Tiga orang pria yang merupakan bagian dari misi Royan, berlarian ke arah Royan dan Beila yang sedang berbicara satu sama lain. Mereka membawa banyak senjata dari istana Walunggung. Seperti panah, pedang, batu panas, tombak, dan gas air mata. Secara bersamaan satu orang lagi berlari ke arah mereka dari luar gerbang.
"Royan, Putri Beila. Kita harus segera menyusul Fatma. Daerah Laringking sedang tidak aman. Banyak para warga yang menjadi pasukan dadakan. Ada kemungkinan tindakan Fatma ketahuan dan dilaporkan pada kepala suku," tutur pria itu panik.
Royan mengangguk. Ia menoleh pada tiga orang lagi yang membawa berbagai senjata di kedua tangan dan punggung mereka.
"Pinjam satu busur dan beberapa panah," pinta Royan mengambil alih tas anak panah itu, juga busurnya. "Kalian jangan lengah. Fokus untuk menyelamatkan diri, jangan ada yang menyerang orang yang nggak menyerang kita. Paham?"
"Siap, paham!"
Royan menggenggam tangan Beila dengan erat. Tatapannya begitu dalam pada gadis yang menyiratkan rasa takut dari kedua matanya. Perasaan resah gelisahnya sangat kentara. Namun, Royan mampu memberikan senyuman pada gadia itu.
"Jangan takut, ya. Aku bakal jaga kamu terus. Tangan ini, jangan sampai lepas," ucap Royan lembut.
Beila mengangguk yakin. "Apapun yang terjadi, setidaknya itu bersamamu maka tak ada yang harus aku sesalkan. Ayo kita pergi dari sini!" Beila menoleh ke langit di ujung sana. "Asap sudah mengepul hitam di ujung sana. Langit juga semakin gelap. Jangan sia-siakan pertumpahan darah ini dengan rasa takut kita."
Royan mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia membawa Beila berlari dari sana. Empat pria yang mengawal mereka melumpuhkan beberapa penjaga yang sudah cukup sadar dari efek alkohol yang mereka teguk. Setelah beres, perjalannya pun dilanjutkan. Tujuan utama mereka adalah lubang masuk ke jalur bawah tanah untuk tiba di wilayah Laringking.
Semakin mereka menjauh dari istana, suara gaduh dari peperangan itu semakin nyaring terdengar. Banyak warga yang berlarian untuk menyelamatkan diri dan ada juga yang ingin bertempur dalam peperangan itu. Royan tak peduli lagi dengan tatapan heran orang yang melihatnya membawa kabur Beila. Kondisinya sangat genting. Lengah sedikit saja nyawa mereka akan melayang.
Mereka akhirnya sampai di lubang masuk jalanan bawah tanah. Royan lebih dulu masuk sambil menggandeng Beila ikut masuk. Barulah empat pengawal itu mengikuti dari belakang.
"R-Royan gelap ... ini sangat gelap. A-aku takut," ucap Beila bergetar, tak ingin melanjutkan langkahnya.
Meski tak bisa melihat wajah Beila dengan jelas, Royan masih bisa meraba wajah mungil itu dan berakhir menangkup pipinya.
"Dengar, Beila. Aku selalu bersama kamu. Kamu ingat tadi ngomong apa, kan? Jangan sia-siakan pertumpahan darah dengan rasa takut," kata Royan.