TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #71

69. GUE PULANG

Asap mesiu yang menggantung di bawah plafon mulai mendingin. Bau apek gabah tertutup aroma anyir, keluar dari cairan merah kental yang menggenang di sela-sela lantai. Lampu sorot kepolisian yang terpasang di atas truk taktis membedah kegelapan gudang, memancarkan cahaya putih keperakan yang statis.

Garis polisi berwarna kuning melintang kencang, membelah tumpukan karung beras yang penuh lubang peluru. Butiran beras putih dan narkoba berserakan di atas lantai, bercampur dengan selongsong peluru kuningan yang masih menyisakan panas tipis.

Gilang berdiri di tengah area terbuka. Jaket taktisnya sobek di bagian lengan kiri, balutan perban putih perlahan berubah warna menjadi merah di bagian tengah. Napasnya teratur namun berat, uap tipis keluar dari sela-sela masker hitam yang ia tarik ke bawah dagu.

Di radius lima meter dari posisinya, petugas forensik berpakaian putih steril bergerak tanpa suara. Cahaya blitz kamera menyambar bergantian, membekukan detail maut di atas sensor digital.

Dua belas kantong jenazah oranye berjajar lurus di dekat pintu keluar. Resletingnya tertutup rapat, menyembunyikan wajah anggota timnya yang beberapa jam lalu masih memeriksa magazin bersama Gilang. Di sisi seberang, jasad anggota Black Ribal dibiarkan terbuka. Sammy tergeletak dengan mata menatap plafon, Ambon tersungkur dengan tangan masih mencengkeram pecahan kaca, sementara Jek dan Bores berdampingan di dekat pilar beton dengan luka tembak yang merobek dada mereka.

Gilang menatap jajaran kantong oranye tanpa berkedip. Jari tangan kanannya meremas perlahan kain perban di lengan kirinya, menekan luka yang masih berdenyut. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang jenuh aroma belerang dan debu semen.

Samar-samar, suara sirene ambulans yang menjauh mulai digantikan oleh deru mesin mobil tahanan di luar area gudang. Gilang memutar tubuhnya perlahan, memunggungi deretan mayat, lalu melangkah menuju pintu besi yang menuju ke sel sementara di belakang truk taktis.

"Jadi, ini si Renggo?"

Suara berat Pak Nano memecah kesunyian di tengah area steril. Sepatu bot kulitnya yang mengkilap menginjak genangan air sisa semprotan pemadam kebakaran, menciptakan riak kecil di permukaan yang berminyak. Pak Nano membungkuk, ujung jarinya menyibak sedikit kain putih yang menutupi sesosok mayat berambut gondrong di lantai.

Sebuah lubang hitam kecil bersarang tepat di tengah kening mayat itu. Sisa bubuk mesiu membentuk lingkaran abu-abu di sekitar luka tembak jarak dekat.

"Iya, Pak. Dia tewas di ruangan pribadinya," suara Gilang datar.

Pak Nano menegakkan punggung, melepaskan kain putih, kembali menutupi wajah kaku di bawahnya. "Harusnya kamu bisa nangkep dia hidup-hidup, Lang. Ini kasus besar. Kita butuh informasinya." Pak Nano mengembuskan napas panjang, bahunya naik-turun.

Gilang menoleh perlahan. Sudut matanya merah, urat-urat halus di bola matanya pecah membentuk jaringan kemerahan. Ia menatap lurus ke arah kancing seragam Pak Nano.

"Dia melawan saat saya coba tangkap, Pak. Dia menyerang saya. Terpaksa saya harus menembak dia. Dia nekat."

Pak Nano terdiam sejenak, memindai wajah Gilang. "Yah, setidaknya kamu bisa menumpas mereka. Operasi ini sukses memenggal empat Kepala Hydra dalam satu malam."

Pak Nano mengalihkan pandangannya ke arah pintu samping. Petugas menggiring Irish dan Vermouth dengan tangan terborgol ke belakang. Mayat Brandy baru saja dievakuasi dari ruang dokumen dalam kantong jenazah yang berbeda.

Pak Nano menepuk bahu Gilang. "Kamu pahlawan, Gilang. Pahlawan negara."

"Dibayar dua belas anggota saya, Pak," potong Gilang. Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat. "Ini bukan kemenangan."

"Jasa mereka akan selalu dikenang. Istirahatlah. Pergi ke tempat yang tenang," Pak Nano memutar tubuh, berjalan menjauh menuju kerumunan wartawan yang mulai berkumpul di balik garis polisi di luar gudang.

Gilang tetap berdiri di samping mayat berambut gondrong. Setelah langkah kaki Pak Nano tidak lagi terdengar, ia meraba saku celananya yang kaku karena debu dan darah kering. Ia menarik keluar ponsel.

Jari telunjuk Gilang bergetar, ia menggeser daftar kontak, melewati puluhan nama, hingga berhenti di nama Chacha.

Ia menatap nama adiknya selama sepuluh detik tanpa berkedip. Jemarinya ragu di atas ikon telepon. Di latar belakang, suara blitz kamera forensik terus menyambar-nyambar jajaran mayat di lantai.

Gilang menekan ikon telepon. Suara nada sambung bergetar di sela deru mesin diesel truk taktis di belakangnya.

"Kamu di mana? Ada yang harus kita omongin. Ini penting," ucap Gilang. Suaranya serak.

"Kak Gilang?! Suara Kakak kenapa? Ada apa?" Suara Chacha naik satu oktav, menembus speaker ponsel. Suara bising musik latar samar-samar terdengar dari ujung telepon.

"Di mana?" Gilang memejamkan mata, menahan denyut panas yang menjalar dari luka di lengannya menuju pangkal leher.

"Chacha lagi di Bogor, Kak. Ada urusan. Mungkin besok subuh baru pulang."

Gilang membuka matanya. Ia menatap ke arah gundukan mayat di depannya yang mulai ditutup kain kafan plastik. "Malam ini kamu pulang. Kakak tunggu."

Klik.

Gilang menurunkan ponsel dari telinganya sebelum Chacha sempat membalas. Ia menatap layar yang kini gelap, memantulkan bayangan wajahnya yang penuh jelaga hitam. Ia memasukkan ponsel ke saku celana kargo yang kaku oleh darah kering.

Lihat selengkapnya