Barantungga dan pasukannya datang terlebih dahulu di perbatasan. Ada banyak sekali pasukan dari Laringking yang berbaris di belakang Barantungga. Mereka sudah sangat siap untuk untuk bertempur melawan pasukan dari Walunggung. Barantungga berdecih karena tak melihat pasukan Walunggung yang datang ke tempat itu. Ruhawa yang berhadapan dengan Wilirang pun terlihat mulai goyah karena yang mereka tunggu tak kunjung datang.
"Mana kepala suku yang kalian amat banggakan itu, Ruhawa? Apakah kami hanya menonton pasukan wanitanya di perbatasan ini? Kali ini, jangan harap kami akan merasa segan karena yang berada di garda terdepan adalah wanita. Ini adalah sebuah tantangan besar yang menghina suku Laringking!" cetus Wilirang.
"Tutup mulutmu itu, Wilirang. Sebentar lagi kepala suku Walunggung akan datang membawa pasukan terbaik dan seluruh warga Walunggung yang memiliki kemampuan militer yang mumpuni. Jangan menganggap remeh kami jika kalian belum melihat bagaimana kami bekerja nanti. Tunggulah sebentar lagi," ujar Ruhawa tersenyum sinis.
Ternyata Ruhawa tak berbohong, dari ujung sana terdengar suara sorak yang begitu ramai. Juharia dengan langkah mantap berada di garda terdepan bersama dengan kedua putranya, Beisam dan Beinor, beserta banyak sekali pasukan yang mengikuti mereka dari belakang. Namun, banyaknya pasukan Walunggung tidak membuat Barangtungga gentar sedikit pun. Malah semangatnya kembali terpantik untuk segera mengalahkan pasukan lawan. Hingga akhirnya kepala suku Walunggung itu berhadapan langsung dengan kepala suku Laringking.
"Surat yang sangat mengejutkan itu datang padaku. Aku tak ada gentar sama sekali, hinaanmu sangatlah hina bagi sukumu sendiri. Omong kosong soal Walunggung yang merebut wilayah Pulau Parantua. Hal itu terjadi karena kalian tak bisa menjaga keamanan pulau dan terlalu angkuh dengan peraturan yang leluhur kalian buat sehingga menekan pendatang seperti leluhur kami waktu itu. Jika saja peraturan yang leluhur kalian tetap adil untuk semuanya, maka pemberontakan dan perebutan wilayah tak akan terjadi, Barantungga!"
Barantungga memasang raut wajah tegasnya, tak kalah bengis dengan Juharia. "Sungguh perkataan tak tahu malu. Benar-benar memalukan. Mengakui dengan lantang bahwa Walunggung memang merebut sebaguan wilayah Parantua karena keamanan yang kurang dan aturan yang menekan. Padahal keamanan Parantua rusak karena leluhur kami mengambil keputusan yang salah dengan menerima imigran seperti leluhurmu. Tentang aturan itu adalah hak penghuni awal Parantua. Pendatang baru atau tamu tak berhak ingin mengatur, apalagi ingin menjajah. Tapu yang dilakukan leluhur kalian malah hal yang terlarang. Lantas, dari sini sudah tahu siapa yang salah dan siapa yang benar," tegas Barantungga meski dengan raut wajah yang terlihat lebih santai sekarang.
Juharia menggeram. Dadanya bergemuruh oleh amarah yang meletup-letup. Tangan kanannya terangkat ke samping, lalu disusul oleh tangan kirinya. Perlahan Juhaira muncur sebanjak tujuh langkah.
"Siapapun yang salah di sini, itu tidaklah penting! Perang rupanya harus segera dikobarkan. Hari ini tak ada toleransi lagi atas penghinaan apapun terhadap Suku Walunggung. Intinya, siapapun pemenang dari peperangan ini maka ... dialah pemilik Pulau Parantua tak peduli Laringking adalah penghuni asli. Jika Walunggung menang, maka Suku Laringking akan dimusnahkan dan semua wilayah Parantua adalah milik Suku Walunggung. Begitu pun sebaliknya. Bagaimana, Barantungga?" Juharia tersenyum licik pada pimpinan suku Laringking tersebut.
"Sesuai apa yang kau katakan, peperangan tak dapat dihindari lagi. Maka aku! Barantungga! Akan memastikan Walunggung akan berakhir hari ini di tangan Laringking! HIDUP LARINGKING!" seru Barantungga tegas.
"HIDUP! LARINGKING! HIDUP LARINGKING!" sahut semua pengikutnya.
Juharia mengerang keras hingga mulutnya terbuka lebar. "SERAAANG!" teriak kepala suku itu dengan nyaring.