BAB 2 :
Dengan perlahan, aku melangkahkan kakiku keluar dari kereta. Sepi dan suram. Itu lah kesanku terhadap dunia tersebut. Pintu kereta kembali menutup di belakangku dan kereta mulai bergerak kembali. Ke mana aku pergi? Menurut penglihatanku, semuanya terlihat normal dengan dunia sebelumnya. Hanya beda kabut hijau ini saja. Apakah di sini ada orang? Atau hanya aku seorang diri di sini?
Selama aku menyusuri arah panah keluar, aku mendengar suara – suara aneh yang menggema. Entah suara apa itu, aku tidak mengenalinya. Sesampai di luar stasiun, bulan yang besar itu menyinari langit malam. Aku memandang bulan purnama itu. Ya, sangat indah. Bagiku, bulan itu sangat cantik dan lembut. Dan aku tidak pernah bosan untuk memandangnya. Apakah kamu juga sama? Bagaimana menurutmu tentang bulan? Cantik bukan? Saat aku memandang bulan, seakan masalahku menghilang. Aku sanggup memandang bulan berjam – jam tanpa merasa bosan.
“Siapa kamu?” tiba – tiba sebuah suara perempuan mengagetkanku. Aku segera menengok ke arah sumber suara itu. Di depanku berdiri seorang gadis perempuan memakai sweter berwarna putih dan rambut hitamnya dikuncir satu. “Di mana ini?” tanyanya lagi dengan kebingungan. Kenapa bisa ada orang di sini? Harusnya tidak ada. Ya kan? Harusnya tidak ada manusia di sini. Apakah tempat ini juga ada manusia yang tinggal? Apakah ada penduduk di sini? Perempuan itu mendekatiku dan raut wajahnya terlihat kebingungan. “Tempat apa ini?” tanyanya. Aku tidak bisa menjawab apa pun. Aku masih syok dan otakku masih terus berusaha mencerna apa yang terjadi? Kenapa ada orang lain di sini? Dilihat dari tingkahnya yang kebingungan, sepertinya ia bukan manusia dari sini. Apa ia ikut naik kereta juga? Tapi.. aku tidak melihat ia di mana pun. Dan saat aku turun dari kereta, aku tidak melihat ada orang lain selain aku.
“Kamu.. bagaimana kamu bisa kemari?” tanyaku ragu. “Aku tidak tahu!! Saat aku membuka mata, tiba – tiba aku sudah berada di sini” jawabnya. “Apa kamu menaiki kereta?” tanyaku tidak percaya padanya. “Kereta? Kereta apa?” tanyanya lagi dengan tambah bingung. “Kamu tinggal di sini?” tanyaku lagi yang masih berusaha mencari tahu. Wajahnya berubah menjadi kesal. “Hey, kamu tuli ya?” tanyanya. “Dari tadi sudah kukatakan, JIKA AKU TIBA – TIBA ADA DI SINI!!” tambahnya dengan nada lebih ditekan. Aku terdiam. Aku tidak bisa berpikir, apa ini? Kita bisa datang ke dunia ini tanpa harus naik kereta? Atau kah ada sebuah kesalahan? Saat otakku sedang menerka – nerka, ada sebuah suara yang menggema. Terdengar seperti jaraknya sangat jauh tapi tidak terlalu jauh. Aku dan perempuan itu terdiam saling berpandangan. “Suara apa itu?” tanyanya padaku. Aku hanya terdiam dan hanya memandang ke sumber suara yang entah ada di mana. “Paus kah itu?” pertanyaan yang membuatku mengerutkan dahi heran dan menengok ke arahnya dengan wajah tidak percaya dengan pertanyaan itu. “Kenapa? Bukan kah itu suara paus?” tanyanya heran dengan wajah serius. Ya.. itu tidak salah. Serius? Di tengah kota? Paus?