Saat Renggo selesai melalukan persiapan di markasnya, dua kakak beradik berdiri di bibir pantai Ancol. Angin laut membawa uap garam yang lengket ke wajah Gilang. Ia menatap Chacha berdiri mematung. Matanya lurus menatap garis cakrawala di mana matahari mulai menyentuh permukaan air, mengubah biru laut menjadi hamparan jingga yang pekat.
"Ngapain kamu ngajak kakak ke sini? Biasanya kamu nggak suka tempat ramai," Gilang memecah kesunyian. Suaranya tenggelam di antara deburan ombak yang menghantam tanggul semen.
Cahaya sore memantul di bola mata Chacha. "Nikmatin sunset."
Gilang melangkah maju, berhenti tepat di samping Chacha. Ia menyipitkan mata, menatap wajah Chacha yang mengeras. "Bukan itu yang kakak maksud. Kamu pasti punya maksud lain."
Chacha menarik napas panjang. Jemarinya menggenggam pagar pembatas memutih.
"Kak Rizal suka banget nikmatin sunset di sini," suara Chacha lirih, nyaris terhapus angin.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan sisa warna ungu di sela-sela awan. Chacha memutar tubuhnya perlahan, menghadap Gilang. "Aku ketemu Kak Rizal dan Kak Aura. Di tempat ini."
Gilang tersentak. Langkah kakinya bergeser ke belakang. "Aura?! Kenapa kamu nggak cerita?"
Chacha kembali menoleh ke arah lautan. Ombak menyapu kaki tanggul. "Mukanya mirip banget. Setelah aku cari tau, ternyata dia bukan Kak Aura." Ia berhenti sejenak, angin sore menerbangkan helai rambutnya yang menutupi pipi. "Namanya Aurell."
"Kamu tahu Aurell?" Gilang menatap lurus ke mata Chacha.
"Juga perannya," suara Chacha datar, nyaris tenggelam dalam deru ombak yang menghantam tanggul semen di bawah kaki mereka.
Gilang bergeser satu langkah. "Maksud kamu?"
"Dia main dua pihak, atau mungkin tiga." Chacha memutar tubuh, menghadap Gilang sepenuhnya. "Kalau Kakak tahu Aurell, berarti dia juga ada di pihak Kakak, kan?"
Gilang tersentak. Rahangnya mengeras sejenak sebelum ia membuang muka ke arah laut. Tangannya mencengkeram besi pagar pembatas. "Sejak kapan kamu nyelidikin orang? Dari mana kamu dapat info ini?"
Chacha menunduk. Ujung sepatunya mengorek pasir yang terbawa ke atas semen. "Sejak kejadian itu."
Suara Chacha mengecil. Gilang memejamkan mata.
"Jangan diingat lagi. Kakak minta maaf," bisik Gilang.
Chacha mendongak, alisnya bertaut. "Tapi barusan Kakak nanya."
"Kakak nggak tahu itu jawabannya," sahut Gilang pendek. Ia menatap ke arah lampu-lampu kapal di kejauhan yang mulai menyala satu per satu.
"Nggak apa-apa, Kak. Santai saja. Aku sudah kuat." Chacha menarik sudut bibirnya tipis.
"Siapa yang ngajarin kamu semua ini?" tanya Gilang lagi.
"Kakak."
Mata Gilang membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Ia terpaku, menatap Chacha kembali memandang laut lepas.
"Sejak Kakak megang kasus pertama. Semua cara berpikir itu aku pelajari dari cerita Kakak."
Gilang membuka mulut. "Iya, tapi bukan berarti kamu-"
"Kakak tenang saja." Chacha menegakkan punggungnya. "Mungkin fisik aku lemah, tapi otak aku nggak."
"Apa yang kamu lakuin ini bahaya. Dunia gangster bukan main-main," suara Gilang merendah.
"Aku tahu. Tapi aku harus tahu kebenarannya."
"Kakak minta kamu berhenti. Berhenti main api," Gilang mencondongkan tubuh, matanya menatap tajam.
"Aku nggak bisa nurutin Kakak. Ini pilihan hidupku." Chacha melangkah maju, berdiri tepat di depan Gilang. "Chacha bukan anak kecil lagi. Chacha bisa jaga diri."
Gilang menatap puncak kepala Chacha, lalu beralih ke jemari adiknya yang menggenggam tas kecil. Telapak tangan Gilang bergerak, menepuk kepala Chacha sekali. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel, lalu meletakkannya di atas pembatas beton.
"Tentang Aurell," ucap Gilang. Matanya terkunci ke Chacha. "Apa maksud kamu bawa Kakak ke sini?"
"Aurell masuk ke sana ada alasannya," Chacha menatap lurus ke arah ombak yang menghantam beton. "Ada rahasia besar. Kakak jangan terlalu keras ngejar dia."
"Kenapa?"
"Aurell biar jadi urusan Chacha, kakak fokus aja ngejar Renggo dan..."
Mata Gilang menyipit. "Dan?"
Chacha menoleh, menatap lurus mata Gilang. "Krugger."
"Krugger?" Rahang Gilang mengeras. "Dari mana kamu tau soal dia?"
"Aurell," Chacha kembali menatap laut. "Dia bukan orang jahat kak. Dia cuma..."
"Apa?"
"Chacha belum dapat jawaban penuh dari dia," Chacha kembali menoleh. "Yang pasti, Chacha akan update perkembangannya ke kakak."
Gilang menarik sudut bibirnya. Ia mengangguk sekali, lalu membuang pandangan ke deretan kapal motor yang tertambat di dermaga. "Buat kamu, Kakak bakal turutin. Kakak bakal lebih lunak."
"Dia cuma kelihatan keras dari luar," Chacha menyisir rambutnya yang diterpa angin laut. "Asal nggak dikerasin dari awal, dia lembut."
"Kamu kenal banget sama dia?"
Chacha menggeleng. Ia menatap telapak tangannya sendiri. "Chacha ketemu dia di Situ Gintung, dan beberapa kali ketemu setelahnya. Mungkin Chacha bisa jadi teman baik buat dia."
Gilang mengulurkan tangan, menepuk bahu Chacha dua kali. "Kakak serahin dia ke kamu. Rubah sikap keras kepalanya."