Tiga hari setelah telepon dari Brandy, Renggo mengumpulkan semua ketua wilayah di markas belakang gudang beras pasar Serpong. Lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya putih pucat, bayangan setiap orang tampak lebih panjang dari tubuhnya sendiri.
Renggo duduk di sofa kulit yang mulai retak di bagian sandaran. Gelas wiski di tangannya masih setengah penuh, tetapi es di dalamnya sudah mencair menjadi air keruh yang berputar malas setiap kali tangannya bergerak. Asap rokok menggantung rendah di udara, menempel pada bau oli, keringat, dan tembakau yang sudah bertahun-tahun meresap di dinding markas.
Sanyo dan Jon berdiri di ambang pintu, tangan mereka tidak pernah jauh dari pinggang tempat pistol terselip di balik jaket.
Di sisi lain ruangan, Aurell duduk santai di atas meja billiard. Sepasang sepatu bootnya menggantung di sisi meja, ujungnya hampir menyentuh lantai. Sebuah belati kecil berkilau di tangannya, ia menggosok mata pisau itu dengan kain hitam perlahan.
Robi berdiri tidak jauh dari sofa. Tangannya berkali-kali menyeka telapak yang berkeringat ke celana jeansnya. Jek duduk di kursi kayu dekat dinding, sementara Aban bersandar di tembok dengan tangan bersilang.
Renggo menatap mereka satu per satu, lalu meletakkan gelas wiski ke meja kayu di depannya. "Gu$ dapat telepon," suara Renggo memecah kesunyian. "Dari Hydra."
Gesekan kain di tangan Aurell berhenti. Belati kecil itu membeku di udara beberapa detik sebelum ia menurunkannya perlahan ke pangkuannya. Warna wajahnya yang biasanya kemerahan seperti disedot keluar oleh kata-kata itu.
Robi mengangkat kepala perlahan. Tangannya menyentuh gagang pistol yang tersembunyi di balik jaket. "Siapa?"
"Brandy," jawab Renggo. "Dia mau ketemu."
"Brandy?" Aban menghembuskan napas pendek. "Bos... Itu bukan orang sembarangan." Ia melangkah mendekat, menurunkan suara. "Brandy itu kepala eksekutif wilayah Jakarta. Jalur laut, senjata, narkoba, semuanya lewat tangannya. Kalau dia yang telepon langsung, berarti Hydra lagi perhatiin kita."
Renggo memutar gelas di tangannya. Cairan amber di dalamnya berputar pelan, memantulkan cahaya lampu neon.
"Gue tau." Renggo meneguk wiski itu sampai habis, membiarkan cairan panasnya turun ke tenggorokan. "Dia muji kita."
"Muji?" Robi mengerutkan kening.
"Karena kita ngancurin Wild Liar dan Olay."
"Pujian itu racun, Bos~," sela Jel, tangannya melambai ke arah Renggo. Semua mata tertuju kepadanya. "Kalau mereka muji, nih~" lanjut Jek pelan, "biasanya artinya mereka mau sesuatu dari kyita booos~"
Di atas meja billiard, Aurell kembali menggosok belatinya, gerakannya lebih lambat dari sebelumnya.
Cahaya lampu memantul di permukaan logam yang semakin bersih. Peta wilayah Jakarta dan Tangerang Raya digelar di atas meja. Titik-titik gudang, jalur distribusi, pelabuhan kecil, dan jalan belakang yang biasa mereka gunakan digambar ulang dengan spidol hitam.
Mereka merancang skenario terburuk. Black Ribal mungkin harus berhadapan dengan kekuatan yang jauh di atas mereka, atau terpaksa tunduk dan menjadi boneka. Aurell menatap Renggo dalam diam.
Peta wilayah tetap terbentang di atas meja. Garis-garis hitam yang semula hanya tampak seperti jalur distribusi, terasa seperti medan perang yang perlahan mendekat.
Satu per satu mereka meninggalkan markas. Robi mematikan lampu ruang tengah. Jek mengunci pintu besi. Jon paling terakhir yang keluar.
Malam itu, tak seorang pun benar-benar bisa tidur nyenyak.
Dua hari kemudian, tepat pukul 22:00, ponsel Renggo berdering lagi.
"Waktunya cocktail, Renggo," sapa suara Brandy, suaranya terdengar lembut, nyaris menggoda. "Saya harap kamu siap."
"Di mana?" tanya Renggo, tanpa basa-basi.
"Lokasi sudah dikirim ke ponselmu."
Renggo melihat notifikasi peta. Lokasinya sebuah gedung pencakar langit di jantung Ibu Kota. Jauh dari markas mereka yang berdebu.
"Datang sendiri," lanjut Brandy. "Jangan coba-coba bawa hadiah kejutan yang tidak saya pesan," suaranya berubah. "Saya ingin bicara bisnis dari gentleman ke gentleman."