TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #30

30. PENGORBANAN MEMBARA

Sebuah kapal asing berlabuh di wilayah Paran saat perang sedang berlangsung di perbatasan. Rombongan pria dari benua lain melompat turun dari kapal dengan berbagai senjata di tangannya. Hingga orang terakhir yang turun dari kapal itu adalah Hendro, pria yang akan bertunangan dengan Beila.

Prajurit yang bertugas menjaga perbatasan pun berlari menuju ke istana Laringking, di mana Barantungga dan keluarganya kini berada. Sesampai di istana Laringking, petugas itu terpogoh-pogoh mendatangi Barantungga yang tengah mengatur siasat untuk menghabisi suku Walunggung.

"Lapor, Tuan Kepala Suku! Sebuah kapal asing mendarat di Wilayah Paran. Orang-orang dari benua lain itu memakai seragam seperti anggota militer dengan senjata yang lengkap. Ada kemungkinan mereka ikut berperang untuk mengambil alih pulau Parantua, Tuan Kepala Suku!"

Barantungga dan istrinya sangat terkejut mendengarnya. " Apa kamu bilang? Astaga ... bagaimana bisa peperangan ini diketahui oleh orang di benua lain? Sudah pasti orang asing itu sudah menjajak Parantua sebelumnya. Jika aku tak salah, mereka adalah orang asing yang pernah didatangkan oleh Juharia, kepala suku Walunggung yang angkuh! Tanpa sadar dia telah mengundang pengkhianat ke pulau ini! Kurang ajar!"

"Lantas, apa yang harus kita lakukan? Keadaan Parantua sudah sangat memanas. Sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan. Tak menutup kemungkinan jikalau semuanya sudah mati, maka istana ini yang akan menjadi tujuan utamanya," ujar istri Barantungga.

Barantungga menghadap semua prajuritnya yang tersisa. "Kalian semua! Ambil semua aset berharga di dalam istana. Bawa semuanya ke kapalku. Kita harus meninggalkan Parantua terlebih dahulu untuk menyelamatkan diri dari para militer asing itu," titahnya tegas.

"Siap, laksanakan!"

Di sisi lain, Royan dan teman-temannya bergegas meninggalkan wilayah rahasia Laringking atau tempat penyekapan Yudan. Mereka berlarian pontang-panting menuju tujuan akhirnya mereka yakni Wilayah Tua. Di tengah gelapnya malam itu mereka berusaha menyelamatkan diri lewat jalan-jalan kecil di tengah hutan yang jauh dari daerah pertempuran.

Royan menggenggam dengan erat tangan Beila. Mereka berlari dengan napas yang sudah tak baik. Lelah dan takut menjadi satu. Terkadang mereka berhenti karena Yudan yang digandeng oleh Fatma, kini mulai melemah. Keadaan tak sehat Yudan menjadi penyebab melemahnya langkah kaki pria itu.

"Mas Yudan, aku mohon bertahan sebentar lagi, Mas. Kita sudah dekat dengan Wilayah Tua. Aku mohon lebih kuat lagi, Mas," ucap Fatma menangis di samping Yudan yang berlutut sambil menetralkan deru napasnya yang tak beraturan.

Yudan menoleh pada Fatma dengan wajah yang begitu pias. "Takdir memang tak bisa dipaksakan, Fatma. Keadaanku yang seperti ini hanya akan membuat kamu dan lainnya celaka. Pergilah kalian dari sini. Tinggalkan aku. Lebih baik satu orang tak selamat, daripada semuanya tak selamat."

"MAS!" pekik Fatma sambil menangis histeris. Wanita itu tampak begitu frustrasi. Fatma bahkan yang lainnya juga sudah sangat berantakan. Rambut mereka, pakaian mereka, wajah mereka, dan pastinya mental mereka. Namun, Fatma yang paling berat menanggung beban di sini. Harapannya sudah ada di genggamannya, tetapi harapan itu yang ingin lepas darinya.

Royan mendekati Yudan dan berjongkok di sampingnya. "Mas Yudan jangan berpikir dengan meninggalkan Mas Yudan di sini adalah pilihan terbaik. Mas Yudan tetap tinggal, maka Mbak Fatma juga akan tinggal di sini. Saya ... saya juga akan tetap tinggal. Beila akan mengikuti saya dan yang lainnya juga akan ikut karena saya adalah pimpinan mereka. Lantas, apa bedanya, Mas? Kita semua akan mati jika Mas Yudan menyerah di sini. Mas nyerah jangan ngajak dong. Ngeri kan maksud saya? Jadi saya mohon, Mas. Jangan anggap remeh perjuangan kami. Harapan saya ingin bersama dengan Beila ada di tangan Mas sekarang."

Lihat selengkapnya