TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #22

21. SUMBANGAN

Sinar matahari magrib menyapu dinding serambi Panti Asuhan Al-Ikhlas. Angin dingin merayap melintasi jalanan, aroma tanah basah dan asap sisa pembakaran sampah di sudut gang bercampur di udara.

Dari seberang jalan, Rizal berdirk di bawah naungan pohon mahoni. Tangannya menarik selembar amplop cokelat tanpa nama. Tanpa melangkah masuk ke halaman, ia mengulurkan tangan melewati celah pagar besi karatan, menjatuhkan amplop itu tepat ke dalam kotak kayu berlabel DONASI.

Bunyi jatuh amplop sangat pelan, tertelan dengung suara anak-anak yang mulai membaca Al-Qur'an dan Iqra dari dalam aula panti.

Seorang pria paruh baya berkopiah kusam keluar dari pintu samping. Tangan keriputnya membuka selot kotak kayu, lalu mengernyit menatap amplop tebal di dalamnya. Pria itu mengelus dada, bibirnya bergerak membisikkan doa. "Alhamdulillah... ada lagi..."

Dari kegelapan bayangan pohon, sudut bibir Rizal terangkat tipis. Ia berbalik, ejaan lantang dari dalam aula menembus keheningan sore.

"Alif... Ba... Ta..."

"A... Ba... Ta..."

Langkah Rizal terhenti. Kakinya kaku di atas tanah.

Mata Rizal menatap kosong ke celah aspal. Suara lalu lintas kendaraan melenyap seketika, digantikan dengung panjang.

Lampu neon di langit-langit sel berpijar kuning pucat, satu di antaranya berkedip-kedip tanpa ritme. Pintu besi blok bergeser perlahan, bunyi serak yang memanjang di lorong. Udara dari dalam keluar bersama bau karbol, keringat lama, dan nasi basi yang menempel di dinding.

Seorang petugas mendorong seorang tahanan baru masuk. Tubuhnya kurus. Seragam tahanan yang baru dipakai tampak kebesaran di bahunya. Rambutnya dipotong pendek tidak rata.

Langkahnya pelan. Sandal karetnya menyeret tipis di lantai semen yang lembap.

"Kamar tiga belas," teriak Petugas berhenti di depan sel

Pintu terbuka. Tahanan itu masuk, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, pintu sudah ditutup kembali. Dentang logamnya memantul sebentar di dalam sel.

Beberapa kepala menoleh. Seseorang yang berbaring di atas tikar sudut kamar mengangkat wajahnya dari bantal tipis, menyeringai sambil bersiul pendek.

"Anak baru," katanya, lalu mengetuk lantai semen dengan sendok.

Rama berdiri dekat pintu beberapa detik. Matanya menelusuri kamar sel, tubuh-tubuh yang berserakan di lantai, tikar-tikar tipis yang sudah menghitam di pinggirnya, lantai semen yang lembap, sudut gelap dekat toilet. Ia berjalan ke pojok sel yang kosong lalu duduk di lantai

Di sudut sel lain, Rizal bersandar di dinding dengan buku terbuka di tangannya. Ia mengangkat mata sekilas, lalu kembali ke halaman yang sama.

Pagi berikutnya. Piring makan didorong lewat celah pintu. Rama mengambil satu. Seorang pria besar menariknya dari tangan Rama sebelum ia sempat melangkah.

"Terima kasih." Pria itu menyeringai melihat rama mundur satu langkah.

Siang, tikar tipis yang tadi diberikan ke Rama sudah berpindah. Rama duduk di lantai dekat toilet. Bau amonia menyengat dari balik dinding pemisah setinggi pinggang. Tangannya di atas lutut. Kepalanya menunduk, menatap lantai semen.

Sel kembali gelap saat lampu dimatikan.

Cahaya dari lorong menyusup lewat celah pintu besi, membuat bayangan jeruji memanjang di lantai semen. Seseorang menendang bahu Rama saat melewati. Tubuh Rama terdorong ke dinding. Kepalanya hampir menyentuh beton. Ia meluruskan tubuhnya kembali.

Di sudut sel, Rizal berbaring di kasurnya, kepalanya mendongak sebentar lalu diturunkan. Matanya menatap plafon kamar sel.

Siang berikutnya, sebuah sandal melayang dari arah sudut sel. Mengenai pipi Rama dengan bunyi pelan.

"Ambilin."

Rama mengambilnya dari lantai semen yang dingin. Menyerahkannya kembali. Beberapa orang tertawa, suaranya memantul di dinding.

Rizal sedang duduk bersandar di dinding. Ia melihat sebentar. Lalu menunduk lagi

Minggu ketiga. Air mati sejak pagi. Udara di sel menggantung berat, membawa bau keringat dan semen yang lembap. Tidak ada angin dari jendela kecil yang terali berkarat.

Dua orang berdiri di depan Rama.

Salah satu mendorong bahunya. "Berdiri."

Tamparan pertama datang dari samping - kepalanya berputar mengikuti. Tamparan kedua dari arah lain, lebih keras. Kulit pipinya memerah seketika.

Seseorang terkekeh dari sudut sel.

Rizal duduk di tikarnya, buku terbuka di pangkuan.

Tangan pria itu terangkat untuk tamparan ketiga.

Lihat selengkapnya