TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #52

51. DELAPAN KEPALA HYDRA

Matahari mulai condong ke ufuk barat saat sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan sebuah gedung perkantoran di Jakarta. Renggo turun, menyesuaikan kerah jas hitamnya. Di belakangnya, Robi dan Aurell mengikuti. Di lobi empat kamera thermal berputar mengikuti langkahnya. Belasan pria dengan earpiece berdiri kaku di setiap sudut, tangan mereka tak lepas dari balik jas yang menonjolkan bentuk senjata otomatis. langkahnya

"Hanya Anda yang diizinkan masuk, Tuan Absinthe," seorang pria berbadan raksasa menghalangi langkah Robi dan Aurell tepat di depan lift khusus.

Robi mengepalkan tangan, otot lehernya menegang. Aurell menahan lengan Robi, menggeleng pelan. "Aturan The Hydra nggak kenal pengecualian."

Renggo mengangguk tipis, memberikan isyarat mereka tetap di ruang tunggu. Di ruang tunggu, Robi dan Aurell duduk di bawah pengawasan ketat empat bodyguard bersenjata lengkap. Aurell merogoh saku jaketnya, jemarinya bergerak di atas tombol ponselnya.

Pintu ganda berbahan kayu ek setebal sepuluh sentimeter terbuka perlahan, Renggo melangkah masuk ke ruangan luas dengan jendela floor-to-ceiling.

Pemandangan Jakarta mulai menyala oleh lampu-lampu kota. Di tengah ruangan, meja bundar dari marmer hitam dikelilingi oleh tujuh sosok yang memancarkan aura kekuasaan. Bau cerutu mahal, aroma alkohol kelas atas, dan wangi parfum desainer bercampur menjadi satu.

"Ladies and gentlemen, perkenalkan penguasa Tangerang Raya yang baru," suara Brandy menggema, memecah kesunyian. Ia berdiri tegak, tangannya terentang.

Tujuh pasang mata tertuju ke Renggo.

"Jadi ini orangnya?" Pisco melempar kaset film dewasa ke meja marmer, matanya menyapu Renggo dengan remeh.

"Apa nggak terlalu muda buat duduk di kursi ini?" Seorang pria dengan tato melintang dari dahi hingga pipi menyahut kasar. Jagermeister, sang raja prostitusi Bandung, menaruh kakinya yang bersepatu bot mahal ke atas meja marmer. Matanya yang garang menatap Renggo. "Hydra butuh taring yang sudah teruji, bukan susu yang baru diperas."

"Jangan kolot, Jey," Champagne mengetuk cincin emasnya ke gelas berisi pil ekstasi. Ia melirik Renggo, lalu ke arah Jagermeister yang masih menaruh sepatu botnya di atas meja marmer hitam. "Dunia berubah. Siapa pun yang bisa menunjukkan hasil nyata, dia berhak atas satu kepala Hydra. Umur hanya angka dalam laporan otopsi."

Di sudut lain, Vermouth, wanita tambun menjilati bibirnya sambil memperhatikan lekuk tubuh Renggo.

"Dasar maniak!" Irish mendengus jijik, jemarinya sibuk menata bongkahan kristal sabu di dalam kotak beludru.

"Selamat datang di neraka, Ei," Tequllia, pria Batam tampak lebih tenang. Semua orang tahu dia adalah pemasok senjata api terbesar di wilayah barat.

Brandy menyeringai, ia mulai berjalan mengelilingi meja, menunjuk satu per satu kepala Hydra. "Pi dari Bali, produser fantasi terlarang. Jey dari Bandung, raja malam dan debu putih. Ci dari Bogor, jembatan kita ke aparat. Vi dari Semarang, penguasa bisnis daging manusia. I dari Surabaya, ratu kristal. Dan Ti dari Batam, si pandai besi senjata kita."

Brandy berhenti tepat di depan Renggo. "Dan sekarang... Absinthe. Kode nama lo adalah Ei. Tangerang wilayah lo. Paham, Ei?"

Renggo menatap Brandy tepat di mata, "Gue paham."

Lihat selengkapnya