Trifecta Of The Abbys

Iman Ali Janovit
Chapter #3

Chapter 2

Pria bertopi keren itu, yang dalam sekejap mata berubah menjadi makhluk mengerikan, setengah hiu dan setengah manusia, melompat dengan gerakan tak wajar ke arah tiga sahabat.

"Gigitan Raja Laut!" geramnya, memperlihatkan deretan gigi runcing dan tajam. Terjangan dari anggota klan Aqua itu begitu dahsyat hingga Kaelin, Yzucska, dan Dimas terpencar.

"Menjengkelkan..." Yzucska mendengus kesal. "Baru juga datang, kita langsung di jamu serangan dadakan seperti itu."

"Formasi perisai dan pedang," perintah Kai datar, kembali pada nada seriusnya.

Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Dimas mengerti maksud Kai.

Seketika, transformasi mode Garuda kembali menyelimuti tubuh pemuda itu. Sayap-sayap bercahaya membentang lebar, siap untuk bertempur.

"Waktunya beraksi," gumam Dimas, matanya memancarkan semangat yang membara.

Seperti saat menghadapi klan bayangan, wujud Garuda Dimas kembali mengejutkan lawannya.

"Klan Solvaria? sepertinya kau adalah malaikat cacat yang dibuang, ya? Bentukmu saja seperti burung," ejek pria setengah hiu itu, tawanya menggelegar merendahkan.

"Apa yang dia katakan, Yzucska?" tanya Dimas heran, sedikit terusik dengan nada hinaan itu.

"Dia bilang gaya sok kerenmu itu seperti tikus yang sebentar lagi mau mati," jawab Yzucska asal, menerjemahkan dengan seenaknya melalui alat penerjemah yang dia ambil dari polisi klan bayangan tadi sambil bergerak menjauh, mencari posisi strategis untuk menggunakan snipernya. Sebuah seringai kecil tersungging di bibirnya melihat ekspresi kesal Dimas.

"Musuh kali ini... sepertinya memang harus dinaikkan level kesulitannya untuk melawanku," gumam Dimas, nada bicaranya menunjukkan tekad yang membara.

Baku hantam tak terhindarkan. Dimas dan lawannya yang setengah manusia setengah hiu terlibat dalam pertarungan fisik yang sengit. Pukulan dan tendangan beradu dengan keras, menciptakan gelombang kejut di udara. Stamina keduanya seolah tak terbatas, bagai energi matahari yang tak pernah pudar.

"Ini menarik!..." tawa pria setengah hiu itu terdengar senang di tengah sengitnya pertarungan.

"Tidak ada satu pun dari klan Solvaria yang bertarung dengan baku hantam secara langsung. Biasanya mereka hanya mengandalkan serangan cahaya jarak jauh."

"Sepertinya kau menghinaku lagi, ya?" Dimas menyeringai sinis, matanya menantang.

Sebuah pukulan cahaya dari Dimas berhasil mengenai dada lawannya, membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah. Namun, serangan itu terasa bagai meninju samsak kosong. Tidak memberikan dampak yang berarti.

"Kau layak dipuji, anak muda dari klan Solvaria..." pria setengah hiu itu tersenyum miring, meremehkan. "Kau bahkan bisa memberikanku serangan balik. Namun, itu saja belum cukup untuk menumbangkanku."

Sementara itu, Yzucska telah mencapai jarak sekitar 700 meter dari medan pertempuran. Dengan tenang, ia menyiapkan snipernya, mencari posisi yang paling menguntungkan untuk menembak. Jari-jarinya lincah memasang peluru dan membidik dengan fokus tinggi.

"Tes... tes," Yzucska mengetuk-ngetuk earphone di telinganya. Alat kecil itu bukan hanya sekadar earphone, melainkan juga alat komunikasi canggih. Dua sahabat Yzucska juga memakainya.

"Masuk! Masuk!" bisiknya, mencoba menghubungi kedua sahabatnya. Setelah beberapa saat, ia berhasil terhubung.

"Bagaimana menurutmu, Kai?" tanya Yzucska, suaranya pelan namun jelas.

"Kenapa kita memakai formasi pedang dan perisai?" lanjutnya, sedikit penasaran dengan taktik yang dipilih Kai.

"Aku tidak bisa menyerangnya sebelum dia benar-benar melemah," jawab Kai melalui earphone, nadanya serius.

"Klan Aqua... karena mereka tinggal di kedalaman laut yang tak tersentuh, racun dan kutukan biasa tidak akan mempan. Kita harus menguras tenaganya terlebih dahulu."

"Dimengerti," balas Yzucska singkat, jarinya sudah siap di pelatuk.

"Jadi, kau memintaku menembakkan peluru sebanyak mungkin agar fokusnya terpecah olehku dan membuatnya lengah sehingga serangan membabi buta Dimas akan mengenainya dengan impact besar?" Yzucska memastikan strateginya.

"Benar sekali," jawab Kai tegas.

"Selain itu, jika pelurumu mengenainya juga, kesempatan kita akan semakin besar. Luka yang dihasilkan pelurumu akan sangat mengganggu fokusnya," tambah Kaelin, memikirkan setiap detail rencana.

"Dimas, kau dengar apa yang Kai katakan?" Yzucska memastikan rekannya.

"Tentu sajqa. Dari tadi aku mendengarkan kalian enak mengoceh sementara aku di sini bertarung dengan seriusan," dengus Dimas kesal, sambil menghindari serangkaian pukulan dan tendangan dari lawannya yang datang tanpa henti.

Kali ini, Dimas melancarkan tendangan menyamping yang sangat keras dengan kakinya yang telah berubah menjadi cakar tajam. Namun, lawannya bergerak lebih sigap. Serangan mendadak itu berhasil ditangkis, dan pria setengah hiu itu balik menyerang dengan pukulan keras yang membuat Dimas terpental beberapa meter.

Dengan cepat, Dimas kembali menyerbu, meluncurkan pukulan dan tendangan dengan kecepatan yang meningkat. Hingga pada akhirnya, sebuah tendangan tipuan menjadi pengalih perhatian untuk pukulan keras tangan kanannya yang bersinar samar, memancarkan energi yang perlahan menyembuhkan luka-lukanya. Tinju Dimas menghantam telak pria bertopi keren itu, membuatnya mengalami nasib yang sama seperti Dimas sebelumnya, tergeletak tak berdaya.

"Pukulan ini setidaknya bakal kasih impact bagimu dalam pertarungan nanti," kata Dimas terengah-engah, keringat membasahi pelipisnya, dan beberapa luka terlihat di tubuhnya.

Lihat selengkapnya