TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #31

31. PERTEMPURAN DI KAPAL

Keadaan Parantua semakin memanas. Banyak penduduk asli Parantua yang telah gugur, bahkan juga dari suku Walunggung. Hendro dan anggota militer buatannya membabi buta menumpas mereka semua untuk merebut pulau tersebut. Sementara itu, Barantungga beserta jajaran tinggi istana murka mendapatkan laporan bahwa kapalnya dibawa pergi oleh Royan dan Fatma. Barantungga pun langsung menggiring mereka semua ke Wilayah Paran untuk menyusul kapal Royan dengan kapal lain yang lebih kecil lagi. Barantungga yang berdiri di bagian ujung kapal paling depan, menatap murka pada kapal miliknya yang berada di tengah lautan.

"Kurang ajar kau, Royan! Aku membawamu ke sini untuk memajukan sumber daya manusia di pulau ini, tapi kau malah mengkhianatiku seperti ini! Tiada ampun bagimu jika sungguh tertangkap olehku! Bahkan semua anggota keluargamu akan aku seret ke Pulau Parantua!" ketua Barantungga berkilat marah.

Di sisi lain, Beila dan Royan duduk di lantai berdampingan. Royan terus menenangkan Beila yang sedari tadi menangis dengan kacau. Ia takut tertanggkap, ia takut berpisah dengan Royan, dan ia takut ibu beserta keluarganya telah gugur di medan perang. Ia takut sekali. Sungguh sangat ketakutan.

"Beila, aku berjanji tak akan meninggalkanmu sendiri. Aku akan bertanggung jawab atas kamu, Beila. Meski sandaran hidupmu telah tiada, aku siap menjadi satu-satunya tempat bertumpu yang kau punya. Aku siap menanggung semuanya. Percayalah padaku," kata Royan menyakinkan dengan tulus.

Beila menatap Royan dengan mata berkaca-kaca. "Apa aku salah, Royan? Aku sudah meninggalkan keluargaku yang tengah berjuang menyelamatkan suku dan nyawa mereka. Sementara aku ... aku menyelamatkan diri sendiri. Apa aku egois, Royan?"

Royan menggeleng. "Enggak, Beila. Kamu nggak egois. Ini adalah keputusan yang tepat. Kalau kamu tetap memihak keluargamu, kamu akan menjadi pasangan Hendro yang saat ini sedang menjajah Pulau Parantua dengan memanfaatkan keadaan Walunggung dan Laringking yang saat ini sedang berperang. Jika kamu tetap bertahan di sana, kamu akan menghadapi dua pilihan. Mati bersama keluargamu atau menikah dengan Hendro. Kalau ada pilihan yang terbaik, maka kamu harus memilih yang terbaik. Mati bersama keluargamu bukan pilihan terbaik, Beila. Kamu menyianyiakan kesempatan hidup yang lebih baik lagi bersamaku. Lalu menikah dengan Hendro? Apa kamu yakin bakal bahagia?" Royan menggeleng menanggapi pertanyaanya sendiri. "Enggak, Beila. Kamu hanya akan bahagia bersama orang yang kamu cintai. Itu adalah aku."

"Meninggalkan lingkungan yang buruk adalah sebuah keharusan. Jika dipandang dari segi agama pun, kamu sudah melakukan yang terbaik sekarang. Pulau Parantua menyimpan berbagai kemungkaran. Jika tidak dihentikan, maka akan terus berlanjut dan semakin parah di kemudian harinya. Dari zaman dahulu kala untuk menegakkan kebenaran memang selalu ada pertumpahan darah. Entah itu pada lawan, pada kawan, bahkan pada keluarga sendiri. Jadi Beila, tak ada yang salah dari yang kamu lakukan sekarang. Ini jalan terbaik yang telah kamu lakukan. Yakin sama keputusan kamu, Beila. Yakin juga sama aku. Kamu bisa melakukan itu, kan?"

Mendengar tutur kata panjang lebar dari Royan membuat hati Beila menjadi lebih tenang. Sekarang ia yakin bahwa keputusan yang ia ambil adalah sebuah kebenaran. Memang harus ada yang dikorbankan dalam sebuah pengorbanan.

"Aku yakin sekarang, Royan. Kamu adalah orang yang harus aku jadikan pegangan. Kamu benar-benar menyakinkan aku tentang segala hal yang aku ragukan. Sekarang aku benar-benar akan menuruti apa yang kamu perintahkan," ucap Beila. Perlahan gadis itu menyunggingkan sebuah senyuman.

Royan pun membalas senyuman itu.

Tiba-tiba terompet yang sangat nyaring terdengar, membuat mereka semua terperanjat. Sebuah bom kecil yang jatuh di ujung kapal itu meledak, membuat guncangan cukup keras pada kapal yang mereka naiki. Beila berteriak, Fatma pun sama. Royan dengan sigap memeluk Beila agar tak membentur dinding kapal.

"Apa yang terjadi?!" tanya Royan khawatir. Kepulan asap terlihat di ujung kapal yang mereka tumpangi.

Salah satu anggota Royan pun menjawab pertanyaan tersebut. "Gawat, Royan! Kapal Barantungga yang lain sedang mengejar kita. Tampaknya Barantungga ada di kapal tersebut untuk melakukan pengejaran."

Lihat selengkapnya