Langit Bandung mulai meredup, cahaya jingga pucaT tertutup awan lembap. Angin sore membawa aroma aspal basah dan sisa hujan menyelinap di antara kerumunan kendaraan. Gilang berdiri di samping mobilnya, matanya terpaku pada gerbang beton Polres Bandung, layar ponsel di tangannya menyala, mengirim satu notifikasi ke kontak Ilham.
Dua menit kemudian, Ilham muncul dari balik pos penjagaan. Ia memberi isyarat dengan dagu, lalu berjalan mendekati Gilang. Gilang masuk ke balik kemudi, disusul Ilham kemudian.
"Tempatnya agak jauh ke pinggiran," ucap Ilham pendek.
Gilang memutar kunci, membawa mobilnya membelah kemacetan sore, mengikuti arah yang ditunjuk Ilham menuju pinggiran kota.
Hampir satu jam perjalanan, aspal mulus berganti jalanan berbatu gelap. Mereka berhenti di sebuah lahan kosong yang terlindung pohon-pohon besar yang rimbun. Di sana, sebuah warung rombong motor tua berdiri. Kayu mejanya hitam berminyak. Seorang pria paruh baya duduk diam di balik kepulan asap rokok yang menggantung rendah.
"Bang, ini Gilang yang tempo hari ane ceritain. Lang, ini Bang Ajat, mantan ketua Wild Liar," sapa Ilham begitu mereka turun dari mobil.
Ajat menatap Gilang dari balik kerutan matanya. Cahaya sore menyisakan bayangan tajam pada bekas luka melintang di wajahnya. Tangannya yang kasar, dengan kuku-kuku hitam, menjabat Gilang hingga buku jarinya memutih.
"Waktu lo ngabarin Chacha diperkosa sama Olay, gue cerita ke Bang Ajat. Denger cerita dari gue, Bang Ajat mau bantuin lu, dengan syarat yang kemarin kita bahas," terang Ilham pada Gilang.
"Soal pengondisian di lapangan, ane bisa pegang, Bang," ujar Gilang datar, memutus keheningan. "Tapi kalau urusan pembersihan catatan lama Abang di markas... ane nggak bisa janji. Itu di luar wewenang saya."
"Gua sudah duga. Tapi nggak apa-apa... Gua tetep bakal bantuin lu," sahut Bang Ajat, membakar rokok di mulutnya. Asapnya mengepul perlahan.
"Sebelumnya ane mau nanya, kenapa Abang mau bantuin ane?" tanya Gilang.
Bang Ajat menarik napas panjang, membiarkan asap rokoknya mengepul menutupi wajahnya. "Nama Wild Liar itu gua yang kasih, Lang. Sekarang, ngeliat nama itu dipakai buat nyakitin perempuan... rasanya kayak gua sendiri yang nampar wajah almarhumah istri gua." Ia mematikan rokoknya ke aspal dengan tekanan kuat.
"Gua nggak butuh uang lu. Gua cuma butuh cara buat bikin nama itu berhenti jadi kutukan." Sesekali, jarinya yang kapalan mengusap bingkai foto kusam seorang wanita yang tertempel di sudut rombong. Tatapannya melembut setiap kali melihat foto itu.
"Oke, Bang. Ane jamin itu. Terus gimana rencananya?" tanya Gilang.
"Lu jelasin, Ham. Gua mau bikin kopi dulu. Kopi apaan lu berdua?"
"Kopi item, Bang," jawab Gilang.
"Sama," Ilham menimpali.
"Oke, bentar gua mau ngambil air dulu," sahut Bang Ajat, meninggalkan Gilang dan Ilham, berjalan ke belakang warung.
Gilang melirik Ilham. "Dia bisa dipercaya, Ham?"
"Gue jamin, Lang. Dia udah tobat, dan ini satu-satunya cara dia bisa menebus kesalahannya di masa lalu. Lo percaya kan ama gue?" Ilham menatap Gilang lurus.
Gilang mengangguk pelan. Tak lama, Bang Ajat kembali membawa dua gelas plastik kopi hitam yang mengepulkan uap panas.
"Jadi gimana? Ilham sudah jelasin semuanya?" tanya Bang Ajat, Ia meletakkan gelas-gelas itu di atas meja kayu, tepat di atas selembar kertas kumuh penuh coretan garis.
"Udah, Bang," sahut Gilang singkat.
"Kita tunggu sampai si Olay berantakan, baru gua masuk ke permainan. Gua akan muncul sebagai penyelamatnya," kata Ajat.
"Siap, Bang. Infoin aja nanti," sahut Gilang lagi.
"Ngopi dulu dah. Lagi pada santai, kan? Sekalian gua ceritain detail rencana yang bakal gua bikin nanti, mulai dari taktik kecil sampai penyerangan balik," Ajat tersenyum tipis.
"Oke, Bang," jawab Gilang dan Ilham serempak.
Gilang memperhatikan coretan di atas kertas kumuh yang sudah ternoda bekas gelas kopi. Ujung jarinya menelusuri simbol target yang dilingkari merah oleh Ajat. Ia mendongak, menatap Ilham dan Ajat yang duduk di hadapannya dalam remang cahaya lampu jalan. Ia melipat kertas itu ke dalam saku, merasakan hawa dingin malam Bandung mulai menjalar dari balik jaketnya.
Dinding seng gudang beras bergetar pelan disapu angin malam. Di dalam, bau beras membusuk beradu tajam dengan aroma asap rokok. Lampu neon tunggal berkedip pelan, memantulkan bayangan panjang ke lantai semen yang retak.
Di tengah ruangan, peta Tangerang Selatan berukuran besar terbentang di atas meja kayu tebal. Garis-garis spidol merah membelah kecamatan. Lingkaran spidol hitam pekat mematok wilayah Wild Liar.
Renggo berdiri di ujung meja. Kedua telapak tangannya menekan permukaan kayu, matanya menatap tiap orang yang berdiri mengelilingi meja. Jon. Baron. Kuple. Entus. Jek. Aban. Aurell.