Pertempuran panas masih terjadi di Pulau Parantua. Pasukan militer asing yang dipimpin oleh Hendro menjadi yang paling kuat. Pasukan Walunggung dan Laringking mulai melemah. Bahkan istana keduanya sudah mulai dijarah. Para penghuni istana suku Laringking digiring keluar hingga mereka semua berbaris di hadapan Hendro yang memegang pedang penuh dengan darah. Mereka tak ada yang berani bersuara. Hanya berbaris dengan kepala yang menunduk. Mereka hanya pasrah dengan apa yang terjadi ke depannya. Termasuk Mama Nita yang berada di barisan paling depan sebelah kanan. Dirinya memang sudah pasrah, tetapi hatinya jauh lebih senang karena rencana yang dikatakan oleh Fatma benar-benar berjalan dengan lancar. Hingga suku Laringking dan suku Walunggung runtuh secara bersamaan.
"Kalian semua sekarang adalah milikku. Aku yang akan menjadi penguasa pulau Parantua mulai sekarang. Bersyukurlah kalian karena aku membutuhkan kalian menjadi budakku. Tak membunuh kalian seperti penduduk yang melakukan perang di luar sana," ujar Hendro.
Dua orang anggota militer Hendra datang setelah berlari dari arah luar. Mereka berdiri tak jauh dari Hendro, menunggu Hendri mempersilakan mereka untuk bicara.
"Bagaimana? Kalian sudah pastikan semua orang-orang penting pulau ini sudah mati?"
"Kami memastikan orang-orang penting Laringking sudah mati, Tuan. Kepala suku Laringking dan istrinya sudah berangkat mengejar kapal rakyatnya yang mencoba kabur dari sini. Mereka tampaknya dengah berperang, terlihat dari kepulan asap di tengah lautan sana saat kami meneropong. Dengan kapal kecil dan senjata seadanya, mereka tak akan menang, Tuan," ujar salah satu pasukan militer.
"Bagimana dengan Walunggung?" tanya Hendro.
"Putra dari kepala suku Walunggung yakni Beisam dan Beinor telah gugur di medan perang. Orang-orang penting Walunggung juga sudah berjatuhan. Sementara Beila telah ikut dengan kapal yang dikejar oleh Barantungga. Tetapi ... Kepala Suku Juharia telah menghilang tanpa jejak."
Hendro berdecak mendengar pernyataan terakhir prajuritnya. "BODOH! Lantas, kalian akan diam saja? Cari Juharia hingga ketemu! Sangat berbahaya jika dia tiba-tiba muncul melakukan pemberontakan saat pulau ini aku bangun ulang!" ketusnya kesal.
"Baik, Tuan! Kami akan mencarinya kembali."
Hendro mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Jika dia tak kunjung ditemukan, bisa jadi dia telah mati. Jika tidak salah, aku sempat menembak seorang wanita yang menggunakan kain untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Wanita itu tertembak dan akhirnya terjatuh ke sungai yang lantas. Jika benar, dia pasti sudah mati." Hendro tersenyum miring penuh kebanggaan dengan pemikirannya sendiri.
Di sisi lain, perang antara Barantungga dan Royan masih berlanjut. Sudah puluhan panah yang saling terlembar dari dua arah. Bahkan Royan mendapatkan luka berlubang satu di lengannya. Beruntung panah tersebut tak beracun, hingga tak membahayakan nyawanya.