Langit subuh masih berwarna abu-abu. Rizal berdiri menyandar pada tiang gerbang besi yang dingin. Sisa hujan subuh masih membasahi papan SMK Pelita Bangsa, meninggalkan aroma kayu basah yang kalah oleh asap knalpot. Setiap kali paru-parunya mengembang, rusuk kirinya ikut tertarik. Napasnya terpotong sebelum penuh, bahunya naiksebentar lalu turun lagi.
"Zal! Rizal!!!" Teriakan itu membelah kesunyian parkiran yang masih kosong.
Rizal menarik napas dalam, lalu menutup mata. Ia sudah mengenali suara itu bahkan sebelum namanya disebut.
"Rizal Biantara budek, jelek, item, dekil, buluk! Nengok,napa sih kalau dipanggil ...!" teriak gadis itu lagi, suaranya menarik perhatian beberapa siswa lain.
"Apaan sih, Nad. Pagi pagi udah berisik banget lo." Rizal menghela napas panjang, ia memutar tubuhnya perlahan.
Nadia berjalan cepat, tas ranselnya melorot di satu bahu, bau parfum stroberinya mengalahkan bau aspal saat ia berdiri tepat di depan Rizal. "Lo kalo dipanggil itu nengok, item."
"Ada apa, Tuan Putri Nadia Danastri yang cantik, imut, dan menggemaskan?" Rizal memutar bola matanya. "Apa ada yang bisa hamba lakukan?"
"Nyontek Inggris. Bab Passive Voice gue blank total." Nadia berhenti tepat di depan Rizal.
"Udah ketebak. Makanya punya otak dipake belajar, janganbuat mikirin Westlife doang." Telunjuk Rizal mendorong kening Nadia hingga ke belakang
"Apaan sih lo! Pokoknya nanti gue nyontek, awas kalau enggak dikasih!" Nadia menepis tangan Rizal, tatapannya lurus ke matanya.
"Enggak!"
Nadia menyipitkan mata. Ia melangkah maju, ujung sepatunya menyentuh sepatu Rizal. "Ya udah, gue bilangin nyokap lo kalau lo sering tawuran."
"Gue tampol lo ya!" Tangan Rizal mengepal disamping pipi Nadia.
"Nih, kalau berani! Gue ngadu ke nyokap lo." Nadia menyodorkan pipinya.
"Iya, nyed."
"Apaan tadi?!"
Rizal terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap Nadia tiga detik, lalu bahunya merosot. "Iya, Tuan Putri.Cantikku. Hamba sahaya nurut. Puas?"
"Pinter. Gue tunggu di kelas." Nadia menyeringai, cahaya matahari pagi memantul di behel giginya. Ia berjinjit, menepuk kepala Rizal dua kali, pelan, seperti menenangkan anjing penjaga.
Nadia berbalik, rambut kucir kudanya berayun. Rizal tetap di posisinya. Matanya mengikuti punggung Nadia sampai hilang di balik koridor.
Beberapa siswa yang baru datang memperlambat langkah saat melihat Nadia menghilang ke koridor kelas. Dua anak kelas sebelah saling menyenggol sambil melirik ke arah Rizal.
"Itu Nadia tiap pagi nyamperin mulu ya."
"Iya. Berani juga."
"Kalau gue mah ogah deket-deket. Ntar dikira rebut wilayah."
Rizal melirik sekilas ke arah mereka. "Ada yang mau ngomong langsung?"
Kedua anak itu langsung menggeleng cepat.
"Enggak."
"Yaudah. Jalan sana." Rizal kembali melangkah menuju kelas.
Koridor mulai dipenuhi suara langkah kaki. Bel masuk pertama berbunyi nyaring, disusul derit kursi yang ditarik bersamaan dari balik jendela-jendela kelas. Beberapa siswa masih berlari sambil merapikan seragam, sebagian lain buru-buru menyembunyikan rokok sebelum guru piket lewat. Rizal melangkah melewati kerumunan, memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu mendorong pintu kelas yang sudah hampir penuh.
Lembar soal dibagikan. Meja kayu di depan Rizal penuh coretan tipe-x. Rizal meletakkan kepalanya di atas meja. "Kenapa harus ada pelajaran Bahasa Inggris sih? Kenapa juga Bahasa Inggris harus jadi Bahasa international." Rizal,membenamkan wajah di meja.
"Karena Inggris dulu negara adidaya yang jajahannya banyak, Zal. Jadi bahasanya kepake di mana-mana," sahut Beni dari bangku depan.
Rizal mendongak, matanya menyipit. "Gue nggak nanya lo, Botak." Tangannya bergerak cepat, menepuk puncak kepala Beni dengan telapak tangan terbuka.
"Tapi boleh juga. Kapan-kapan ceritain sejarahnya ke gue." lanjut Rizal.
"Well students, put your books in your bags and then there's only pen on the table, do you understand?" ucap Pak Nyoto, guru Bahasa Inggris mereka, dengan aksen Jawa medoknya yang khas.
"Yes, Sir!!!" jawab anak-anak serempak.
"You have forty-five minutes to complete the answers of this exam, don't try to cheat, and for you Rizal—keep silent!" ucap Pak Nyoto, matanya menyapu ke arah Rizal, sambil membagikan kertas ujian.
"Lah, kok saya? Salah saya apa, Pak?" tanya Rizal.
"Sudah, pokoknya kamu diam, kerjain soal!"
"Siap, komandan." Rizal menerima kertas ujian, matanya melirik ke arah Nadia yang sudah siap dengan kode-kode menyontek.
Rizal menghela napas, menuliskan jawaban di sobekan kertas kecil, lalu menyentilnya tepat ke bawah kursi Nadia.
Empat puluh lima menit berlalu, Pak Nyoto berdiri di depan kelas sambil mengumpulkan lembar jawaban satu per satu. "Time's up! Stop writing!"
Suara kursi bergeser memenuhi ruangan. Rizal menyerahkan kertas jawabannya paling akhir, lalu berjalan keluar kelas.
Nadia berdiri menunggu di depan pintu. "Eh."
"Apa?" Rizal menoleh tanpa menghentikan langkah.
Nadia menyodorkan sobekan kertas contekan. "Tulisan lo jelek."
"Ya jangan nyontek."
"Tapi bener semua."