Langit Serpong meredup, berubah menjadi warna ungu memar. Gilang mematikan mesin motornya di bawah pohon kamboja yang meranggas. Helm fullface-nya masih terpasang, menyembunyikan wajah seorang perwira yang baru saja menempuh perjalanan membelah debu pinggiran kota. Di depannya, mushola tua dengan cat putih yang mengelupas berdiri bersahaja. Suara anak-anak mengaji, cempreng dan berebut nada, mengalir keluar bersama bau sabun mandi murah dan asap lilin dari lampu teplok yang mulai dinyalakan di selasar.
Informan rahasianya, seorang mantan narapidana yang berhutang nyawa pada Gilang memberikan secarik kertas kumal tempo hari.
Rizal punya temen sekamar waktu di dalem, tinggal di dekat pasar Serpong. Namanya Rama, kalo lo bisa nemuin dia, mungkin lo bisa tanya keberadaan temen lo.
Dentum bedug maghrib menggema. Dari kejauhan, seorang lelaki bersarung dan berkopiah mendekat.
"Permisi, Pak. Numpang tanya." sapa Gilang.
"Iya Mas, ada apa?" jawab lelaki itu, menatap Gilang.
"Saya nyari orang bernama Rizal. Tinggal di sekitar sini?"
Lelaki itu mengerutkan dahi. "Rizal? Di sini nggak ada yang namanya Rizal, Mas."
Gilang terdiam. "Kalau... Rama? Kata orang dia tinggal di deket musholla ini."
"Oh, Mas Rama ada. Tapi lagi ke luar. Biasanya abis Isya baru kesini. Maaf ya Mas, saya mau adzan dulu."
"Iya Pak, terima kasih." Gilang mengangguk.
"Ayo Mas sholat dulu. Siapa tahu habis Isya Mas Rama sudah pulang."
Gilang mengangguk lemah. Ia melangkah ke tempat wudu, air dingin membasuh wajah dan lengannya. Ia sholat Maghrib di barisan paling belakang, lalu duduk di teras mushola. Ia mengamati anak-anak mengaji yang melantunkan ayat-ayat suci.
Gilang tetap duduk di teras mushola meski jamaah mulai bubar. Anak-anak yang tadi mengaji berlarian keluar sambil berebut sandal. Seorang ibu memarahi anaknya yang berlari tanpa peci. Di kejauhan, pedagang gorengan mulai menyalakan lampu minyak kecil di gerobaknya.
Ia mengeluarkan dompet kulitnya. Dari sela-sela kartu identitas dan SIM, terselip selembar foto, Jemarinya berhenti tepat di wajah Rizal.
"Besok ulang tahun lo..." Gilang menatap langit yang mulai gelap di atas halaman mushola. "Minimal tahun ini gue nemuin lo dulu."
Bzzzt! Bzzzt!
Ponsel di sakunya bergetar hebat. Kode merah masuk.
Kerusuhan antar geng di Karaoke Luxury, pusat kota. Korban jiwa jatuh. Segera merapat.
Rahang Gilang mengeras. Ia berdiri, memakai helmnya kembali dengan sentakan kasar, lalu memacu motornya membelah kegelapan Serpong.
***
Di belahan kota yang lain, di balik tumpukan peti kayu dan aroma mesiu yang mengendap di gudang tua belakang pasar, lampu pijar tunggal yang bergantung di langit-langit berayun pelan, menciptakan bayangan raksasa yang menari di dinding lembap.
Renggo duduk di kursi kayu tinggi. Urat lehernya menegang, tato tribal di belakang lehernya seolah hidup setiap kali ia berteriak. Jemarinya sibuk memutar cincin combong di jari manisnya.
"GOBLOG LU SEMUA!!! KENAPA BISA KECOLONGAN?!!" teriak Renggo menggelegar, suaranya memantul di dinding gudang yang berlumuran oli dan darah lama. Beberapa pria bertubuh besar dan berwajah keras menunduk.
"Wild Liar sudah bosan hidup, mereka berani nyerang wilayah keamanan di karaoke? Anjing!" Renggo menggebrak meja, botol-botol minuman berloncatan.
"Baron, Jon. Besok kumpulin anak-anak di wilayah masing-masing. Jangan gerak sebelum gue kasih perintah. Kita akan balas dua kali lipat," Renggo menunjuk ke arah seorang pria yang berdiri sedikit terpisah. "Dan lo, Jek, kabarin Entus! Bilang sama Entus, Black Ribal siap perang besar!"
"Asiap bossss~" jawab Jek dengan nada lemah gemulai, melenggang santai di tengah ketegangan. Jek adalah anomali di antara gangster berwajah kasar. Langkahnya gemulai, tetapi ia juga dikenal sebagai pembunuh paling dingin dan loyal untuk Black Ribal.