TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #9

8. LANJUTIN HIDUP KALIAN

Bau karbol dan oli dingin menguap dari lantai beton bengkel Om Bewok. Matahari sore menyelinap masuk melalui celah-celah seng, garis-garis cahaya yang membelah debu-debu halus yang menari di udara. Di atas meja kayu panjang, ijazah SMA dalam map plastik biru diletakkan begitu saja, bersandingan dengan gelas kopi yang separuh isinya sudah mendingin.

Seremoni kelulusan tadi pagi berlangsung dua jam di aula sekolah yang pengap. Tidak ada pesta, tidak ada konvoi motor yang berlebihan. Hanya beberapa lembar foto yang diambil dengan kamera ponsel di depan spanduk kelulusan.

Noval, Riki, Nadia, dan Novi duduk melingkar di atas kursi plastik. Gilang berdiri di dekat pintu masuk, menyandarkan bahunya ke pilar besi sambil menatap aspal jalanan yang masih mengeluarkan uap panas.

Om Bewok menuangkan kopi ke dalam lima gelas. Tangannya berhenti sepersekian detik saat hendak mengisi gelas keenam yang biasa diletakkan di ujung meja. Ia memandang gelas itu sebentar, lalu mengembalikan teko ke atas kompor tanpa menuangkannya.

Noval menunduk. Riki menggeser pandangan ke luar bengkel. Nadia memutar sendok di dalam gelasnya tanpa benar-benar mengaduk gula yang sudah larut sejak tadi.

Noval melepas dasinya, membiarkannya menggantung tidak rapi di leher kemejanya yang mulai basah oleh keringat. Ia menatap map ijazahnya sebentar, lalu beralih menatap Om Bewok yang sedang sibuk membersihkan busi motor di sudut lain.

"Gue mau ambil hukum," Noval menatap kalender dinding bergambar bengkel yang angkanya sudah lewat satu minggu.

"Pengacaranya Om Bewok yang bantuin Rizal," lanjut Noval pelan, suaranya hampir kalah oleh bunyi klakson Metro Mini di luar. "Gue rasa gue perlu tahu caranya ngomong di depan hakim tanpa harus gemetar."

Riki mengangguk pelan. "Gue palingan ikut dagang orang tua dulu di pasar," Tangannya sibuk memutar-mutar tutup botol minuman ringan yang sudah kosong. "Belajar dagang. Lumayan buat muter modal kecil-kecilan, jalani aja dulu yang ada di depan mata. Peluang biasanya nggak nunggu kita siap."

Nadia menatap Riki, lalu berpindah ke arah jalan raya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. "Gue cari kerja. Praktis aja. Showroom motor di Ciputat butuh sales. Gue udah masukin lamaran kemarin. Besok mungkin mulai training."

"Gue juga," timpal Novi singkat. Ia tersenyum tipis ke arah Noval. "Mungkin di gerai kosmetik atau apa pun. Yang penting ada pemasukan dulu."

Suara radio Om Bewok yang memutar lagu pop mengisi kesunyian bengkel.

"Jadi, lo semua udah punya rencana masing-masing ya," Gilang berjalan mendekat ke arah meja, meletakkan kunci motornya.

"Lo gimana?" tanya Noval

"Gue mau ngejar SKS, fokus skripsi trus lulus."

"udah?" Riki ikut bertanya.

"Lanjut pendidikan polisi," jawab Gilang datar.

Nadia menoleh cepat, bibirnya sempat terbuka lalu. menutup.

Om Bewok berhenti membersihkan busi. Ia mengelap tangannya yang hitam dengan kain majun yang kusam, menatap Gilang lama, lalu mengangguk sekali.

Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil sewaan menuju Lapas. Di luar jendela, Jakarta tetap bergerak. Orang-orang menyeberang jalan, pedagang asongan mengetuk kaca mobil, dan baliho kampanye politik yang mulai memudar warnanya.

Lapas Salemba tampak seperti benteng abu-abu yang menolak cahaya. Aroma pengap tubuh manusia dan aroma pembersih lantai memenugi ruangan. Rizal muncul dari balik pintu besi yang berat.

Seragam kuning tahanannya terlihat sedikit lebih besar. Rambutnya mulai tumbuh. Ia duduk di depan mereka, hanya dibatasi meja kayu lebar yang permukaannya sudah halus karena ribuan tangan yang pernah bersandar di sana.

"Lulus semua?" tanya Rizal. Suaranya serak.

Noval mengangguk, meletakkan tangannya di atas meja. "Lulus semua, Zal. Wisuda tadi pagi."

Lihat selengkapnya