TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #18

17. AWAL DENDAM

Warning : R Rated

Dua bulan setelah pergantian tahun, Caca masih bergelut di bengkel ayahnya. Bau oli dan bensin menguap dari sela-sela drum di sudut bengkel. Caca meletakkan ponsel di atas meja bengkel yang berminyak. Selepas kuliah, Caca lanjut membantu mengurus administari bengkel, sambil sesekali jemarinya bergerak di antara barisan kode di layar laptopnya. Di sudut ruangan, tumpukan draf skripsi yang belum disentuh tertindih baut dan kunci pas yang mulai berkarat.

Di depan bengkel, sebuah mobil berhenti dengan suara mesin yang halus. Caca menyambar ponselnya, lalu melangkah keluar melewati deretan motor yang sedang dibongkar.

"Yah, Caca main dulu ya," ucap Caca sembari meraih telapak tangan Om Bewok yang hitam oleh noda oli. Ia mencium punggung tangan itu sebentar.

"Jangan pulang malem-malem ya," sahut Om Bewok. Matanya menatap punggung Caca sampai gadis itu masuk ke dalam mobil dan menghilang di belokan jalan.

Lampu neon fuchsia di atas gerbang berkedip ritmis, menyiram aspal dengan warna ungu lebam. Bas dari dalam gedung menggetarkan sol sepatu Converse putih Caca. Antrean di depan pintu baja bergerak lambat di bawah tatapan penjaga pintu.

Sherly yang pertama turun dari mobil, diikuti Tika dan Indah. Caca paling terakhir. Ia berdiri beberapa langkah di belakang mereka, jarinya meremas tali tas selempang yang melintang di dada.

"Sekali aja, Ca. Lo pucat banget," Sherly merangkul bahunya.

"Gue belum pernah ke sana," sahut Chacha, matanya melirik pria berbadan tegap yang sedang memeriksa KTP rombongan di depan mereka.

"Justru itu, biar lo pernah-pernah ke tempat itu," Tika menimpali, teman sekelas Chacha lainnya. "Sekali seumur hidup nggak apa-apa kali."

"Hhhmmm," Caca hanya bergumam, memegang erat tas selempangnya.

"Ini ulang tahunnya Indah lho Ca, masa lo nggak ikut sih," ucap Tika.

"Gue izin ke Kak Gilang dulu ya. Nanti dia marah kalau nggak dikasih kabar," Chacha mencoba mencari alasan.

"Ya ampun, Ca. Lo anak kecil apa gimana sih?"

"Serius," kata Caca. "Dia pasti-"

Sherly sudah meraih ponsel dari tangan Caca sebelum kalimat itu selesai.

"HP lo gue pegang dulu," katanya santai. "Nanti juga balik."

"Iya. Abang lo kan kenal kita, dia nggak bakal makan lo cuma gara-gara nongkrong bentar," tambah Tika, sambil memoles lipstik merah di depan layar ponsel yang menyala.

Caca menatap layar ponsel di tangan Sherly lalu beralih ke Tika.

"Udah, ayo," kata Indah, meraih tangan Caca.

Caca melangkah masuk mengikuti Sherly. Pintu baja tertutup, meredam suara knalpot dari jalan raya.

Aroma alkohol tumpah dan asap rokok menggantung tebal di bawah lampu stroboskop. Musik house menghantam telinga, membuat dada terasa sesak. Sherly menarik tangan Caca ke arah bar. Botol-botol berjejer di belakang bartender. Gelas-gelas berkilau di bawah lampu.

"Minum dulu!" Sherly menyodorkan gelas ke bibir Caca.

Caca memejamkan mata saat cairan dingin itu melewati tenggorokannya. Ia terbatuk kecil, menjauhkan gelas itu dengan punggung tangan.

"Nah, lo udah bukan anak kecil sekarang," cetus Sherly sembari meletakkan kembali gelas kosong itu ke meja.

Caca menyeka bibirnya, matanya melirik ke arah papan penunjuk jalan keluar yang menyala hijau redup di ujung ruangan.

Satu jam pertama berlalu dengan gelas-gelas yang terus terisi di atas meja kayu yang lengket. Tika sesekali tertawa keras. Indah beberapa kali naik ke lantai dansa. Caca ikut berdiri di tengah kerumunan.

Sekitar pukul sebelas malam, seorang pria bernama Beler menghampiri mereka. Tubuhnya kurus, matanya bergerak cepat, ia berdiri terlalu dekat dengan Sherly.

"Hei cantik, ikut kita yuk," ajaknya menyentuh lengan Sherly tanpa izin.

"Eh." Sherly refleks menarik tangannya.

"Apaan sih Lo!" bentak Tika, menarik Sherly menjauh.

Tyson muncul dari balik punggung Beler. Tubuh besar, tato penuh hingga ke leher. Ia berdiri menutup jalur keluar.

"Si Bos mau ditemani," suaranya berat mengalahkan dentuman musik. "Enggak ada yang pergi sebelum Bos senang."

"Cari jabl*y aja sana!" bentak Sherly tak mau kalah.

"Bos nggak suka ditolak! " sahut Tyson melotot.

Beler memberi isyarat ke arah tangga VIP. Mereka berjalan beriringan dengan kepala menunduk. Chacha paling belakang, jarinya tidak lepas dari tali tas selempang.

Zona VIP terpisah oleh sekat kaca gelap dan karpet beludru tebal. Suara musik dari lantai bawah hanya terdengar seperti gumaman rendah. Botol-botol whiskey berserakan di atas meja dan di bawah sofa kulit.

Lihat selengkapnya