Pertama kalinya memasuki ruangan bawah tanah penyekapan membuat Royan amat merinding. Hawa dingin begitu terasa. Tempat ini terasa lembab dari jalanan bawah tanah yang mengubungkan Walunggung dan Laringking. Royan sencari sumber penerangan di ruangan itu dengan bantuan lampu semprong yang ia pegang. Satu per satu lampu semprong yang menempel di dinding dinyalakan hingga ruangan itu pun terlihat terang. Saat itulah Royan teramat terkenjut. Di ruang bawah tanah itu ternyata banyak bayak sekali barang-barang yang digunakan untuk penyiksaan. Seperti kumpulan pedang, pisau, kayu balok, pistol, kapak, alat pancung, hingga tali-tali yang terpulun apik. Semuanya tampak tersusun rapi, tetapi terlihat sangat mengerikan. Belum lagi di ujung sana terdapat beberapa peti mati yang masih baru.
Royan mengeleng, tak pernah dengan apa yang ia lihat. Ternyata Laringking semengerikan ini. Ia tak pernah menduga sepenuhnya.
"Royan! Apa yang kamu lakukan di sana? Jangan bengong, kita harus bergegas!" tegur Fatma yang baru saja turun ke ruangan itu.
Barulah Royan tersadar akan tujuannya ke tempat ini. Royan pun segera menyusul Fatma yang berjalan tergesa-gesa hingga berhenti di depan sebuah sel yang gelap. Royan mendekat, lalu mendekatkan lampu semprong itu ke dalam sel.
"Astaghfurllah!" seru Royan teramat terkejut.
Ada tiga orang pria di pojok ruangan sel itu. Dua diataranya tergeletak di lantai dan satu orang lagi menangis tanpa suara menatap kedua teman-temannya.
"M-Mas Yudan ... ini aku Fatma, Mas. Aku mau jemput kamu, Mas," ucap Fatma tak kuasa menahan tangisannya.
Royan terkejut sekali lagi. Ternyata pria kurus yang memakai pakaian serba putih khas rumah sakit itu ternyata orang yang selama ini Fatma bicarakan yakni Yudan.
Tampak Yudan bangkit dari duduknya. Berjalan dengan lesu mendekati mereka berdua yang menanti penjelasan darinya.
"Fatma, kenapa kamu malah ke sini lagi? Kamu akan dalam bahaya jika ke sini lagi, Fatma. Hari ini adalah hari eksekusiku."
"Apa yang kamu bicarakan, Mas Yudan? Bukankah aku sudah bilang bahwa akan kembali menyelamatkan kamu. Aku mohon jangan bicara seperti itu!!" cetus Fatma dengan tangisan yang terihat menyakitkan.
"T-teman-temanku sudah tiada. M-mereka ... mereka sudah tiada, Fatma. Kamu lihat ... Kamu lihat ke arah sana!" Yudan menunjuk ke arah dua temannya yang tergeletak di lantai. "Mereka tadi malam menerima racun bunuh diri dari petugas. Mereka memilih mengakhiri hidup daripada dibunuh secara kejam hari ini. A-aku menyaksikannya, Fatma. Aku tak bisa meninggalkan mereka," imbuhnya dengan tangisan yang tak kalah memilukan.
Air mata Fatma semakin laju mengucur, mendengar kisah menyakitkan itu dan penolakan dari kekasihnya. "Jadi kamu lebih memilih temanmu yang sudah mati ketimbang aku yang sekarang berjuang untuk hidup pada kematian yang begitu dekat?"
Yudan terhenyak mendengarnya. Ia tak mengerti apa yang dikatakan oleh Fatma. Hingga Royan pun angkat bicara.
"Mas Yudan, perkenalkan saya Royan, temannya Mbak Fatma. Asal Mas tahu, kami ke sini dengan pertaruhan nyawa yang besar. Suku Walunggung dan Suku Laringking saat ini tengah perang besar, Mas Yudan. Kami sudah menyusun semua rencana ini untuk menghancurkan Pulau Parantua. Jadi saya mohon sama Mas Yudan, tolong ikut kami segera. Waktu kita nggak banyak, Mas. Kita harus ke pelabuhan untuk naik kapal dan pergi dari pulau terkutuk ini!"