TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #66

65. PERSIAPAN PART 2

Dua truk Hino bermuatan penuh bergerak membelah aspal tol Trans-Jawa. Di balik bak kayu yang tertutup terpal terikat kencang, ribuan karung beras menindih klip-klip plastik berisi butiran putih.

Irish mematikan sambungan telepon di kabin pesawat yang baru saja mendarat. Di tempat lain, Vermouth sudah lebih dulu melintasi batas kota satu malam sebelumnya.

Markas Black Ribal riuh oleh deru mesin motor yang dipanaskan. Di setiap sudut jalan menuju gudang, pria-pria berkaus hitam duduk di atas motor, mata mereka tertuju ke papan nama Polsek dan pos polisi terdekat. Radio panggil berkerisik pelan di balik jaket.

Robi, Jon, dan Jek berdiri di mulut gudang beras. Mereka mengawasi kuli yang memindahkan palet-palet kayu. Di gerbang tol Serpong, barisan motor besar milik Aban, Sammy, Sanyo, hingga Ambon berderet di bahu jalan.

Satu jam berlalu di rest area. Sorot lampu xenon dari Alphard hitam muncul di antara kemacetan, dikawal SUV pekat. Rombongan itu melambat saat melihat kerumunan pria berjaket kulit di tepi jalan.

Kaca SUV turun perlahan. Seorang pria berambut cepak menatap tajam ke arah Aban. Aban mengangkat tangan, menunjukkan koin perak di antara jemarinya. Kaca naik kembali. Aban menyentak gas motornya, memimpin iring-iringan itu masuk ke jalur kota.

Tak lama, rombongan Irish dan Vermouth muncul berurutan. Sammy dan Sanyo memutar kemudi motor mereka, mengapit mobil-mobil mewah itu menuju jantung Tangerang Selatan. Kini hanya Ambon, Bores, Jejen, dan Mangkik yang tersisa di pinggir tol. Mereka mematikan mesin, menyulut rokok, dan menatap jauh ke arah timur menanti bak truk muncul di cakrawala.

Di dalam markas yang sudah bersih dari debu, Renggo berdiri di tengah ruangan. Ia merapikan kerah kemejanya. Aurell berdiri satu langkah di sampingnya, tangan terlipat di dada, matanya lurus menatap pintu besi yang terbuka lebar.

Deru mesin Alphard berhenti di depan pintu. Aban turun lebih dulu, membukakan pintu penumpang. Brandy melangkah keluar dengan setelan linen krem dan kacamata hitam. Sepatu pantofelnya mengetuk lantai semen gudang saat ia berjalan mendekati Renggo.

Brandy melangkah di atas lantai semen, menghentikan sepatu pantofelnya tepat di depan Renggo. Ia mengulurkan tangan. Renggo menyambutnya, cengkeraman mereka mengunci kuat.

"Persiapan yang matang, Ei," ucap Brandy.

"Tiga Kepala Hydra datang. Gue harus siap," Renggo masih menjabat Brandy saat deru mesin lain berhenti di depan pintu.

Irish turun dari SUV hitam dengan kemeja putih kaku dan celana bahan gelap.

Di belakangnya, Vermouth melangkah keluar dari sedan mewah. Gaun sutranya berkilauan tertimpa lampu neon gudang. Ia menyapu pandangan ke tumpukan ban bekas dan dinding gudang yang berkarat. Sudut bibirnya berkedut, hidungnya mengernyit halus.

"Welcome to Black Ribal, I... Vi," sapa Renggo.

"Markas lo agak tersembunyi." Irish menjabat tangan Renggo sekali, singkat, tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

"Aku nggak nyangka markas kamu kumuh gini," timpal Vermouth. Suaranya melengking di antara kesunyian gudang. "Padahal ketua dan anggotanya menarik." Ia memandang Renggo dan para ketua wilayah, lidahnya membasahi bibirnya.

Aban, Robi, dan Jek yang berdiri di barisan belakang menegakkan punggung. Rahang Robi mengeras, membentuk garis tajam di bawah telinganya. Renggo menarik sudut bibirnya tipis.

"Welcome to our home. Ini tempat kami. Mungkin nggak se-wah punya lo, Vi. Tapi efisien," sahut Renggo.

Vermouth melangkah maju, memperkecil jarak aroma parfum mahalnya memenuhi hidung Renggo. "Aku bisa lupain sejenak soal tempat ini." Jemarinya yang berkuteks merah menyala bergerak naik, mengarah ke pipi Renggo. "Karena kamu."

Prak.

Aurell menyentak tangan Vermouth di udara. Pergelangan tangan Vermouth terkunci dalam cengkeraman Aurell. Mata Aurell melebar, urat di lehernya menegang.

"Jaga kelakuan lo di sini," desis Aurell.

Vermouth menarik tangannya dengan satu sentakan. Ia tertawa sinis, menatap bekas merah di pergelangan tangannya. "Ouw, cantik... tapi sensitif. Kenapa? Takut pacarmu direbut?"

Di belakang Vermouth, dua pria berjas hitam serempak merogoh balik pinggang mereka. Tangan mereka sudah menyentuh gagang pistol.

Robi, Jon, dan Jek memasukkan tangan ke balik jaket kulit. Kaki mereka bergeser, mengunci posisi tempur. Suasana gudang mendadak pekak oleh suara napas yang memburu.

Renggo mengangkat telapak tangan kanannya setinggi bahu, lalu menekannya perlahan ke bawah. Mata Renggo tetap tertuju ke pengawal Vermouth.

Robi dan ketua wilayah lainnya menarik tangan mereka keluar dari balik jaket, posisi kaki mereka tetap tak bergeming.

Renggo melangkah ke tengah lingkaran. Ia menurunkan telapak tangannya perlahan. "Sebagai tuan rumah, Black Ribal ramah kalau tamunya ramah," suara Renggo bergema di antara dinding gudang. "Apapun yang kalian butuhin, gue siapin. Tapi kalau tamu mengancam partner gue... kalian tahu akibatnya. Ini wilayah gue."

Brandy berdehem, memecah kesunyian. Ia menatap bergantian ke arah Irish dan Vermouth. "Nggak perlu ada ketegangan. Kita di pihak yang sama."

Lihat selengkapnya