Trifecta Of The Abbys

Iman Ali Janovit
Chapter #4

Chapter 3

Setelah kepergian hujan, sinar matahari mulai merayapi bangunan-bangunan kota di atas sana. Namun, dari ketinggian, segalanya tampak membisu. Di perut bumi, jauh di kedalaman yang tak terjangkau, denyut kehidupan justru bersemi. Di sanalah, para buangan dari berbagai Klan membangun dunia mereka sendiri.

Sesekali, beberapa di antara mereka akan menginjakkan kaki di permukaan, memastikan kota bawah tanah tetap tersembunyi dari intaian polisi Klan. Sebuah harga mahal harus dibayar untuk sekadar menjejakkan kaki ke dunia bawah, belum lagi kata sandi khusus yang menjadi gerbangnya. Tertangkap oleh aparat Klan atau pemerintah sama saja dengan hukuman kerja paksa tanpa upah yang layak, dalihnya demi inilah, demi itulah.

Maka, di kegelapan bawah tanah itulah mereka mencari suaka. Namun, tidak semua sudut dunia bawah itu kelam. Di beberapa tempat, hati-hati yang tulus masih berpendar. Salah satunya adalah Sektor C-17.

Pertarungan sengit yang meninggalkan jejak luka di tangan Dimas telah usai. Kini, Dimas, Yzucska, dan Kai menuruni tangga menuju rumah mereka di Sektor C-17. Langkah kaki mereka menggema di lorong sunyi yang mereka lalui.

"Apa kalian tidak merasa ada yang ganjil?" Dimas memecah keheningan, suaranya memantul di dinding-dinding lorong.

Kai dan Yzucska serentak menoleh.

"Maksudku, bukankah aneh melihat kepala polisi berpakaian serba putih seperti tadi?" lanjut Dimas sambil mengusap tangannya yang terasa perih akibat serangan gelembung Huk.

"Mungkin itu seragam dinas baru, Dimas. Coba gunakan sedikit akalmu." balas Yzucska sambil menunjuk kepalanya.

"Aku hanya menduga-duga saja! Kau tahu itu!" sahut Dimas dengan nada kesal.

"Entahlah. Aku juga merasakan keanehan itu. Bukankah tugas polisi Klan adalah menertibkan pertarungan ilegal antar Klan, apalagi yang melibatkan orang-orang dari dunia bawah? Tadi jelas-jelas ada perkelahian, bahkan pembunuhan, ditambah kita ikut terlibat, mengapa kita tidak ikut ditangkap?" timpal Kaelin, kerut keningnya menandakan ia sedang berpikir keras sambil mempercepat langkahnya.

"Ternyata otakku tak sepolos seperti seseorang yang aku kenal." Dimas menyeringai puas ke arah Yzucska, merasa ada yang membelanya.

Yzucska hanya mendengus. Tak lama kemudian, mereka tiba di ujung lorong, di mana cahaya lembut menyambut.

Sektor C-17.

Satu kata. Kumuh.

Langit-langit gua yang besar yang telah di sulap sedemikian rupa oleh teknologi sederhana agar terlihat seperti langit biru, tidak bisa menyembunyikan identitas aslinya sepenuhnya.

Abbys. Dunia bawah ini telah berevolusi sepenuhnya. Kota-kota sebelumnya yang di jelajahi oleh ketiga sahabat sudah tidak aman lagi.

Setelah daratan-daratan strategis berpisah ke langit atau lebih tepatnya terbentuk dunia atas, apa yang ada di bawah perlahan menemui kehancurannya.

Tidak ada kehidupan dari hewan-hewan yang menjadi sumber pangan atau tanam-tanaman juga. Semuanya menjadi langka. Dan bahkan hewan-hewan raksasa nan buas mulai menguasai dunia bawah.

"Menurut kalian, kota dalam gua ini bisa bertahan berapa lama?" Dimas bertanya dengan tangannya di belakang kepalanya.

Lihat selengkapnya