Trifecta Of The Abbys

Iman Ali Janovit
Chapter #1

Prolog

Malam itu, langit tidak sekadar gelap, tapi juga perlahan retak.

Cahaya oranye mengoyak malam, menukik liar ke bumi dengan suara raungan yang mengguncang seluruh dunia. Meteor itu kelak disebut Punctum Dimensio. Benda itu jatuh tidak sekadar hanya membawa kehancuran, tapi juga membuka pintu-pintu dunia yang selama ini tersembunyi. Dimensi demi dimensi bertabrakan, dan perang pun dimulai bahkan sebelum manusia sempat bertanya: apa? dan kenapa?

Pertempuran yang terjadi bukanlah perang antara negara ataupun manusia melawan manusia, tapi antara realitas. Ras-ras asing yang bermunculan, mereka di sebut dengan klan. Teknologi dan sihir saling beradu dalam ledakan yang seharusnya tidak akan pernah ada dalam sejarah. Tapi seperti perang pada umumnya, semua ini akhirnya hanya menyisakan abu.

Dari abu itu, sebuah dunia dibangun dan banyak yang menyebut bahwa akan menjadi sebuah awal yang baru—dengan janji perdamaian dan keadilan.

Tapi itu hanya untuk mereka yang tinggal di dunia atas: tempat gedung tinggi mencakar langit, tempat hukum bisa dibeli, dan cahaya tak pernah padam.

Sedangkan sisanya... dibuang ke bawah dan tak dipedulikan.

Di dunia bawah, matahari hanya sesekali menembus celah bangunan yang runtuh. Bau besi dan peluh jadi keseharian. Orang-orang hidup bukan karena harapan, tapi karena tidak ada jalan lain selain harus terus bertahan. Tak ada yang peduli pada mimpi di sana—kecuali tiga anak yang tumbuh bersama, saling mengandalkan tanpa pernah menyebutnya sebagai kasih sayang.

Yzucska, bocah dengan senapan lebih tinggi dari tubuhnya. Ia jarang bicara, lebih sering mengukur dunia dengan pandangannya yang terlalu tajam di bandingkan anak-anak yang seusianya.

Dimas, pewaris darah Solvaria. Sayapnya tumbuh di usia sepuluh tahun, dan sejak itu, ia belajar menahan ejekan sambil terus membawa semangat dalam dirinya.

Kael, anak laki-laki yang tak pernah menangis walau tidur di lantai beton. Ia membawa pedang kutukan yang beratnya melampaui tubuhnya.

Suatu hari, seseorang dari dunia atas turun ke bawah. Petugas keamanan. Seharusnya dia mengawasi, memukul, atau minimal memaki. Tapi pria itu berbeda. Ia datang bukan dengan senjata, tapi dengan tangan kosong dan mata lelah.

Lihat selengkapnya