Mama Nita memberikan surat dari Beila pada Fatma. Mereka bertemu di wilayah Paran. Saat itu wilayah tersebut tengah sepi, sebab para nelayan sudah pergi melaut. Juga sebagian besar warga Walunggung sedang berkumpul untuk menyaksikan rombongan dari calon menantu Kepala Suku Walunggung yang bernama Hendro. Hingga wilayah Paran aman digunakan untuk tempat pertemuan.
"Mama Nita, apakah benar Beila yang menulis surat ini untuk Royan? Dia sudah setuju dengan misi ini atau malah menerima perjodohan itu?" tanya Fatma.
Mama Nita menggeleng. "Aku juga tidak tahu, Fatma. Isi dari surat itulah yang akan menjawabnya. Serahkan segera surat itu pada Royan. Jangan sampai dibaca oleh orang lain. Sebab penulisnya adalah putri dari kepala suku. Jika diperiksa, akan langsung ketahuan siapa penulisnya."
Fatma mengangguk patuh. "Baik, Mama. Terima kasih atas kerja sama Mama ini."
Mama Nita tersenyum dan mengangguk. "Jika kita tak bertemu lagi, aku harap kamu dan Yudan bisa hidup bahagia. Sebab bagi Yudan kami adalah kebahagiaannya, Fatma."
Fatma nyaris menangis mendengarnya. "Jangan mengatakan itu, Mama. Saya yakin Mama juga akan hidup dengan selamat. Ikuti saja apa yang telah saya sampaikan pada Mama kemarin. Tolong jangan menyerah. Setiap makhluk hidup berhak untuk mempertahankan kehidupannya. Jadi saya mohon, pertahankan hidup Mama dengan upaya sekecil apapun."
Mama Nita hanya mengangguk dan tersenyum. Wanita tua itu pun segera undur diri sebelum ada yang melihat pertemuan mereka.
Fatma tak pergi dari sana. Ia berdiri di pinggiran pantai itu untuk menanti kedatangan Royan yanh saat ini sedang sibuk mengajar. Dalam kesendiriannya sekarang, Fatma teringat lagi masa-masa indah dulu bersama dengan Yudan. Mereka sama seperti Beila dan Royan. Seringkali bertemu di wilayah Paran. Bahkan pernah menyeludup ke kapal nelayan hanya untuk menikmati waktu bersama di tengah lautan yang indah. Alih-alih membantu temannya mencari ikan, Yudan malah mendongeng untuk Fatma. Kisah cinta yang murni itu sayangnya hanya sementara. Cinta mereka yang dilarang oleh peraturan suku adalah penyebabnya. Hingga hal nekat itu Yudan lakukan. Semuanya seakan musnah, sirna tanpa bekas.
"Aku pikir sudah tak ada lagi harapan, Yudan. Ternyata cinta kita tak sepenuhnya mati, masih ada sisa kehidupannya. Dan sebentar lagi cinta kita akan bangkit. Entah bangkit di dunia atau bangkit—" Fatma tak bisa menahan laju air matanya yang mengalir membasahi pipi. "Di surga," imbuhnya pilu.
Lambaikan tangan Royan dari kejauhan membuat Fatma kembali tegar. Ia menghapus jejak air matanya sampai tak tersisa. Angin pantai membantu air mata itu cepat kering. Kendati mata merahnya tetap tak bisa melaeikan diri. Royan yang sudah sampai di hadapan Fatma, bisa menebak kesedihan apa yang dipikirkan oleh yang lebih tua darinya.
"Saya ganggu waktu sedih Mbak Fatma, ya?"