TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #15

13. JANJI DAN LUKA

"Siang tak pernah marah kepada malam saat ia datang bersama kegelapan. Dan matahari percaya pada bulan untuk jadi pengganti saat ia pergi."

***

Langit di atas Tanah Lot, berwarna jingga, merah marun, dan emas beradu, lalu perlahan sirna, ditelan bayangan biru kehitaman yang perlahan merayap naik dari horizon laut. Angin asin menerpa wajah Noval dan Novi yang berdiri di tepi karang, menanti matahari tenggelam.

Noval mengajak Novi merayakan hari ulang mereka yang jatuh pada tanggal yang sama. Janji lama yang akhirnya ditepati setelah bertahun-tahun penuh drama dan kesibukan karir. Keringat dingin membasahi leher Noval di balik kemeja linennya. Tangannya masuk ke dalam saku celana, mencari benda yang sudah ia siapkan satu bulan lalu.

Tepat saat matahari menghilang. Suara desing kembang api melesat dari belakang mereka, tepat dari balik tebing. Kembang api meletup menjadi warna-warni memukau. Hijau zamrud, merah rubi, dan emas menyala. Orang-orang di sekitar mereka mulai bersorak, ikut menikmati pertunjukan dadakan itu. Di tengah ledakan terakhir, yang paling besar dan terang, sebuah tulisan besar terbentuk di udara, menggunakan susunan cahaya yang dirancang khusus, WILL YOU MARRY ME?

Mata Novi membulat, memantulkan pijar cahaya warna-warni dari langit. Tangannya menutup mulut, tubuhnya mematung saat ledakan emas membentuk formasi yang menerangi seluruh bibir pantai

Noval bersiap berlutut di atas karang yang kasar, kotak cincin beludru merah marun terbuka di tangannya, tersenyum lebar.

"So sweet," desah Novi, suaranya pelan diiringi senyum lebar. "Val, liat tuh... ada yang lagi dilamar. Romantis banget." Ia menunjuk ke arah kembang api.

Novi menoleh ke arah Noval yang tidak bereaksi. Senyumnya memudar melihat Noval tanpa ekspresi. "Ko bete gitu sih mukanya? Nggak mau ngelamar gue kek gitu? Yaudah sih nggak usah!" Ia memalingkan wajahnya.

"Ini otak dipake! Jangan buat pajangan doang!" Noval menoyor kepala Novi berkali-kali, pelan tapi tegas.

"Apaan sih! Lagi enak-enak malah bikin bad mood!" protes Novi, mengusap kepalanya.

"Eh bego, tulisan tadi itu buat lu, blo'on!"

"Eh... buat gue?!" Pandangan Novi beralih dari langit ke kotak cincin di tangan Noval. Matanya berkaca-kaca. "Lo... lo ngelamar gue?!"

"Nggak jadi. Udah males. Udah gue buang aja nih cincin ke laut," ancam Noval memalingkan tubuhnya ke arah laut.

"Ya jangan gitu dong! Jadi ya ganteng, jadi ya." Novi menarik kerah kemeja Noval, memeluknya erat-erat, air matanya tumpah.

"Iya, gue mau." bisik Novi, lalu mengecup bibir Noval.

Noval memeluk Novi erat. "Kalau si bogel sama Rizal ada di sini..." gumam Noval lirih.

Novi ikut tersenyum. "Pasti lamaran lo udah dihina habis-habisan."

Lihat selengkapnya