Mei 2015
Asap rokok kretek menggantung statis di bawah lampu gantung kantor lantai dua 90'S Cafe. Udara berbau sisa bubuk kopi gosong dan pembersih lantai kimia. Di balik meja mahoni yang mengkilap, Daeng duduk tegak. Cahaya lampu meja menyinari separuh wajahnya, menonjolkan garis luka permanen di pelipis kanan.
Di depannya, Sanyo berdiri, napasnya pendek. Tulang rusuknya lebam keunguan. Mata kirinya tertutup bengkak. Sudut bibirnya pecah, menyisakan lebam hitam yang retak setiap kali ia mencoba menelan ludah. Noda darah kering mengeras di kerah kaos oblongnya yang melar.
"Lu sudah paham apa misi lu?" Suara Daeng rendah.
Sanyo menggeser tumpuan kakinya. Rasa nyeri merambat dari lutut yang sempat dihantam balok kayu. "Paham, Bos. Jadi mata-mata di Black Ribal," jawabnya parau. Getaran di pita suaranya terdengar kasar.
Daeng mencondongkan tubuh. Bayangannya memanjang di dinding. "Selama lu di sana, lu bukan cuma tamu. Lu harus jadi bagian dari urat nadi mereka. Jadi anggota inti. Gua mau setiap helai napas Renggo terpantau"
Sanyo mengangguk. Gerakan lehernya terbatas karena otot yang menegang. "Siap, Bos."
Daeng berdiri. Sepatu kulitnya berbunyi saat ia berjalan mengitari Sanyo. Daeng berhenti tepat di belakang punggung Sanyo yang membungkuk.
"Mainin peran ini sepenuh hati. Lu harus jadi orang yang paling rela mati buat Renggo di mata semua orang. Tunjukin loyalitas tanpa celah." Daeng meletakkan tangan di bahu Sanyo yang gemetar. "Kalau lu berhasil masuk ke lingkaran terdalamnya, hutang nyawa lu karena udah berani nyentuh Alee, dan hutang duit yang selama ini melilit leher lu... semuanya gua anggap lunas."
Daeng mengingat detail kejadian di lahan parkir. Sanyo, dengan kaos singlet robek, memegang potongan besi beton. Ia tidak mundur saat dikepung lima orang. Sanyo menghantam tulang hidung Alee.
Sanyo terus menerjang, meski hantaman pipa besi berkali-kali mendarat di punggungnya, sampai akhirnya ia tumbang dengan wajah terbenam di aspal basah.
Daeng mengambil korek api zippo di atas meja. Api muncul, membakar ujung kretek baru. "Masuk ke sana. Jadi bayang-bayang yang paling setia."
Sanyo menatap lantai kayu. Ia melihat bayangan dirinya sendiri yang hancur. "Siap, Bos."
Satu tahun kemudian. Udara di sudut gudang yang baru saja diklaim sebagai wilayah kekuasaan Black Ribal terasa lembap dan berbau cat murah yang belum kering. Sanyo duduk di atas palet kayu, menatap barisan karung yang menumpuk di area barunya. Dua jam lalu, ia melaporkan statusnya ke Daeng melalui panggilan singkat.
Ponsel di atas meja kayu kasar bergetar. Layar menampilkan teks Private Number.
Sanyo meraih ponselnya, jari telunjuknya sedikit gemetar saat menekan ikon hijau. "Halo?"
"Selamat sudah jadi ketua wilayah Black Ribal."
Sanyo memutar leher 180 derajat, memindai sekeliling area gudang. "Siapa ini?"
"Update setiap pergerakan dia ke Daeng. Jangan sampai ada yang lu lewatkan," perintah suara itu.
Dada Sanyo naik turun. Otot punggungnya menegang. "B-Bos? Krugger?"
Hening statis selama tiga detik di ujung telepon. "Paham?"
"Siap, Bos! Saya akan jalankan!" Jawab Sanyo cepat. Pupil matanya melebar. Ia menatap dinding semen yang retak di depannya.
Di lantai dua kafe 90's, Daeng berdiri di balik kaca jendela yang besar. Ia menatap kerumunan pelanggan di bawah yang sedang menyesap kopi di bawah lampu kuning redup. Daeng menempelkan ponsel ke telinga kiri.
"Dia bisa diandalkan?" Suara Krugger terdengar di speaker ponsel Daeng.
"Gue jaminannya, Bos," jawab Daeng datar. Matanya tidak berkedip saat melihat seorang pelayan mengantarkan pesanan. "Anak itu tahu rasanya mati, jadi dia bakal kerja keras buat tetap hidup."
"Seyakin itu?"
"Walaupun dia bakal mainin perannya sepenuh hati, tapi dia nggak akan berani ngecewain lu. Loyalitasnya cuma buat satu orang. Orang itu lu," ujar Daeng.
"Bagus. Karena bukan cuma dia yang punya peran di panggung itu."
Daeng menggeser sedikit posisinya, bayangannya terpantul di kaca. "Aurell juga sudah masuk?"
"Iya," jawab Krugger singkat.
Di tempat lain, Krugger baru saja menutup jendela pesan BBM di ponselnya. Layar menampilkan baris teks terakhir dari kontak bernama Aurell.
"Status: Ketua Wilayah Black Ribal. Terkonfirmasi."
Krugger menarik sudut bibirnya.
Empat bulan kemudian. Udara malam di Tangerang Selatan berat dan berdebu. Sanyo berdiri di belakang gudang beras. Ia menggenggam ponsel, menekan perangkat keras itu ke telinga kanannya. Di luar, lampu jalanan temaram menyinari aspal jalanan.
"Dia resmi join The Hydra, Bos," lapor Sanyo. Suaranya rendah, bergetar di pita suara.