores kertas yang putih.
Teruntuk Royan, Priaku.
Aku sangat merindukanmu. Sudah berhari-hari hatiku bagai terserang demam. Aku dapat merasakan perasaan tak enak itu hingga nyaris membuatku muntah membayangkan keadaan yang kita hadapi. Cinta kita begitu murni. Pertemuan kita yang begitu dramatis dan berakhir dengan pembicaraan tentang jatuh cinta. Kamu ingat bukan?
Pertama kalinya aku merasakan yang namanya jatuh cinta. Rasanya seperti aku adalah seorang ratu yang sedang menikmati segala isi bumi, padahal yang ada di hadapanku hanya kamu. Secara tak langsung, sejak pertemuan kita waktu itu, kamu adalah isi duniaku.
Namun sekarang? Isi duniaku sudah tak ada. Benar-benar kosong. Aku bagaikan berdiri di tengah tanah yang tandus. Tanpa sosokmu, senyummu, genggaman tanganmu, dan suaramu yang membuatku candu. Aku nyaris gila mempertahankan rasa ini. Aku sudah berusaha untuk melawannya. Aku ingin mengabdi pada ibuku, Kepala Suku Walunggung. Tapi ternyata, aku tak seberharga itu di matanya.
Royan, Ibu ingin menjodohkanku dengan pria dari benua Afrika yang sangat kaya raya. Entah apa yang pria itu janjikan, ibuku benar-benar menghormatinya. Ibuku rela memberikanku pada pria macam Hendro. Dia pria yang sombong, suka memerintah, dan ingin menjadi raja. Aku sudah memastikan jika aku menikah dengannya maka statusku bukanlah seorang istri. Melainkan seorang budak yang selalu ada di sisinya dan rela diperlakukan seperti apa saja.
Aku tidak ingin dijajah, Royan. Ini adalah hidupku, aku yang harus menentukan ke mana arahku menuju. Seperti yang kamu katakan, takdir tak ada yang tahu. Ya, meski aku memilih ibuku, belum tentu yang terjadi sesuai harapanku. Aku melawan kehendak ibu bukan berarti aku durhaka, tetapi aku hanya ingin menyelamatkan hidupku yang berharga. Seorang ibu harusnya memperjuangkan kebahagiaan putrinya, bukannya mengorbankan. Lantas, untuk apa aku mengorbankan kebahagiaan aku demi orang tua yang serakah dan tak menganggapku berharga?
Aku hanya ingin berada di sisi orang yang menghargaiku. Jika tidak mengikuti jalanmu, maka sama saja aku membiarkan kehidupan aneh ini terus berlangsung lebih lama. Berapa banyak nanti keturunan dari Suku Walunggung yang bernasib sama sepertiku? Aku tak bisa membayangkan betapa buruknya itu.
Oleh sebab itu, Royan. Aku menunggumu di sini untuk menjemputku. Ayo kita mencari jalan melarikan diri bersama-sama ke kehidupan yang lebih baik lagi. Asal bersamamu, aku akan merasa tenang. Nyawaku aku pasrahkan ketika hari itu tiba. Kita harus melakukannya. Kita harus bisa pergi dari pulau ini, Royan. Aku mohon, jemput aku di sini.
Aku menunggumu, Sayangku.