TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #45

44. RAHASIA

Cahaya pagi menyeruak dari celah gorden. Kepala Gilang seperti dipukul palu godam, berdenyut mengikuti detak jantungnya. Ia mencoba bangkit, rasa mual menghantam ulu hatinya, Gilang kembali jatuh ke bantal.

Tangannya meraba ke bawah selimut, mencari helai kain di tubuhnya. Ia hanya menemukan kulitnya yang polos bersentuhan langsung dengan sprei satin yang dingin.

Gilang mencengkeram tepi kasur hingga buku jarinya memutih. Lampu strobo yang berputar liar, dentum bass yang merusak pendengaran, dan tawa Aurell yang terasa terlalu dekat di lehernya melintas sekilas di ingatannya.

Aurell tidur di sebelahnya, matanya terpejam dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

Mata Gilang melebar, tangannya mengguncang tubuh Aurell. "Bangun."

"Pagi Gilang..." Aurell bergeser pelan.

"Bangun. Kenapa kita ada disini?" Gilang mengguncang tubuh Aurell lebih kencang.

"Kan lo yang ngajak gue ke sini." Mata Aurell terbuka perlahan.

"Gue?! Ngajak lo?!" tanya Gilang.

Aurell bangun, merapikan selimut yang menutupi tubuhnya. Paha mulusnya tersingkap dari balik selimut. "Lo lupa?"

"Jawab!"

"Lo mabuk. Lo ngajak gue ke sini. Lo bilang capek pura-pura kuat," Mata sayu Aurell menatap lurus mata Gilang. "Sisanya... ya itu."

"Nggak mungkin," Gilang bangkit, ia mencari celana dan jaketnya. "Gue nggak pernah-"

"Pernah," potong Aurell. "Dan lo kelihatan yakin waktu itu."

Gilang menatap Aurell. "Apa yang lo masukin ke minuman gue?"

"Kenapa?" Aurell mengambil ponselnya dari meja kecil, memainkannya sebentar, lalu menoleh. "Takut?"

"Aurell," suara Gilang mengeras. "Kalau lo ngebius polisi-"

Aurell menekan layar ponselnya, lalu melemparkannya ke arah Gilang. Ponsel itu mendarat di atas selimut yang berantakan.

Layar ponsel menampilkan sudut miring dari atas nakas. Sprei putih yang tersingkap berguncang mengikuti derit ritmis ranjang.

Mata Gilang melebar saat melihat dirinya sendiri. Sepasang mata di layar itu berputar liar. Sepasang kaki jenjang mengunci pinggangnya, tumitnya menekan punggung Gilang. Suara tawa serak dan erangan rendah keluar dari bibir Gilang.

Gilang menekan tombol pause, rekaman berhenti berputar. Tangannya gemetar.

"Berapa?" tanya Gilang pelan. "Berapa video yang lo punya?"

"Cuma satu," jawab Aurell. "Yang itu aja cukup."

Tatapan Gilang terpaku ke ponsel di depannya, ia menekan tomblol hapus, lalu beralih ke sudut-sudut kamar yang masih remang. Rahangnya mengeras..

"Lo tau ini bisa bikin hidup lo hancur juga," ucap Gilang. "Narkoba, geng motor, pemerasan-"

"Udah lo apus?" potong Aurell. "Lo pikir gue bego nggak ngeback up video itu."

Gilang menelan ludah.

"Tenang aja, videonya aman selama lo jaga rahasia gue," Aurell menurunkan kaki ke lantai. Ia berdiri, kain satin jatuh menutupi punggungnya. "Kalau lo berani perintah gue lagi, Aura bakal ngelihat video itu. Gue jamin, karier dan hubungan lo hancur dalam semalam."

Aurell menatap Gilang tanpa berkedip.

Gilang terdiam, matanya terpaku ke ponsel. Tangannya masih bergetar, mengepal di atas kasur yang kusut.

Aurell melangkah menuju kamar mandi. Tumitnya menekan karpet tebal.

Pandangan Gilang mengikuti garis punggungnya yang melengkung tajam dan lekuk pinggul yang padat sebelum tubuh Aurell menghilang di balik pintu yang tertutup.

Di atas kasur, Gilang menatap lantai. Buku jarinya memutih, mencengkeram sprei yang sudah kusut masai.

Lihat selengkapnya