TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #44

42. KABAR

Suara adzan Ashar menggema dari corong pengeras suara, memantul di aspal Pasar Serpong yang mengepulkan uap panas. Renggo melangkah dengan bahu tegak, Aurell di sampingnya menyisir rambut dengan jemari, merapikan helaian yang masih menyisakan aroma sabun hotel di tengah debu jalanan.

Pintu besi gudang berderit saat digeser. Udara pengap menyergap, membawa bau apek dari tumpukan peti. Di sudut ruangan, Jon memutar gelas kaca di atas meja kayu, menciptakan bunyi gesekan yang konstan. Robi berdiri mematung di balik pilar beton dengan tangan bersedekap, matanya terkunci pada pintu masuk sejak Renggo muncul.

Jek dan Sanyo duduk diam di atas peti kayu tanpa menoleh. Di tengah ruangan, Aban berdiri membelakangi pintu. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam hingga ujungnya membara terang, lalu mengembuskan kepulan asap abu-abu yang menggantung diam di udara gudang yang tanpa ventilasi. Tidak ada suara langkah kaki lain atau sapaan yang keluar saat Renggo dan Aurell berhenti di tengah ruangan.

"Ada apa?" Renggo menghempaskan tubuh ke sofa di tengah ruangan. Aurell duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan rapat.

Aban melangkah maju, menyodorkan lipatan koran pagi.

Renggo menerima koran. Jemarinya berhenti di baris judul utama yang dicetak tebal mengenai pembasmian Wild Liar dan titik penemuan mayat di pinggiran kota. Renggo menyandarkan punggung ke sofa, matanya masih terpaku pada kolom berita yang menyebutkan nama Entus dan dua lainnya.

"Jadi sudah keluar beritanya..."

Aban mengembuskan asap rokok terakhirnya ke arah plafon. "Rencana lo kurang matang, Bos."

Jon menggebrak meja, gelas di atasnya meloncat. "Maksud lo?!"

Aban menyesap minumannya, lalu meletakkan gelas kosong dengan denting keras. "Cuma pendapat gue. Kalau rencana kita mateng, mereka pasti ada disini sekarang."

"Dia benar, Jon." Jek memutar gelas di tangannya, matanya menatap pusaran air di dalam. "Entus mokad karena kita nggak siap pas polisi masuk."

Robi yang sedari tadi bersandar di pilar beton menegakkan tubuh. Tatapannya beralih dari Jek ke Aban. "Lo mulai ragu sama si Bos, Jek?"

Jek berdiri dari peti kayu, dagunya terangkat. "Eh, situ siapa, ya? Berani nyautin eyke!"

Jon menunjuk ke arah Robi. "Dia orang yang bantu Black Ribal besar sebelum lo pada ada di sini."

"Oh ya? Kenapa eyke nggak tau?" Jek melipat tangan di dada, matanya menyipit ke arah Robi.

BRAK!

Gelas di tangan Renggo menghantam meja kayu hingga retak. "Diam lo semua!"

Suasana gudang mendadak senyap. Renggo mengedarkan pandangan, menatap satu per satu mata anak buahnya hingga mereka membuang muka.

"Ada info apa lagi?" Suara Renggo merendah.

Robi melangkah maju dari pilar beton. "Krugger mulai gerak."

Renggo menyandarkan punggung, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran meja yang retak. "Jadi gitu. Dia nunggu salah satu hancur baru muncul."

"Bukan cuma gerak," potong Robi. "Sisa-sisa Wild Liar merapat ke sana."

Renggo berdiri, sofa tua itu berdecit. "Mulai detik ini, lo semua stand by di wilayah masing-masing. Pasang mata. Siapin anak buah lo. Barang baru bakal turun, tunggu instruksi gue."

"Siap, Bos!" Robi, Jon, Jek, dan yang lainnya berdiri serempak. Mereka melangkah keluar satu per satu, meninggalkan debu yang beterbangan di ambang pintu besi.

Aurell hendak beranjak, Renggo mencengkeram pergelangan tangannya. "Lo di sini, Rell."

Aurell kembali duduk. "Iya."

Mata Aurell bergerak pelan menyapu satu per satu wajah yang ada di ruangan. Di pojok ruangan, Aban menyandarkan kepalanya ke dinding, matanya menyipit, terkunci rapat setiap gerak-gerik Aurell di samping Renggo.

Aban menahan napas sejenak saat melihat tangan Aurell meraih botol, ia menuangkan cairan ke dalam gelas Renggo tanpa ada setetes pun yang tumpah. Aban memperhatikan pundak Aurell lebih sering condong ke arah Renggo, dan Renggo membiarkan itu terjadi tanpa jarak.

Asap rokok yang dihembuskan Aban menggantung di udara. Ia membuang ludah ke lantai, rahangnya mengeras lalu memalingkan wajahnya. Ia mematikan puntung rokoknya dengan injakan sepatu yang menekan kuat ke lantai.

Sementara itu, Di kompleks Taman Kedaung, ban motor Gilang menderu pelan sebelum mesinnya mati di depan pagar. Di kantor tadi, ucapan selamat atas hancurnya Wild Liar dan tewasnya Olay memenuhi meja kerjanya, lengkap dengan amplop berisi surat cuti dari atasannya.

Lampu BlackBerry di saku celananya berkedip merah saat ia melangkah masuk ke ruang tamu.

[Aurel - Senin 13:01]

• Black Ribal ngga bakal ada pergerakan sampe seminggu

Gilang menatap layar sejenak, lalu mengangguk. Belum sempat ponsel itu diletakkan, layarnya menyala lagi. Nama Noval tertera di layar ponsel.

"Woy, gue dengar lo udah ngabisin si Olay, ya?" Suara Noval langsung menyambar dari seberang.

"Iya," jawab Gilang pendek. Ia memijat bahunya. "Lo nelpon cuma mau ngomong gitu doang?" Ia berjalan memasuki rumah.

Lihat selengkapnya