TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #68

67. HADIAH SPESIAL

Lampu neon panjang di langit-langit koridor berkedip, tertutup jelaga dan jaring laba-laba. Udara pengap, jenuh oleh bau belerang, serbuk beras yang beterbangan, dan sisa ledakan. Suara dentuman senapan dari area luar gudang merambat masuk melalui dinding beton yang lembap.

Di dalam kantor operasional di pojok gudang, panel triplek di dinding digeser paksa hingga terbuka. Renggo berdiri di dekat meja. Kemeja hitamnya basah oleh keringat, menempel ketat di punggung. Jari-jarinya menekan pisau lipat ke telapak tangan.

Brandy berdiri di depan celah dinding, memegang pistol dengan tangan yang stabil. Slide senjata ditarik mundur, lalu mengunci dengan bunyi logam yang kasar. Matanya menatap lurus ke arah pintu yang sudah bolong terkena peluru nyasar.

Aurell dan Robi berdiri di sisi kiri dan kanan pintu. Aurell memegang pistol, moncongnya mengarah ke lubang intip. Robi memegang senapan otomatis, jempolnya menggeser tuas selektor ke posisi auto.

"Jalur rahasia di belakang gue. Lewat sana," ucap Renggo. "Gue akan nahan mereka di sini."

Brandy mengangguk satu kali. Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong, diikuti oleh Irish dan Vermouth yang merunduk saat melewati celah triplek. Robi bergerak mengikuti Irish dan Vermouth.

Aurell bergerak paling akhir. Sebelum masuk ke lorong, ia menoleh ke arah Renggo selama dua detik, iris matanya berkilat di bawah cahaya neon yang redup, lalu bayangannya hilang ditelan kegelapan lorong bawah tanah yang berbau tanah basah.

Panel triplek kembali menutup, suara ledakan terdengar lebih dekat. Seluruh dinding kantor bergetar. Debu semen berjatuhan dari langit-langit. Di balik lorong gudang, teriakan saling bersahutan. Seseorang menjerit kesakitan, disusul rentetan senapan otomatis yang terdengar semakin mendekat.

Di luar ruangan, di sepanjang lorong labirin yang diapit tumpukan karung beras setinggi plafon, baku tembak antara Gilang dan pengawal Hydra meledak. Peluru-peluru menembus karung beras, membuat butiran putih muncrat keluar.

Gilang menendang pintu kayu kantor yang sudah retak. Ia masuk bersama dua anggota tim taktis. Laras senjata di tangan Gilang menyapu arah jam dua. Di dalam ruangan sempit itu, Renggo dan Jon berdiri di balik barikade meja.

RATATATATAT!

Rentetan peluru dari senapan Renggo dan Jon menghantam pilar tempat Gilang berlindung. Serpihan semen putih menghantam masker balaclava Gilang. Gilang dan dua anak buahnya membalas tembakan. Selongsong peluru panas berjatuhan, berdentang di atas ubin yang kotor.

Tembakan dari arah meja mulai melambat. Suara besi slide senjata yang mengunci ke belakang terdengar beruntun dari sisi Renggo.

Jon mendorong bahu Renggo ke arah pintu belakang. "Lu harus hidup! Go!"

Renggo berbalik, berlari menembus pintu belakang. Jon mundur perlahan, moncong senjatanya masih mengarah ke posisi Gilang. Setelah Renggo hilang di balik belokan, Jon memutar tubuh dan menyusul masuk ke ruangan berikutnya.

Gilang merangsek maju, melewati meja yang hancur. Lengan kirinya terserempet peluru, kain jaketnya koyak, mengeluarkan cairan merah kental. Dua anak buahnya mengikuti di belakang, senjata terangkat di pundak.

Gilang menendang pintu ruangan kedua, Jon sudah berdiri di balik lemari arsip baja yang miring.Pintu terbuka, Jon menarik pelatuk.

DOR! DOR! DOR!

Gilang melempar tubuhnya ke samping kanan, berguling di balik mesin penggiling padi. Dua anak buah di belakangnya tidak sempat menghindar. Peluru menembus celah rompi dan leher mereka. Keduanya tersungkur, darah menyembur ke arah pintu.

Jon terus menembak ke arah persembunyian Gilang sampai senjatanya mengeluarkan bunyi klik. Jon menjatuhkan senjatanya. Ia menarik pisau lipat, membukanya dengan satu sentakan. Jon berlari menerjang ke arah Gilang.

Gilang muncul dari balik mesin, menodongkan pistol dengan tangan kanan.

Lihat selengkapnya