Langit di atas area pemakaman berwarna abu-abu pucat, jenuh oleh awan mendung. Tanah merah di bawah kaki para pelayat masih lembap, menyisakan aroma tanah basah yang tajam. Jenazah Aurell baru menyentuh dasar liang lahat setelah tertunda dua hari akibat prosedur autopsi di RS Polri dan verifikasi administrasi di markas besar. Birokrasi kaku baru melunak setelah mobil dinas Pak Nano terlihat terparkir di depan ruang jenazah kemarin sore.
Aura duduk di kursi lipat plastik, tubuhnya dibalut gamis hitam longgar. Kepalanya terkulai ke samping, ditopang oleh seorang kerabat. Matanya menatap lurus ke arah taburan bunga mawar yang mulai menutup gundukan tanah. Tidak ada suara isak tangis yang keluar, hanya napas yang pendek dan putus-putus.
Gilang berdiri sepuluh meter dari pusat kerumunan, di bawah naungan pohon kamboja tua. Bayangan dahan pohon itu menyapu wajahnya, menyembunyikan guratan kelelahan di bawah matanya yang cekung. Setelan kemeja hitamnya yang kaku kontras dengan perban putih yang masih melilit tebal di lengan kiri, menyembul sedikit dari balik manset baju.
Tangannya menggantung kaku di samping paha. Matanya tidak berkedip, terpaku pada nisan kayu sederhana yang baru saja ditancapkan di ujung gundukan.
"Lo nggak ikut ke sana, Lang?"
Suara itu datang dari arah belakang, memecah kesunyian di bawah pohon kamboja. Noval melangkah pelan di atas rumput yang basah oleh embun pagi, diikuti Chacha yang berjalan dengan kepala tertunduk. Sepatu pantofel Noval berdecit halus saat berhenti tepat di samping Gilang.
Gilang tidak menoleh. Rahangnya mengeras. "Jarak ini udah cukup. Gue nggak ada muka buat ketemu mereka. Terutama Aura."
Noval berdiri di samping Gilang, matanya menyipit mengamati prosesi pemakaman Aurell. "Dan Rizal... Lo lebih pilih buat matiin dia," ujar Noval datar.
Gilang mengepalkan tangan kanannya. "Gue nggak punya pilihan lain, Nov. Di gudang itu, yang gua hadepin bukan Rizal teman kita. Yang gue hadepin itu Renggo, kepala Hydra. Dia nyerang, dan gua harus bertahan. Itu protokol."
"Protokol ya?" Noval tersenyum getir. "Udah ngabarin orang tuanya tentang identitas asli mereka?"
"Udah." Gilang menarik napas panjang, rongga dadanya naik-turun cepat. "Mereka langsung minta gua buat nunjukkin mayatnya di RS Polri."
"Lo ajak mereka ke sana?"
"Iya, ditemani Chacha. Dan mereka cuma minta satu hal dari gue." Gilang memutar tubuhnya perlahan, menatap Noval. "Mereka minta untuk jaga rahasia ini. Mereka mau dia dikuburin secara tertutup."
Noval mengerutkan dahi. "Kenapa harus dirahasiakan?"
Gilang melirik ke arah Chacha. Gadis itu menunduk, memainkan ujung jilbab hitamnya.
"Biar gimana pun, Kak Rizal adalah anak mereka, dan Aurell adalah darah daging Kak Aura," suara Chacha rendah, nyaris tenggelam oleh suara angin. "Mereka nggak mau sisa hidup mereka jadi bahan gunjingan tetangga atau sasaran kebencian publik. Mereka mau ngenang anak-anak mereka sebagai manusia."
Proses penguburan selesai. Aura terduduk lemas di kursi lipatnya, menatap tumpukan bunga dengan mata sembab yang statis. Gilang mematung di batas bayangan pohon kamboja. Ia mengambil setengah langkah maju, kakinya kembali berhenti. Jarinya bergetar di samping paha saat ia melihat punggung Aura yang terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan. Ia tetap di sana, membiarkan jarak sepuluh meter itu menjadi tembok permanen di antara mereka.
***
DUA MALAM SEBELUM PEMAKAMAN
Hujan menghantam atap dengan intensitas tinggi, menciptakan kebisingan di dalam rumah. Pak Rusli dan Bu Vica melangkah masuk dengan napas memburu, sepatu mereka meninggalkan jejak air di lantai ruang tamu. Bi Sarti berdiri di ambang pintu kamar, jemarinya meremas serbet dapur yang basah.
Pak Rusli berhenti tepat di depan pintu kamar Aura. Matanya menatap Gilang yang berdiri kaku di samping tempat tidur. Lampu neon menyinari wajah Gilang yang pucat dan penuh jelaga.
"Kenapa Aura bisa kayak gitu?! Dan ada apa dengan Aurell?!"
Suara Pak Rusli menggelegar, memantul di dinding lorong. Ia melangkah masuk, mencengkeram kerah jaket Gilang dengan kedua tangan, menyeret Gilang keluar dari kamar, menjauh dari tubuh Aura yang terbaring di bawah selimut.