TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #11

10. KEBABASAN YANG HILANG

Aspal jalanan menuju Lapas Salemba masih menyimpan sisa panas matahari yang memantul ke kabin mobil, menciptakan fatamorgana di ujung cakrawala beton. Di jok belakang, tumpukan kotak makanan tertata. Nasi padang dengan rendang ekstra yang minyaknya mulai merembes ke kertas pembungkus, martabak manis yang aroma wisman-nya masih samar tercium, dan beberapa bungkus rokok kretek yang dulu sering Rizal hisap.

Noval duduk di kursi depan, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk map kulit berisi berkas-berkas magangnya. Ia baru menyelesaikan enam bulan pertama yang brutal di kantor advokat kenalan Om Bewok. Kemeja kerjanya licin, dasinya tersimpul dengan simpul windsor yang sempurna.

"Woy Bogel, pelan dikit bawanya, bisa berantakan nih makanan, Rizal nggak bakal mau makan," gumam Noval tanpa menoleh.

Riki, yang kini terlihat lebih berisi dan memiliki raut wajah yang lebih tenang, hanya tersenyum tipis sambil tetap fokus pada kemudi. Di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan analog pemberian Sisila.

Di kursi kemudi sebelah Riki, Gilang duduk dengan punggung tegak lurus menyatu dengan sandaran kursi. Di pundak kemeja sipilnya, aura Inspektur Polisi Satu (IPTU) tetap memancar meski ia sedang tidak bertugas.

Mereka tiba di depan gerbang Lapas yang kelabu dan penuh coretan kusam. Langkah kaki mereka bergaung di lorong pendaftaran yang pengap, berbau karbol yang tajam bercampur dengan uap tubuh manusia. Gilang memimpin jalan. Ia meletakkan kartu identitasnya di atas meja loket dengan bunyi tok yang kering.

"Kunjungan untuk Rizal Biantara," ucap Gilang. Suaranya rendah.

Petugas di balik kaca tebal mengetik nama Rizal di atas keyboard. Matanya menatap layar monitor tabung yang berkedip-kedip, menampilkan barisan data digital. Ia mengetikkan lagi dengan gerakan yang lebih lambat.

Noval merapatkan tas makanannya ke dada. Riki melihat jam tangannya untuk ketiga kali dalam satu menit.

Petugas itu mengangkat kepala, menatap Gilang lewat celah kecil di bawah kaca. "Yang bersangkutan sudah bebas, Pak. Dapat remisi total karena kelakuan baik dan beberapa potongan hari besar. Keluarnya tiga bulan lalu."

"Kapan?" tanya Gilang. Suaranya kini lebih mirip bisikan yang tertahan di tenggorokan. "Kapan tepatnya dia keluar?"

Petugas itu kembali melihat layar. Ia menyebutkan sebuah tanggal. Tanggal di mana Gilang sedang sibuk dengan laporan operasi dinasnya, tanggal di mana Noval sedang beradu argumen habis-habisan di pengadilan negeri, dan tanggal di mana Riki sedang merayakan ulang tahun Sisila dengan makan malam sederhana.

Mereka berjalan keluar dari gedung Lapas. Matahari sudah mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Di parkiran, mereka berdiri mematung di samping mobil yang masih penuh dengan makanan.

Noval mengambil kotak-kotak makanan itu dari jok belakang. Ia berjalan ke arah warung pinggir jalan yang biasanya dipenuhi pengemis di dekat gerbang Lapas. Ia meletakkan tumpukan nasi padang dan martabak manis itu di sana diam-diam, lalu berbalik masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.

Di perjalanan pulang, Riki mengemudi dengan sangat lambat di jalur kiri, matanya menatap kosong aspal di depannya. Gilang menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar, melihat lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala satu per satu.

Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Gilang duduk di tepi tempat tidur yang tertata kaku. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kontak nama Rizal.

Tangannya gemetar mengetik pesan di kolom SMS.

Zal, lo di mana? Kita tadi ke Salemba, dan kata petugas lo udah keluar. Kenapa nggak ngabarin? Kita semua nyariin lo-

Ia berhenti. Jempolnya menggantung di atas tombol. Ia menatap kalimat itu beberapa menit. Kemudian, ia menghapusnya. Ia mencoba lagi.

Gue nggak tahu harus bilang apa, tapi kenapa lo nggak-

Hapus lagi.

Layar ponsel yang terang menerangi wajah Gilang yang tampak jauh lebih tua dari usia dua puluh enam tahunnya.

Gilang menutup ponselnya, membiarkannya tergeletak gelap di atas kasur. Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar.

Di antara jutaan lampu Jakarta yang berkedip. Klakson bus kota terdengar jauh dari arah jalan raya, bercampur dengan suara knalpot motor yang melintas.

Gilang masih terjaga. Ia bangun dari posisi rebahnya. Ia meraih ponselnya lagi, membuka kontak yang sama, lalu menatap nama itu cukup lama. Jempolnya bergerak sebentar di layar, lalu berhenti lagi.

Di luar jendela, suara motor patroli melintas sebentar, lalu hilang. Ia menarik napas panjang, berdiri, lalu berjalan keluar kamar.

Dari dapur terdengar bunyi kulkas yang berdengung pelan. Langkah kaki ringan mendekat dari lorong. Chacha muncul dengan dua gelas teh hangat di tangannya. Rambutnya masih terikat asal.

Lihat selengkapnya