TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #21

20. PERANG TERBUKA

Kabut subuh menggantung rendah di atas aspal basah Pamulang. Dari balik tirai toko kelontong yang baru dibuka setengah jalan, aroma diesel bercampur uap sachet kopi menyengat udara dingin. Roda-roda angkot mulai mencengkeram jalanan yang licin, merayap perlahan melintasi deretan ruko yang masih gelap.

Di sebuah gudang semen tak terpakai di pinggiran Pamulang, tiga anak buah Wild Liar duduk mengelilingi meja lipat yang rapuh. Bunyi kertak kartu domino beradu dengan denting koin di atas seng.

Seorang pria bertato kartu remi memudar di lehernya mencengkeram sejumput uang kertas lusuh. Ia menghitungnya tiga kali, rahangnya mengeras.

"Cuma dapat tiga ratus ribu?" tanya si ketua wilayah, meludah ke lantai tanah. "Jatah hari ini mana lagi?"

Anak buahnya yang berkulit legam menggeleng pelan, matanya menghindari tatapan si ketua. "Tukang parkir di pertigaan ruko nggak mau setoran ke kita lagi, Bang."

"Nolak?"

"Enggak nolak," jawabnya pelan, memutar-mutar korek api gas. "Udah ada budak-budak jaket hitam yang berdiri di samping lapak mereka dari jam empat subuh tadi."

Keheningan melingkupi ruangan. Kartu-kartu di meja dibiarkan tak tersentuh.

Jalanan Ciputat mulai padat oleh asap knalpot. Di area SPBU tua dekat terminal, Aban berdiri bersandar di tiang papan harga bahan bakar. Jaket jinsnya menyatu dengan keremangan pagi. Matanya yang sayu tak pernah lepas mengamati lalu lalang angkot dan deretan calo tiket yang berkumpul di pinggir jalan. Dua anak buahnya berdiri di belakangnya.

"Bang, di gang sebelah ada delapan anak Wild Liar lagi nongkrong," bisik salah satunya, jari tangannya meremas gagang besi di dalam saku. "Kita ratain sekarang?"

Aban menyalakan rokok, menghembuskan asapnya ke arah deretan kios rokok di depannya. "Duitnya di mana?"

"Ha?"

"Gue nggak nyari anak-anaknya," Aban menunjuk seorang pria berbadan tambun yang sedang memegang kantong plastik berisi koin dan lembaran uang dua ribuan dari para sopir angkot. "Gue cuma butuh mutus keran airnya. Kalau tangkinya kering, orang-orangnya bakal merayap sendiri cari minum ke tempat kita."

Raungan mesin motor sport membelah kesunyian gang pemukiman di Pamulang. Aurell memutar gas tipis-tipis, deru knalpotnya bergema menembus dinding-dinding bata rumah warga. Di belakangnya, empat motor anggota Black Ribal mengekor rapat.

Seorang anggota di sebelah Aurell menyejajarkan posisi saat mereka berhenti di persimpangan jalan pasar.

"Rell, markas kecil mereka di balik pasar," kata pemuda itu, mengencangkan cengkeraman di balok kayu di paha. "Langsung gempur dari depan?"

Aurell menatap ke arah keramaian pasar dari balik visor helmnya yang tebal. Ia mematikan mesin motornya. "Goblok," ia melepas helm, rambutnya terurai tertiup angin pagi. "Kalau bisa bikin mereka ngasih kunci tanpa perlu ngerusak pintunya, ngapain lu buang tenaga buat mukul?"

Di pelataran pasar Pamulang, aroma ikan asin dan sayur busuk menyengat hidung. Seorang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit tanpa lengan berdiri memegang kayu, mengawasi para pedagang yang sibuk memindahkan keranjang.

Langkah kaki Aurell menghampiri pria itu. Sepatu botnya menapak di atas tanah becek.

Pria itu berbalik, menatap Aurell dari ujung kaki hingga kepala sebelum akhirnya terkekeh geli. "Anak kecil nyasar ke mana pagi-pagi gini?"

Aurell berhenti tiga langkah di depannya. Matanya tenang, tanpa ketegangan. "Mulai jam ini, semua karcis parkir dan setoran lapak pasar lewat gue," kata Aurell pendek. Tangannya tetap tenggelam di saku jaket.

Pria itu tertawa kencang, menoleh ke arah dua temannya yang bersandar di tiang listrik. "Kalau gua nolak?"

"Ya jangan," jawab Aurell pelan.

Pria itu menyeringai, mengayunkan kayu di tangannya ke arah bahu Aurell.

Tanpa menggeser kakinya lebih dari sepuluh sentimeter, tubuh Aurell miring ke kiri. Kayu merobek udara kosong. Sebelum pria itu sempat menarik kembali tangannya, tumit sepatu bot Aurell menghantam lutut bagian dalam lawan.

KRAK.

Pria itu mengerang, tubuhnya ambruk berlutut di tanah becek. Aurell melangkah maju, menyiku rahang pria itu dari atas. Kepala pria itu tersentak ke belakang, jatuh telentang di atas genangan air pasar.

Lihat selengkapnya