Trifecta Of The Abbys

Iman Ali Janovit
Chapter #2

Chapter 1

Hujan gerimis yang menyelimuti lereng-lereng gang sempit untuk sesaat menghapus jejak polusi, digantikan oleh aroma tanah basah yang menyesakkan. Angin dingin menusuk di antara bangunan kumuh, menembus hingga ke tulang sumsum.

Seorang perempuan berjubah hujan lusuh berlari dengan tergesa-gesa. Napasnya tersengal, matanya liar menatap ke depan, seolah dikejar bayangan tak kasatmata yang bisa-bisa membekukan darahnya.

Di belakangnya, sekitar sepuluh meter, dua sosok berjubah hujan juga namun berwarna hitam, membuntuti, menyatu dengan kegelapan gang seperti predator yang sedang mengincar mangsanya.

"Ini gawat... Seharusnya aku mendengarkan Ibu..." gumam perempuan itu dalam hati, tubuhnya bergetar hebat antara dingin dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

Gang-gang itu bercabang seperti labirin tak berujung. Rumah-rumah berdempetan rapat, dinding-dindingnya lembap dan berlumut. Di cuaca seperti ini, siapa sudi keluar menolong? Apalagi ini dunia bawah, sarang cerita horor tentang makhluk lapar yang berkeliaran saat hujan turun sudah menjadi makanan sehari-hari penduduk.

Langkah kaki di belakangnya semakin dekat, seperti gendang kematian yang berirama. Bisik-bisik aneh berdesir di telinganya, kata-kata tak jelas yang justru menambah kengerian. Kedua pengejarnya berpencar, bergerak hendak menjepit dari dua arah.

Panik melumpuhkan nalarnya. Perempuan itu berbelok ke lorong sempit di arah kirinya, secercah harapan mencari jalan keluar tersimpan lebat di hatinya. Namun lorong itu buntu.

Dengan punggung menempel pada tembok yang dingin dan basah, ia hanya bisa menatap ngeri saat kedua pria itu mendekat, mengepungnya seperti serigala yang kelaparan.

"A-apa yang kalian mau?!" suaranya tercekat, menggema lemah di antara dinding-dinding gang yang lembap.

Salah satu pria, bertubuh besar dengan suara berat menggeram, menyeringai penuh kemenangan. "Kami hanya... ingin bersenang-senang, Nona manis."

Perempuan itu menelan ludah dengan susah payah, tubuhnya membeku ketakutan.

"Kau ini... peri, kan?" lanjut pria itu, matanya menelanjangi tubuhnya seperti ular menatap mangsa tak berdaya. "Jarang sekali kami melihat peri di dunia atas. Biasanya kalian bersembunyi di tempat khusus yang bahkan polisi klan lain dilarang masuk," ia terkekeh sinis, "tapi... harga dirimu di dunia bawah ini tak ada artinya. Tak ada yang akan menolongmu di sini."

Perempuan itu mundur perlahan, mencari celah untuk melarikan diri, namun tembok dingin dan tinggi menghentikan langkahnya. Tak ada lagi ruang untuk menghindar.

"Kami akan menjualmu," kata pria yang lebih kurus dengan nada serakah, "peri sepertimu sangat berharga. Klan ternama dari ribuan klan. Meskipun bukan dari empat klan besar, tetap saja kami bisa kaya raya."

Petir menyambar di kejauhan, cahayanya yang sesaat memperlihatkan langit kelabu yang berat, terkurung bangunan-bangunan tinggi berkubah suram. Dunia seolah menahan napas, menunggu malapetaka.

Kedua pria itu melangkah semakin dekat, aroma basah dari pakaian mereka bercampur bau anyir yang membuat perut perempuan itu mual.

"Tolong..." suaranya nyaris tak terdengar, hanya bisikan lirih yang penuh keputusasaan.

Salah satu pria tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di kegelapan. "Siapa yang akan menolongmu di tempat sekotor ini?"

DORR!

Sebuah peluru api menghantam kepala pria bertubuh besar. Tubuhnya ambruk ke genangan air di tanah, darahnya mengalir, bercampur dengan air hujan yang semakin deras.

Semuanya membeku dalam keterkejutan yang mencekam.

Suara baru terdengar dari atas bangunan, tenang namun tajam.

"Menjijikkan sekali," gumam seorang pemuda dengan nada jijik yang ketara.

Di atas atap, berdiri seorang lelaki muda dengan tangan terlipat santai di dada. Lengan bajunya tergulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang. Rambutnya bergelombang acak-acakan, basah oleh hujan, namun matanya memandang ke bawah dengan tatapan menilai, seolah melihat sesuatu yang tidak penting. Senyum lebarnya, putih dan berseri seperti iklan pasta gigi, menghiasi wajah tampannya.

"Siapa kau?!" teriak pria yang tersisa, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan yang membuncah.

Pemuda itu adalah Dimas. Dia hanya tertawa kecil, geli dengan pertanyaan itu. "Itu pertanyaanmu?" Ia menggeleng pelan, seolah tak percaya dengan kebodohan lawannya.

"Ayolah, Paman. Seharusnya kau bertanya... apa kesalahanmu." Nada suaranya berubah dingin, mengisyaratkan bahaya yang mengintai.

Tanpa aba-aba, pria itu melompat, tubuhnya melayang di udara—tendangannya menghantam dada Dimas dengan keras, membuatnya terpental ke belakang dan jatuh membentur tanah dengan keras.

"Berisik. Banyak omong. Dasar Lemah," ejek pria itu, tertawa mengejek di bawah guyuran hujan yang semakin deras.

Dimas, yang terbaring di tanah, tertawa pelan sambil bangkit, menepuk-nepuk bajunya yang basah.

"Menyerang orang yang sedang bicara? sungguh tidak sopan," ucapnya dengan nada datar, namun matanya kini memancarkan dingin yang menusuk.

Ia tersenyum tipis, bukan lagi senyuman yang ramah, melainkan senyum penuh ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Ingatlah namaku baik-baik... Dimas." Bisikannya pelan, namun setiap suku katanya terasa seperti desisan ular berbisa.

Senyumnya kini bukan lagi senyum santai yang menghiasi wajah tampannya—melainkan seringai maut yang memperlihatkan sisi gelapnya.

"Kau mungkin tidak sempat mengingatnya," bisiknya lagi, lebih rendah, "karena sebentar lagi kau akan lenyap dari muka bumi."

Pria pengejar itu kembali menyerang, gerakannya kali ini lebih cepat dan brutal, didorong oleh ketakutan dan amarah yang memuncak. Namun Dimas, dengan gerakan santai, menahan tendangan lawannya hanya dengan satu tangan.

"Agresif, ya?" gumam Dimas santai, seolah sedang mengomentari cuaca buruk.

Dan saat itu—

Semburat cahaya oranye-emas meledak dari tubuhnya, menyilaukan mata. Angin kencang berhembus tiba-tiba, menerbangkan air hujan seperti badai kecil.

Dari punggung Dimas, sepasang sayap bercahaya mekar, kilauannya seperti fajar pertama yang menyingsing di kegelapan dunia bawah.

Tubuhnya mengalami perubahan yang mengerikan. Kakinya berubah menjadi cakar-cakar kokoh yang tajam, wajahnya perlahan membentuk paruh burung emas yang runcing, meskipun sorot matanya tetap tajam dan cerdas, memancarkan kecerdasan yang dingin.

Pria pengejar itu mundur beberapa langkah, wajahnya pucat pasi, ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mencengkeram hatinya.

"Kau... kau dari klan Solvaria...?! Itu mustahil..." gumamnya gemetar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dimas tersenyum miring, menahan tetesan hujan yang mengalir di ujung paruhnya yang berkilauan.

"Sebagian kebenaran memang selalu disembunyikan... demi ego tertentu, bukan?" ujarnya pelan, namun kata-katanya menusuk seperti belati.

Lihat selengkapnya