Cahaya matahari menembus celah gorden yang tidak rapat, membentuk garis emas yang memotong karpet abu-abu kamar hotel. Riki masih di posisi yang sama sejak pukul tiga dini hari. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya melengkung, menatap botol whiskey kecil di nakas yang kini menyisakan cairan setinggi dua jari. Labelnya sudah terkelupas sedikit karena gesekan jemarinya semalaman.
Ia berdiri, bunyi krek tulang belakang terdengar saat ia memutar punggungnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Kepalanya menunduk dibawah guyuran air dingin, matanya menatap aliran air berkumpul di bawah kakinya sebelum masuk ke lubang pembuangan.
Riki menarik jeans dari koper dan kaus polos hitam, lalu melangkah keluar. Ia menyambar kunci mobil, melewati lobi dengan langkah cepat tanpa menoleh ke arah restoran.
Perjalanan dari hotel menuju Jalan Citarum jauh lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu lalu lintas berganti hijau lalu merah. Radio mobil menyala pelan, lalu dimatikannya lagi. Tangannya tetap berada di kemudi.
Pukul dua kurang lima menit, mobilnya berhenti di depan Cafe Jordin.
Di sudut Cafe Jordin, Riki menatap dasar gelas kopi yang sudah menyisakan ampas kering. Ia mengetuk telunjuk ke meja kayu. Matanya sesekali melirik angka digital di layar ponsel yang menyala setiap kali ada notifikasi masuk, lalu beralih ke arah gerbang masuk cafe yang dipayungi pohon besar.
Riki mendengus, memasukkan ponsel ke saku jeans. Ia menarik kunci mobil dari meja, lalu berdiri hingga kursi kayunya berderit panjang.
Dari ujung trotoar, seorang perempuan berjalan ke arah Cafe. Dress pendek tanpa lengan berwarna biru langit bermotif bunga-bunga putih, dipadukan dengan jaket jeans sebagai outer dan sepatu Converse high 70's berwarna putih. Beberapa pria di meja depan menoleh, mata mereka mengikuti langkah kaki perempuan itu sampai ia melewati pintu masuk.
Matanya menatap lurus ke sudut cafe. Ia berjalan mendekat ke sudut, lalu menarik kursi kayu di depan Riki. Suara gesekan kaki kursi dengan lantai semen terdengar nyaring di tengah keheningan meja mereka.
"Udah lama?" sapa Sisilia. Ia meletakkan tas jinjingnya di atas meja, jemarinya merapikan helai rambut yang menempel di pipinya yang kemerahan.
"Masih dalam batas toleransi,. Riki kembali duduk.
"Kamu nggak berubah ya, nggak pernah bikin orang nunggu," balas Sisilia menatap mata Riki.
"Udah biasa." Tangan Riki terangkat, dua jarinya bergerak naik turun, memberi kode ke pelayan di dekat bar.
Sisilia tersenyum tipis mendengar Riki memasan teh hangat dengan sedikit gula.
"Kenapa senyum?" tanya Riki melihat Sisila tersenyum. "Jadi, kenapa kamu minta aku dateng kesini?"
"Nggak, aku cuma mau ngobrol." jawab Sisilia.