TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #26

26. SURAT ADU DOMBA

Hari yang direncanakan tiba juga. Setelah melakukan perundingan terakhir di ruangan bawah tanah, mereka langsung memencar ke titik yang sudah ditentukan. Beberapa orang yang memiliki tugas khusus dari Royan pun melakukan tugasnya. Tugas pertama dilakukan oleh Arul yang bertugas membawa surat palsu dari Laringking ke wilayah suku Walunggung dan Fatma membawa surat dari Walunggung ke wilayah suku Laringking. Fatma yang mengantar barang untuk barter, melewati perbatasan dan menjatuhkan kertas itu di sana tanpa sepengetahuan siapapun. Begitu juga dengan Arul yang berlagak ingin memberikan satu madu lagi pada Fatma yang ketinggalan. Arul menjatuhkan kertas itu ke tanah Laringking tanpa sepengetahuan siapapun.

Saat pergantian penjagaan, Wilirang yang baru saja datang tak sengaja menemukan surat yang digugurkan oleh Arul. Wilirang membuka surat itu dan membacanya dengan saksama. Kedua netranya terbuka lebar, menyiratkan sebuah kemarahan yang besar. Ketika sampai pada penghujung kata, Wilirang menutup kertas itu kembali. Tatapan tajamnya tertuju pada semua prajurit yang ada di sana. Willirang mengangkat kertas itu ke atas udara.

"Siapa di antara kalian yang melihat seseorang dari Walunggung melemparkan kertas surat ini?!" tanya Wilirang dengan tegas.

Tak ada yang menjawab, sebagian dari mereka malah menggeleng. Hingga perwakilan dari mereka berani angkat bicara. "Tak ada sesuatu yang dilemparkan sedari tadi, Ketua. Aku yakin akan hal itu."

"Kalau begitu, pasti ada seseorang dari Walunggung yang menginjak Wilayah Laringking entah dengan alasan apa. Tulisan surat ini jelas dari orang Walunggung. Kertasnya, penanya, dan karakteristik penulisannya sangat tepat sekali dengan orang Walunggung!"

"Tadi Arul yang biasa bertukar barang dengan Fatma memasuki daerah Laringking dengan alasan memberikan madu yang ketinggalan."

"Bodoh! Kalian membiarkannya tanpa mengawasi? Sedari dulu, mereka hanya memberikan satu botol madu saja. Tidak ada madu yang lainnya. Ini sudah jelas bahwa surat ini dijatuhkan oleh orang dari suku Walunggung. Baiklah, aku akan segera memberikan surat ini kepala kepala suku. Ini akan diangkat surat tantangan dari Walunggung untuk Laringking," tutur Wilirang. Pimpinan prajurit itu langsung pergi dari sana untuk menjumpai kepala suku Laringking.

Wilirang pun menghadap kepala suku di istana. Barantungga menerima surat yang dipersembahkan oleh Wilirang. Dengan tampang yang serius, Barantungga membuka surat itu dan membacanya dengan saksama.

Teruntuk Suku Laringking

Sudah sekian lama kami sabar dengan perilaku suku Laringking yang tak berkenan bagi suku Walunggung. Aku salah satu warga suku Walunggung mewakili kepala suku sendiri, meminta induk buruk Barkieq dikembalikan malam ini juga. Kami tidak peduli dengan tuntutan kalian yang meminta budak Yulastri dikembalikan, sebab wanita rendahan itu telah mati. Jika tidak, maka peperangan akan terjadi. Wilayah Laringking akan kami rampas dengan paksa dengan pertumpahan darah sekalipun. Kepala suku menunggumu di perbatasan sore hari pukul enam. Jika sampai malam nanti kepala suku Laringking tak membawa induk burung Barkieq maka suku Walunggung akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menyerang ke wilayah Laringking mengambil induk burung Barkieq itu.

Barantungga meremas surat itu dengan sorot mata yang tajam, menunjukkan kegeraman yang luar biasa. Semua prajurit di sana termasuk Wilirang hanya tertunduk menyaksikan kemarahan kepala suku mereka.

Lihat selengkapnya