Pagi mendung membungkus kawasan Serpong. Suara derit rolling door toko-toko kelontong yang ditarik ke atas beradu dengan bunyi gesekan sapu lidi di atas trotoar. Di sudut persimpangan pasar, beberapa tukang parkir berdiri melingkar, memegangi gelas kopi plastik.
"Semalam yang di Pondok Aren... berdarah," bisik seorang pedagang buah, melirik ke arah lorong pasar yang masih remang.
"Bukan tawuran biasa lagi itu," timpal tukang parkir berkulit gelap, tangannya gemetar menekan pemantik api. "Pasar Barat sama Pangkalan Truk habis diratain."
"Siapa?"
Tukang parkir menelan ludah, matanya mengawasi jalan raya sebelum berbisik sangat pelan, "Black Ribal..."
Keheningan mendadak menyergap. Pembicaraan terputus. Nama itu menggantung di udara pagi, dingin dan menekan.
Di lantai dua ruko pos utama Wild Liar wilayah Serpong, suara tetesan air kran di kamar mandi terdengar nyaring.
Ketua wilayah Serpong duduk menghentak kakinya ke lantai. Di depannya, seorang anggota melangkah masuk, napasnya memburu, baju basah oleh keringat dingin.
"Bang... Pondok Aren lepas," suara anggota itu pecah. "Ciputat sama Pamulang juga udah ganti bendera."
"Hoaks bangsat!" si ketua menghantam meja kayu, cangkir kopinya tumpah. "Olay numpuk orang di tengah! Nggak mungkin tempat-tempat itu jebol!"
Tangan Anggota itu gemetar meletakkan tiga lembar foto cetak instan ke atas meja.
Foto pertama, agar Pangkalan Truk Pondok Aren yang roboh terbelah. Foto kedua, kain bendera Wild Liar bernoda darah tergeletak di selokan pasar. Foto ketiga, deretan motor berjaket hitam berdiri sejajar menguasai pos retribusi.
Jari si ketua membeku di atas foto-foto, rokok yang terselip di bibirnya jatuh ke lantai.
Di markas Black Ribal, Baron berdiri di dekat jendela. Tangannya memegang golok panjang, ujung jarinya menelusuri mata pisau yang baru saja diasah.
Dua puluh anggota berdiri berjejer rapi di belakangnya.
"Gas sekarang, Bang?" tanya seorang anak buah di barisan depan, jari tangannya meremas gagang besi.
Baron memasukkan goloknya ke dalam sarung kulit. "Belum."
"Kenapa?"
"Biar mereka takut dulu," sahut Baron datar.
Langkah kaki santai terdengar dari arah pintu masuk. Jon berjalan masuk sambil mengunyah permen karet. Jaket jinsnya terbuka. Di bawah ketiaknya, sebuah map plastik tebal bernoda ceceran kopi.
Jon tersenyum tipis, melipat map itu di atas kap mobil. "Gua udah pilah," jarinya menunjuk lembaran kertas di dalam map. "Yang di daftar pertama ini... bisa dibeli pakai duit. Yang daftar kedua... cukup diancam. Tapi yang daftar ketiga ini..."
Jon mengetuk satu foto ketua pos Wild Liar Serpong Utara. "...yang ini langsung matiin."
Baron menatap foto itu sejenak, lalu mengangguk singkat.
"Gua ambil Serpong Utara Pasar," kata Baron.
"Gua Serpong," timpal Jon, meniup gelembung permen karetnya hingga pecah.
Dua kelompok motor memisahkan diri di gerbang gudang, menderu melintasi aspal jalan raya menuju target masing-masing.
Konvoi dua puluh motor di bawah pimpinan Baron berhenti di depan pintu masuk Pasar Serpong. Raungan mesin dimatikan bersamaan.
Para kuli panggul menghentikan langkah mereka. Pisau pedagang daging tertancap di atas kayu talenan.
Baron turun dari motornya. Langkah sepatu botnya menapak perlahan di atas aspal basah. Tangannya tenggelam di saku jaket kulitnya. Ia berhenti tepat di tengah pelataran parkir.
"Panggil ketuanya."
Tak ada seorang pun pedagang atau juru parkir yang bergerak.
"Panggil," ulang Baron, matanya menelusuri tiap sudut bangunan.
Dari balik gang kios kelontong, ketua wilayah Wild Liar Serpong melangkah keluar. Ia memegang golok di tangan kanannya, buku-buku jarinya memutih, tangannya gemetar. Di belakangnya, belasan anak buahnya berdiri berdesakan, mata mereka menatap pasukan Black Ribal yang berdiri tegap.
"Lo... lo mau perang?!" teriak si ketua, menutupi getar di suaranya.
Baron menatapnya lurus. "Kalau perlu. Kalau enggak perlu, jangan."