TRANSMIGRASI

Oleh: Shine

Blurb

Jakarta, pukul 02.15 WIB.

​Harumi mengusap matanya yang perih. Di buku novelnya, bab terbaru novel "Obsesi" baru saja selesai ia baca. Alih-alih merasa puas, Harumi justru ingin melempar novelnya ke dinding.

​"Bodoh banget sih, Alesha Hazel!" gerutu Harumi tertahan. "Punya segalanya, cantik, kaya, tapi otaknya cuma isinya obsesi sama cowok yang jelas-jelas nggak suka dia. Kenapa antagonis di novel ini harus se-impulsif itu, sih?"
​Harumi menghela napas panjang.

Besok dia harus lembur di kantor tempatnya bekerja sebagai asisten Pribadi disalah satu perusahaan besar, tapi otaknya masih penuh dengan kekesalan pada karakter Alesha yang menghancurkan hidupnya sendiri demi cinta buta. Dengan langkah gontai, Harumi menuju kamar mandi apartemen nya untuk cuci muka sebelum tidur.
Dan...

​Zlap!

​"Eh-"

​Lantai yang biasanya kering itu entah kenapa terasa sangat licin. Dalam sepersekian detik, keseimbangan Harumi hilang. Kepalanya menghantam pinggiran wastafel dengan keras. Pandangannya menggelap, menyisakan sisa rasa sakit yang berdenyut sebelum semuanya menjadi sunyi total.

Ruang yang Berbeda

​Harumi merasa tubuhnya tenggelam di atas tumpukan awan. Wangi lavender yang mahal menusuk penciumannya-sangat berbeda dengan bau ruangan di Apartemen nya.

​Saat matanya terbuka, Harumi tidak melihat langit-langit kamarnya. Di atasnya, tergantung sebuah lampu kristal kecil yang elegan. Ia bangkit berdiri dengan kaget, dan seketika itu juga matanya membelalak.

​"Ini... bukan kamarku," bisiknya.
​Kamar itu sangat luas. Dindingnya didekorasi dengan gaya feminim girly yang sangat nyaman namun terasa sangat mahal. Ada lemari raksasa berisi gaun-gaun bermerek dan rak sepatu yang nilainya mungkin bisa membayar biaya kuliah Harumi sampai lulus.

​Tok, tok, tok.

​Pintu terbuka pelan. Seorang perempuan paruh baya dengan seragam pelayan (maid) masuk sambil membawa nampan perak berisi steak dan jus jeruk segar.

​"Nona Alesha?" panggil pelayan itu dengan suara gemetar, seolah takut akan dipukuli atau diteriaki. "Saya bawakan makan malam. Saya tahu Nona tadi bilang tidak mau makan sampai Tuan mencabut hukuman karena Nona bolos sekolah, tapi..."

​Harumi mematung. Alesha? Hukuman bolos sekolah?

​"Tunggu," potong Harumi. Suaranya terdengar lebih tinggi dan lebih merdu dari suara aslinya. "Kamu panggil aku siapa tadi?"

​Pelayan itu tampak semakin pucat, ia menunduk dalam-dalam. "Maaf, Nona Alesha Hazel. Saya tahu Nona masih marah kepada Tuan dan Nyonya karena dilarang pergi ke balapan liar malam ini, tapi tolong makan sedikit saja agar Nona tidak sakit..."

​Harumi merasa dunianya berputar. Balapan liar? Larangan orang tua? Itu adalah plot di bab awal novel yang baru saja ia maratonkan!

​"Nona... apakah Nona baik-baik saja? Kenapa Nona melihat saya seperti itu?" tanya pelayan itu hati-hati karena Harumi hanya diam melongo.

​Harumi menatap tangannya yang putih, halus, dan berkuku cantik dengan nail art yang sempurna . Ia kemudian menatap cermin besar di sudut kamar. Di sana, terpantul wajah  yang sangat cantik persis seperti wajah harumi yg dulu namun ini versi remaja imutnya, namun memiliki tatapan yang sombong-wajah yang digambarkan sebagai 'Alesha Hazel, si perusak suasana'.

​"Demi Tuhan..." batin Harumi berteriak. "Aku benar-benar masuk ke tubuh antagonis bodoh ini?!"

Lihat selengkapnya