"Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama."
***
Juli 2015
Lampu neon di plafon ruang kerja Kanit Reskrim berkedip tidak stabil, menciptakan suara dengung rendah yang beradu dengan detak jam dinding. Di atas meja kayu, aroma kopi dingin yang sudah basi menguar bercampur bau kertas basah dan debu.
Gilang berdiri di depan papan investigasi. Ia menyapu wajahnya dengan telapak tangan yang kasar. Di bawah lampu neon yang berkedip, bayangan kantung matanya terlihat makin legam. Ia mengembuskan napas panjang, melepaskan kepulan karbondioksida.
Matanya menatap lurus ke tiga foto bertulis nama Renggo, Olay dan Krugger. Tiga ketua gangter yang sufah ia kejar satu tahun belakangan. Di bawahnya benang merah saling terhubung satu sama lain. foto-foto buram beberapa tempat prostitusi. Gudang terbengkalai yang diduga sebagai tempat transaksi narkoba dan beberapa pusat bisnis yang diduga menyewa jasa dari ketiga gangster di kota Tangerang Selatan.
Tangannya menelusuri setiap petunjuk, lalu berhenti di foto Renggo, Siluet pria yang selalu memakai masker atau tudung jaket dalam setiap rekaman CCTV, tiga anting kecil dan tatto tribal melingkar di lehernya.
Ketukan dua kali terdengar dari pintu ruangannya.
"Pak Gilang." Seorang bintara muda membuka pintu setengah badan. "Pak Nano udah kumpulin semua di ruang briefing."
Gilang mengangguk singkat. Ia meraih map perkara yang tergeletak di meja, mengambil beberapa foto hasil pengintaian, lalu mencabut dua lembar foto Olay dan Renggo dari papan investigasi.
Pintu ruangannya menutup pelan di belakangnya.
Koridor Reskrim masih dipenuhi lalu-lalang anggota yang membawa berkas perkara. Dari ruang tahanan di ujung lorong terdengar samar suara narapidana yang saling berteriak, bercampur bunyi mesin ketik tua dan dering telepon kantor yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Gilang mendorong pintu ruang briefing. Lampu ruang rapat Reskrim dipadamkan sebagian. Proyektor tua memantulkan peta Tangerang Selatan ke layar putih yang mulai menguning. Beberapa penyidik duduk mengelilingi meja panjang. Gelas kopi, map perkara, dan bungkus rokok berserakan di antara mereka.
Pak Nano berdiri di ujung meja sambil melipat tangan. "Gilang, mulai."
Gilang bangkit. Ia mengambil pointer laser, lalu mengarahkannya ke peta. "Tiga bulan terakhir ada tiga puluh dua laporan pemalakan. Sebelas penganiayaan. Empat pembakaran lapak. Delapan bentrokan bersenjata."
Titik merah bermunculan di layar.
"Awalnya semua kejadian terkonsentrasi di perbatasan Jakarta. Sekarang udah nyebar sampai Serpong, Ciputat, Pondok Aren."
Pak Nano mengangguk pelan. "Kesimpulan?"
Gilang mengganti slide. Logo Wild Liar muncul di sisi kiri. Di sisi kanan, tulisan Black Ribal.
"Menurut informasi yang beredar di lapangan, Wild Liar mulai ekspansi dari Jakarta. Mereka narik upeti dari parkiran liar, proyek bangunan, gudang logistik, sampai tempat hiburan malam."
Slide berikutnya memperlihatkan foto-foto bentrokan.
"Preman-preman lokal mulai kehilangan wilayah. Akhirnya beberapa kelompok melebur jadi satu organisasi baru."
Laser merah berhenti tepat di tulisan BLACK RIBAL.
"Mereka ngaku berdiri buat ngelawan ekspansi Wild Liar."
Seorang penyidik di ujung meja menyela. "Berarti perang rebutan wilayah biasa."
"Itu yang kelihatan di permukaan."
Ruangan kembali hening. Gilang menekan remote sekali lagi. Foto Olay memenuhi layar. "Olay. Ketua Wild Liar. Pimpinan ekspansi dari Jakarta."
Lalu berganti menjadi foto Renggo. Wajahnya tertutup masker hitam. Tudung jaket menutupi sebagian kepalanya.
Pak Nano mengernyit. "Ini?"
"Renggo. Ketua Black Ribal. Tokoh yang berhasil nyatuin kelompok-kelompok preman Tangsel."
Beberapa penyidik saling berpandangan.
"Mana mukanya?" celetuk salah satu anggota.
"Nggak ada."
"Lah terus lo yakin itu Renggo?"
Gilang mengambil pointer laser. "Foto ini diambil diam-diam sama informan saya dua minggu lalu."
Ujung laser berhenti di leher pria dalam foto.
"Perhatiin bagian sini."
Semua mata mengikuti titik merah.
"Tato tribal."
"Informan saya bilang, setiap kali orang bertato ini muncul, anak-anak Black Ribal mulai bergerak. Penarikan upeti, pengambilalihan wilayah, sampai bentrokan dengan Wild Liar."
Pak Nano masih menatap layar. "Berarti informan kamu belum pernah lihat mukanya?"
"Belum, Pak. Dia selalu pakai masker. Kadang masker, kadang buff. Kalau bukan malam, ya pakai hoodie. Tapi satu yang nggak pernah berubah..." Gilang kembali menunjuk leher di foto Renggo. "...tato tribal itu."
"Dan informan kamu yakin orang yang sama?"
"Yakin."
Pak Nano menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Masalahnya, keyakinan informan nggak bisa kita bawa ke pengadilan."
"Saya tahu, Pak." Gilang mengangguk. "Makanya sampai sekarang statusnya masih target intelijen, belum tersangka."
Ruangan kembali hening.
Tatapan Gilang masih tertuju pada foto Renggo. "Begitu juga Olay," ia mengganti slide. "Dua-duanya selalu ada di setiap laporan, tapi nggak pernah cukup dekat buat disentuh hukum."
Pak Nano menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Terus?"
"Masalahnya..." Gilang menarik napas pelan. "...mereka nyaris nggak pernah muncul."
Pak Nano menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Berarti sementara kesimpulannya masih sama."