Di ruang ICU yang berbau ozon dan antiseptik, suara detit monitor jantung adalah satu-satunya irama yang tersisa. Riki membuka matanya perlahan. Satu minggu. Itu adalah rentang waktu yang dibutuhkan Riki untuk kembali pulih. Cahaya lampu neon di plafon terasa seperti tusukan jarum. Tenggorokannya kering, suaranya yang pertama keluar hanya geraman serak yang tidak membentuk kata. Ia mencoba menggerakkan jari, tapi rasa sakit dari tulang-tulang yang baru disambung memaksanya kembali diam.
Sementara itu, di aspal Jakarta, kebenaran tentang gudang Alvita Jaya telah bermutasi dari mulut ke mulut. Di warung-warung kopi dan pojok parkiran, rumor menyebar lebih cepat dari infeksi: sebuah aliansi besar Trijaya dan Pelita Bangsa, ratusan siswa bersenjata, penyerbuan terencana yang menghancurkan markas musuh bebuyutan.
"Zal, mereka bilang kita bawa satu kompi. Nama lo disebut-sebut sebagai jendralnya," bisik Toni.
"Biarin aja," ucap Rizal, saat mereka berkumpul di warung belakang sekolah yang remang. Ia menyulut sebatang rokok.
"Rumor lebih aman daripada kebenaran. Kalau mereka mikir ini perang antar-sekolah, mereka nggak bakal nyari satu atau dua nama." Rizal menyesap kopinya yang sudah dingin. Matanya menatap aspal.
***
Hari kedua Try Out Matematika. Di kelas XII IPA 2, udara terasa berat oleh konsentrasi dan bau kertas ujian. Ruang kelas hanya diisi suara gesekan pensil 2B di atas kertas LJK. Rizal Biantara duduk di baris tengah, punggungnya tegak lurus, fokusnya terkunci pada lembar LJK di depannya. Nadia beberapa kali menoleh, melihat punggung Rizal yang tegak di baris tengah.
Brak!
Pintu kelas dibuka kasar, menghantam dinding. Semua kepala mendongak serentak. Dua orang polisi berpakaian preman masuk, diikuti Kepala Sekolah yang wajahnya sepucat kertas ujian. Langkah sepatu boots mereka berdentum di atas keramik, mematikan semua konsentrasi.
Rizal berhenti menulis. Ia meletakkan pensilnya perlahan.
"Rizal Biantara. Ikut kami," ucap salah satu petugas.
Di depan puluhan pasang mata teman sekelasnya, polisi itu menarik tangan Rizal ke depan.
Klik. Klik.
Bunyi logam itu memotong keheningan kelas. Seketika, suara gesekan kertas dan napas tertahan berhenti. Puluhan pasang mata terpaku pada pergelangan tangan Rizal, namun tak ada satu pun yang berani bersuara.
"Tunggu! Apa-apaan ini, Pak?! Rizal nggak salah! Kenapa dia diborgol?!" Nadia bangkit berdiri hingga kursinya terjungkal ke belakang, menciptakan dentuman keras. Air mata sudah menggantung di sudut matanya.
Polisi itu tidak menggubris. Ia menarik tangan Rizal, memaksanya berdiri. Rizal menoleh ke belakang, menatap Nadia dengan pandangan sayu yang dalam.
Rizal menoleh sebentar sebelum digiring keluar. "Diem, Nad. Ini bukan urusan lo," bisik Rizal. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Di ambang pintu, Kepala Sekolah membuang muka. Ia tidak sanggup menatap mata siswanya yang paling berprestasi di arena bela diri dan bermasalah itu saat diseret keluar seperti kriminal.
Suara langkah sepatu polisi menghilang di ujung koridor. Tak ada satu pun murid yang kembali mengisi LJK. Pak guru yang sejak tadi berdiri di depan kelas hanya memegang lembar soal tanpa membuka mulut.
Jarum jam terus bergerak. Nadia masih berdiri di samping kursinya. Tangannya gemetar, pensilnya jatuh ke lantai.