Tengah malam yang gelap, Royan tengah duduk di pinggir kapal dengan tatapan menerawang jauh. Yudan yang baru saja bergantian mengemudi kapal dengan salah satu tim mereka pun memilih mendekati Royan. Kedatangan Yudan membuat Royan tersadar, lalu menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada yang lebih tua.
"Duduk, Mas Yudan!"
Yudan pun duduk di samping Royan dengan hati-hati agar tak terjatuh. Helaaan napasnya yang cukup keras kembali menyita perhatian Royan.
"Saya tidak pernah menyangka akan benar-benar berhasil meninggalkan Pulau Parantua bersama dengan Fatma. Ini semua berkat kamu, Royan."
"Ah, Mas Royan bisa aja. Ini juga karena kegigihan Mbak Fatma dan Mas Yudan. Kalau cuma saya yang maksa, nggak bakal bisa juga, Mas. Saya bisa apa tanpa bantuan Mbak Fatma yang mengerti seluk-beluk pulau itu," sahut Royan.
"Dan kamu bergerak berkat Beila. Kamu itu sama seperti saya dulu. Bedanya saya tertangkap, kamu tidak. Saya berani memutuskan untuk pergi dari pulau waktu itu demi Fatma. Rencananya saya akan pergi ke Indonesia dan melaporkan pulau Parantua itu. Ketika bala bantuan datang, saya akan menuju Parantua untuk menjemput Fatma. Kami akan hidup bersama dengan bahagia. Itulah yang saya pikirkan saat pertama kali nekat untuk melarikan diri. Tapi takdir tak merestui kebahagiaan itu. Saya malah mendekam di dalam penjara bawah tanah. Awalnya disiksa, hingga akhirnya ada kabar baru bahwa kami akan dijadikan pemuda yang sehat. Tujuannya untuk mengambil organ berharga kami. Sangat mengerikan dan kejam Barantungga itu, Royan."
Royan merinding mendengarnya. Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalanya tentang Yudan dan perjalanan hidupnya selama di Parantua. Namun membahasnya sekarang sepertinya terlalu dini. Mereka baru saja terluka, tak mungkin untuk menyentuh luka itu lagi. Sebab rasanya pasti akan sangat berdenyut sakit.
"Ada hanyak yang pengin saya tanyakan sama Mas Yudan. Tapi sekarang kayaknya bukan saatnya. Kita harus saling menyembuhkan luka satu sama lain dulu. Lalu nanti bakal saling cerita satu sama lain. Bareng Mbak Fatma sama Beila juga," kata Royan tersenyum simpul.
Yudan tertawa sambil menepuk pundak Royan. "Tentu, Royan. Ada banyak yang perlu kita ceritakan nanti. Terpenting adalah bagaimana menata kehidupan ketika kita sampai benua kita."
"Oh iya! Saya harus charger hp saya dulu. Kira-kira di kapal ini bisa nggak ya, Mas? Soalnya saya perlu hubungi keluarga buat ngurus kedatangan kita. Gimanapun juga, kita nggak bisa sembarangan berlabuh nanti. Kudu lapor dulu. Jadi kalau hp saya bisa aktif, saya bisa hubungi keluarga saya," ujar Royan.
"Ada. Bisa. Mana hp kamu? Biar saya yang urus. Saya pernah ikut kepala suku Walunggung dengan kapalnya yang besar. Saya tahu di mana dan bagaimana cara mengisi dayanya," ujar Yudan menadahkan tangannya.
"Eh, beneran, Mas? Bentar-bentar. Saya selalu bawa. Saya plastikin selalu biar aman," kata Royan meyingkap bajunya.
Ternyata Royan memulun ponselnya dengan plastik dan mengikatnya di perut. Royan membuka penutup plastik itu dengan hati-hati. Tak ada kecacatan pada ponsel itu.
"Kayaknya aman deh, Mas. Ini hp saya tolong di-charger dulu. Moga masih bisa nyala deh. Saya yakin sih hp itu baik-baik aja. Cuma baterainya aja yang habis," tutur Royan seraya menyerahkan ponselnya oada Yudan.