Di tengah remang lampu neon gudang Wild Liar, belasan anak buah bergerak mengemas perlengkapan. Radio HT bernomor frekuensi baru dibagikan, disusul golok yang diselipkan ke balik jaket, helm full face, rantai besi, dan tas-tas kain berisi bom molotov rakitan dan ranjau paku buatan tangan.
Ajat berdiri di depan peta Tangerang Selatan. Orang-orang di ruangan merapat melingkarinya.
"Tim satu," suara Ajat serak. Tangannya menunjuk koridor ruko di Serpong. "Ganggu setoran mereka. Jangan ambil duitnya. Cuma bikin mereka berhenti narik." Ia memindahkan jarinya ke titik pos perbatasan. "Tim dua. Bakar pos kosong. Kalau ada orangnya di dalam... jangan sentuh. Biarin mereka lari."
Tatapan Ajat menyapu wajah anggota Wild Liar satu per satu. "Denger baik-baik. Kita bukan lagi perang buat ngambil wilayah."
Beberapa anak buah saling pandang.
"Kita perang buat ngambil waktu mereka."
Jari telunjuk Ajat mengetuk pelan permukaan peta. "Bikin mereka lari dari satu titik ke titik lain. Begitu mereka sampai... kita udah pindah. Jangan kasih mereka tidur. Jangan kasih mereka narik duit dengan tenang. Orang yang capek bakal mulai bikin kesalahan."
Olay berdiri di samping Ajat menyilangkan tangan di dada, napasnya memburu. "Gua?"
Ajat melirik. "Lu... jangan keluar."
"Kenapa?!" potong Olay, matanya melebar.
"Mereka maunya ketemu lu," Ajat menatap lurus mata Olay tanpa berkedip. "Jangan kasih apa yang mereka mau."
Olay mengetatkan rahangnya, giginya bergelut, ia menatap ketenangan di mata Ajat beberapa detik, lalu mengangguk.
Satu per satu anggota Wild Liar meninggalkan gudang. Di barisan paling belakang, Obi melangkah keluar sambil merogoh saku jaketnya. Jarinya bergerak cepat di atas layar ponsel, mengetik sebaris pesan singkat.
Mereka udah gerak.
Pesan terkirim.
Obi menatap layar ponselnya beberapa detik.
Ia mengunci layar, menarik napas pelan, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku dalam jaketnya.
"Semoga cukup," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Obi memasang helm, lalu menyalakan motornya, ikur menghilang menyatu dengan kegelapan jalanan.
Pagi merayap pelan di langit Tangerang Selatan. Koridor belakang Polres masih menyisakan sisa embun yang menempel di kaca-kaca truk patroli. Beberapa anggota baru selesai memindahkan rompi anti-peluru dan helm tactical dari gudang senjata.
Gilang berdiri menyendirinya di sudut koridor, mengamati peta digital di layar ponselnya. Beberapa titik pergerakan sudah ia beri warna kuning sejak semalam.
BZZZZT.
Ponsel di sakunya bergetar. Nomor tak dikenal tertulis di layar, Gilang menekan tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinga.
"Mereka bakal gerak hari ini," suara Ajat terdengar dari balik sambungan.
"Jam?"
"Mulai siang pemanasan," sahut Ajat datar. "Malam baru ramai. Anak-anak Olay udah gue sebar."
"Targetnya sama?"
"Sama. Pola lama. Jangan kasih mereka perang terlalu lama."
Gilang mengangguk. "Oke."
"Ingat..." tekan Ajat sebelum menutup sambungan, "...jangan sampai Olay curiga."
Tut.
Panggilan terputus.