TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #34

33. ALASAN

Asap sisa hujan menyelinap tipis di antara celah-celah gudang. Dari balik pilar beton, lima puluh meter dari markas utama Wild Liar, Rizal berdiri tak bergerak. Jarinya terselip di balik saku hoodie tebal, pandangannya mengunci bangunan ruko dua lantai berdinding kusam di seberang jalan.

Dentum bass dari musik house di lantai dua ruko masih menggetarkan kaca-kaca jendela. Cahaya lampu disco merah-hijau berkedip liar, memancar tipis menembus tirai yang tertutup separuh.

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar raungan sirine patroli polisi-melengking, tumpang tindih dari tiga arah perbatasan wilayah yang berbeda. Kota di sekeliling mereka sedang membarah oleh bentrokan, tapi di tempat ini, waktu seolah berjalan terbalik.

Rizal mengangkat pergelangan tangannya. Jarum jam analog kusam menunjukkan pukul 23.12.

Rizal menatap kilatan lampu pesta di lantai dua itu. Sudut bibirnya tidak terangkat, matanya kaku bagai es.

"Masih sempat ketawa..." bisik Rizal pelan, tenggelam oleh deru angin malam.

Rizal melangkah maju, kegelapan pilar menutupi separuh tubuhnya. Jarinya merogoh kain perban yang terikat kencang di pergelangan tangan kirinya, memutar simpulnya hingga makin ketat melilit tulang.

Matanya bergerak cepat membaca peta pertahanan lapangan tanpa jeda. Dua orang anggota Wild Liar bersandar di pintu depan ruko, memegang botol bir kosong, anggota lain memutar pisau lipat.

Di halaman samping, seorang pemuda muntah ke arah tembok, berdiri oleng lalu ambruk berlutut di tanah.

Kendaraan berjejer di pelataran, kunci kontak beberapa di antaranya masih tertancap. Pintu kayu di lorong belakang ruko gelap total.

PRANG!

Suara gelas kaca hancur berantakan dari jendela lantai dua, disusul gelak tawa melengking Olay yang melintasi keriuhan musik.

"Tuang lagi, Bangsat! Malam ini kita yang punya Tangsel!!" jerit Olay dari dalam.

Rizal memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih di dalam saku hoodie. Otot rahangnya mengeras. Tawa Olay terus menggema dari balik jendela.

Tahun ketiga di lapas Salemba, halaman kecil dipenuhi tahanan. Barisan mereka duduk rapat di atas karpet tipis yang digelar di atas semen. Seorang ustad yang dipanggil ke lapas untuk mengisi khutbah jumat berdiri di mimbar dengan mikrofon kecil. Suara kipas angin berputar di langit-langit.

"Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni."

Beberapa kepala tertunduk.

"Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi." (HR. At-Tirmidzi)

"Sebaik-baiknya manusia, adalah dia yang kembali kepada-Nya."

Lihat selengkapnya