Matahari Jakarta di bulan Maret membawa aroma debu jalanan dan asap knalpot yang masuk ke pori-pori seragam putih-abu-abu yang mulai kusam. Di warung belakang SMK Pelita Bangsa, seng atap berderit setiap kali angin panas lewat.
Noval duduk di samping Riki. Keduanya menatap gelas masing-masing. Riki sibuk mematah-matahkan lidi bekas tusuk gorengan. Perban di dahinya sudah dilepas, menyisakan bekas luka kemerahan yang permanen.
Noval membuka bungkus rokoknya. Ia mengeluarkan dua batang sekaligus, satu ia selipkan di bibir, satu lagi ia letakkan di atas meja, tepat di sisi kursi kosong. Tangannya terdiam beberapa detik. Ia meraih kembali rokok di atas meja, lalu dimasukkan lagi ke dalam bungkus.
"Bu, kopi satu lagi," ucap Noval tanpa mendongak.
Ibu warung meletakkan segelas kopi panas di atas meja. Noval baru akan menggeser gelas itu ke arah kursi kosong di pojok sebelum tangannya membeku di udara. Uap kopi mengepul, mengenai ujung jarinya. Ia tertegun selama beberapa detik. Matanya menatap gelas itu, lalu menatap kursi kosong, lalu kembali ke gelasnya sendiri.
Noval menarik tangannya kembali, gelas kedua berdiri di tengah meja, mendingin tanpa ada yang menyentuh. Lalat kecil sempat hinggap di pinggir gelas, lalu terbang lagi. Riki melirik dari sudut mata, lalu kembali mematahkan lidi di tangannya menjadi potongan yang lebih kecil lagi.
"Zal, lo tau nggak kemarin si..." Riki memulai kalimatnya, suaranya sempat bersemangat, napasnya tercekat. Ia menunduk, pura-pura batuk, lalu meminum kopinya yang sudah pahit.
"Nggak usah dilanjutin, Ki," gumam Noval pelan.
Bel pulang berbunyi nyaring. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas sambil membicarakan Try Out yang baru saja selesai. Nadia memasukkan buku ke dalam tas perlahan. Bangku di sebelahnya masih kosong.
Nadia berdiri, tangannya sempat menyentuh sandaran kursi kosong, jemarinya berhenti beberapa detik, lalu menarik napas panjang, mengangkat tasnya, dan berjalan keluar kelas.
Nadia sampai di warung sepuluh menit kemudian. Langkah kakinya terdengar terburu-buru di atas tanah kering belakang sekolah. Rambut kuncir kudanya berantakan, dnoda tinta di ujung kemejanya. Tanpa melihat, ia meletakkan tas ranselnya di atas kursi kosong di pojok. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu duduk di kursi sebelah, meletakkan kepalanya di atas meja, di samping tasnya. Tas itu menutupi sebagian sandaran kursi.
"Gimana Try Out-nya?" tanya Novi yang sejak tadi diam di samping Noval.